STT GKESTT GKE

Jurnal Teologi PambelumJurnal Teologi Pambelum

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan Pak Ogah sebagai salah satu fenomena sosial masyarakat kota. Penelitian kualitatif deskriptif ini menyuguhkan data hasil wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasilnya menunjukkan bahwa warga masyarakat yang mengatur lalu lintas di belokan dan di persimpangan jalan tanpa lampu merah disebut sebagai Pak Ogah. Fenomena Pak Ogah dapat dipahami sebagai pilihan rasional dari masyarakat miskin untuk bertahan hidup. Ia merupakan simbol masyarakat marginal yang harus rela dilabelkan sebagai pekerja ilegal karena bertentangan dengan hukum lalu lintas angkutan jalan. Membangun relasi dengan polisi, mengampanyekan Pak Ogah sebagi pekerjaan mulia karena membantu orang, dan memastikan perilaku baik merupakan strategi eksistensi agar tetap bisa mengais nasib di tengah hiruk pikuk masyarakat kota. Pada akhirnya tulisan ini merekomendasikan kepada pemerintah dan gereja untuk melakukan edukasi dan sosialisasi serta pemberdayaan ekonomi Pak Ogah.

Pak Ogah merupakan representasi dari realitas sosial dan kesenjangan ekonomi dalam masyarakat perkotaan, di mana kelompok miskin melakukan pekerjaan ini sebagai pilihan rasional untuk bertahan hidup.Meskipun menyadari bahwa pekerjaan mereka bertentangan dengan hukum, mereka mengembangkan strategi eksistensi seperti menjalin hubungan baik dengan aparat dan berperilaku etis untuk memastikan kelangsungan penghidupan.Akibatnya, keberadaan Pak Ogah mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat, mulai dari pandangan negatif sebagai praktik ilegal hingga sikap prihatin terhadap kondisi ekonomi yang mereka hadapi.

Penelitian berikutnya bisa menggali lebih dalam dengan membandingkan fenomena serupa di kota lain, misalnya: apakah strategi bertahan hidup Pak Ogah di Banjarmasin sama dengan yang ada di Surabaya atau Medan? Hal ini akan membantu memahami apakah masalah ini spesifik lokal atau merupakan pola umum di kota-kota besar Indonesia. Selain itu, penting juga untuk meneliti seberapa efektif program pelatihan keterampilan atau bantuan modal usaha dari pemerintah dan gereja dalam mengubah nasib mereka. Apakah program-program tersebut benar-benar mampu mengurangi ketergantungan pada pekerjaan di jalan raya atau justru hanya sementara? Terakhir, sebuah studi menarik dapat dilakukan untuk melihat bagaimana pandangan masyarakat berubah. Misalnya, bagaimana jika ada kampanye edukasi yang mengajarkan bahwa Pak Ogah adalah bagian dari solusi kemacetan, bukan masalah? Dengan meneliti perubahan sikap ini, kita bisa mengetahui cara terbaik untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan manusiawi bagi mereka yang bekerja di sektor informal, sehingga mereka tidak lagi terhormati dilekatkan pada pekerjaan berisiko. Ketiga arah penelitian ini tidak hanya menguraikan akar masalah, tetapi juga mencari model solusi yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

  1. Pak Ogah and the Reality of Marginalization: A Socio-Theological Study of Urban Banjarmasin | Jurnal... doi.org/10.59002/jtp.v5i1.158Pak Ogah and the Reality of Marginalization A Socio Theological Study of Urban Banjarmasin Jurnal doi 10 59002 jtp v5i1 158
  1. #warga masyarakat#warga masyarakat
  2. #realitas sosial masyarakat#realitas sosial masyarakat
Read online
File size325.23 KB
Pages18
Short Linkhttps://juris.id/p-2hr
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test