JURNALDIALEKTIKAJURNALDIALEKTIKA

Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu SosialJurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial

Istano Basa Pagaruyung, terletak di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, didirikan pada abad ke-14 oleh Adityawarman pada tahun 1347, berfungsi sebagai simbol identitas budaya dan sejarah Minangkabau selama kurang lebih 500 tahun hingga keruntuhannya pada tahun 1830-an akibat perang. Mengalami kebakaran berulang, termasuk oleh Belanda pada tahun 1804 dan sambaran petir pada tahun 2007, istana direkonstruksi pada tahun 1976 sebagai museum terbuka untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau setelah konflik PRRI, dan dikembangkan sebagai destinasi wisata warisan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi menjadi destinasi wisata warisan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pengembangannya, mengeksplorasi perannya dalam melestarikan nilai-nilai tradisional Minangkabau, dan menyelidiki dampak sosial, budaya, dan ekonomi terhadap masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan observasi langsung, wawancara mendalam dengan informan Bapak Yose, penelitian dokumentasi, dan literatur dari sumber online, serta analisis deskriptif untuk menggambarkan transformasi dengan etika menghormati adat istiadat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Istano Basa Pagaruyung berevolusi dari pusat pemerintahan Rajo Tigo Selo menjadi museum replika (1976) setelah kebakaran. Sementara itu, strategi pengembangan Kantor Pariwisata Tanah Datar mencakup promosi online dan offline. Meskipun tantangan utama adalah anggaran daerah (APBD) yang terbatas, dampak positif termasuk pelestarian budaya melalui pendidikan, mendorong perekonomian lokal melalui perdagangan bebas dan kunjungan wisatawan, serta memperkuat identitas Minangkabau.

Istano Basa Pagaruyung berasal dari Kerajaan Pagaruyung yang didirikan oleh Adityawarman sebagai kelanjutan dari Kerajaan Malayu pada abad ke-14 (sekitar tahun 1347) dan mengalami perkembangan besar sebagai pusat kekuatan politik, adat istiadat, dan keagamaan (berdasarkan Rajo Tigo Selo dan filosofi basandi syarak, syarak basandi Kitabullah) hingga berakhir pada tahun 1830-an akibat Perang Padri dan kolonialisme Belanda.Istana asli di Bukit Patah Hill berulang kali hancur, termasuk terbakar oleh Belanda pada tahun 1804, terbakar oleh sambaran petir pada tahun 1966, dan terbakar oleh sambaran petir pada tahun 2007.Untuk mempersatukan masyarakat Minangkabau setelah konflik PRRI, Gubernur Harun Zain membangun replika pada tahun 1976.Istana tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi saat ini di Batusangkar, Tanah Datar, sebagai museum terbuka, tempat pendidikan, dan simbol identitas etnis, bukan untuk menghidupkan kembali kerajaan.Secara arsitektur, replika tersebut, dibangun kembali pada tahun 2008, mempertahankan elemen arsitektur aslinya, seperti tiga lantai, 72 pilar fleksibel yang tahan gempa yang mencerminkan Alam Takambang Jadi Guru (Guru dari Alam), sebelas gonjong (rumah tradisional), 58 motif ukiran, dan ruang fungsional yang terdiri dari singgasana, kolam perempuan, paviliun, dapur terpisah, dan tujuh air mancur.Istano Basa Pagaruyung mendukung otonomi daerah, kebanggaan identitas, dan pertumbuhan ekonomi kreatif, dengan rekomendasi pengelolaan yang cermat untuk menjaga kebenaran, keberlanjutan, dan partisipasi masyarakat jangka panjang.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan untuk memperdalam pemahaman tentang transformasi Istano Basa Pagaruyung dan dampaknya. Pertama, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata warisan dapat ditingkatkan, dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai budaya. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pengembangan produk wisata, dan pemasaran. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis dampak sosial-budaya dari pariwisata warisan terhadap generasi muda Minangkabau, khususnya dalam hal pemahaman dan apresiasi terhadap nilai-nilai tradisional. Penelitian ini dapat menggunakan metode kualitatif untuk menggali persepsi dan pengalaman generasi muda terhadap Istano Basa Pagaruyung sebagai simbol identitas budaya. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk mengembangkan model pengelolaan pariwisata berkelanjutan di Istano Basa Pagaruyung, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Model ini dapat mencakup strategi untuk mengurangi dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, dan memastikan keberlanjutan sumber daya budaya. Ketiga saran ini saling terkait dan dapat diimplementasikan secara bersamaan untuk menciptakan destinasi pariwisata warisan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Minangkabau.

Read online
File size291.38 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test