UINFASBENGKULUUINFASBENGKULU

Madania: Jurnal Kajian KeislamanMadania: Jurnal Kajian Keislaman

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara pemaafan dan kedamaian batin, serta mengeksplorasi perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan tempat tinggal terhadap kedua konstruk tersebut pada mahasiswa Muslim dewasa awal di Indonesia. Menggunakan survei potong lintang, data dikumpulkan dari 438 mahasiswa (90 laki-laki, 348 perempuan) yang dipilih secara acak dari 17 universitas di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Skala Kedamaian Batin terdiri dari 19 butir valid (α = 0,764), sementara pemaafan diukur menggunakan adaptasi TRIM-18 (α = 0,723). Data dianalisis menggunakan Spearmans rho, Mann–Whitney U, Kruskal–Wallis, dan Dunn. Ditemukan korelasi positif signifikan antara pemaafan dan kedamaian batin (ρ = 0,326, p < 0,001). Perbedaan gender terlihat pada beberapa dimensi kedamaian batin—Acceptance of Loss, Inner Balance and Calmness, dan total Inner Peace—serta pada pemaafan, khususnya pada Avoidance Motivation dan total skor pemaafan. Perbedaan berbasis tempat tinggal juga terdeteksi; analisis Kruskal–Wallis menunjukkan perbedaan signifikan pada Avoidance dan Benevolence Motivation. Mahasiswa dari daerah pegunungan memiliki motivasi penghindaran yang lebih rendah dibandingkan daerah pesisir, sementara penduduk dataran tinggi menunjukkan motivasi kebaikan yang lebih tinggi dibandingkan penduduk dataran rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa gender dan lingkungan geografis secara signifikan memengaruhi kesejahteraan emosional dan spiritual mahasiswa, menekankan pentingnya mempromosikan kedamaian batin dan pemaafan dalam konteks pendidikan tinggi.

Kesimpulannya, penelitian ini menyoroti adanya hubungan signifikan antara pemaafan dan kedamaian batin, menunjukkan bahwa pemaafan merupakan strategi coping yang efektif untuk meningkatkan stabilitas emosional, kejelasan kognitif, dan pertumbuhan spiritual pada mahasiswa Muslim, khususnya dalam menghadapi tantangan akademik dan pengembangan pribadi.Selain itu, penelitian menekankan pengaruh tempat tinggal, dimana faktor sosio‑ekologis memengaruhi perilaku pemaafan, sehingga integrasi pendekatan berbasis pemaafan dalam konseling pendidikan dapat meningkatkan kesejahteraan emosional mahasiswa, terutama dalam populasi yang berbudaya dan religius.Namun, keterbatasan desain cross‑sectional dan penggunaan instrumen self‑report menuntut penelitian lanjutan dengan desain longitudinal serta variabel tambahan seperti usia, tingkat pendidikan, dan latar belakang religius untuk memperdalam pemahaman dan mengembangkan intervensi yang lebih tepat.

Penelitian lanjutan sebaiknya menggunakan desain longitudinal untuk menelusuri secara sebab‑akibat hubungan antara pemaafan dan kedamaian batin pada mahasiswa Muslim, sehingga dapat mengidentifikasi dinamika perubahan seiring waktu. Selanjutnya, perlu ditambahkan pengukuran objektif seperti data fisiologis (misalnya, variabilitas detak jantung) dan observasi perilaku untuk melengkapi kuesioner self‑report, guna meningkatkan validitas hasil mengenai proses pemaafan dan kedamaian batin. Akhirnya, penelitian dapat memperluas variabel yang diteliti dengan memasukkan faktor usia, tingkat pendidikan, intensitas keagamaan, serta memperluas sampel ke mahasiswa non‑Muslim dan wilayah lain di Indonesia, menggunakan pendekatan campuran kualitatif‑kuantitatif untuk menggali mekanisme kontekstual yang lebih mendalam.

  1. Roots of Forgiveness and Inner Peace: Exploring Gender and Geographical Identity among Muslim University... doi.org/10.29300/madania.v29i1.7921Roots of Forgiveness and Inner Peace Exploring Gender and Geographical Identity among Muslim University doi 10 29300 madania v29i1 7921
Read online
File size414.33 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test