ARIPAFIARIPAFI

Jurnal Budi Pekerti Agama IslamJurnal Budi Pekerti Agama Islam

Fenomena senyum palsu (fake smile) semakin menonjol di era digital, terutama melalui media sosial. Ekspresi ini kerap dipakai untuk menutupi kondisi batin yang sesungguhnya, seperti kesedihan, tekanan psikologis, maupun kelelahan emosional. Penelitian ini berupaya mengkaji bagaimana hadis Nabi Muhammad SAW memandang fenomena tersebut dalam kaitannya dengan kejujuran, akhlak, serta keseimbangan emosional. Pertanyaan yang diajukan mencakup: (1) apakah hadis mendorong ketulusan dalam senyum sebagai bentuk ibadah; (2) bagaimana posisi senyum palsu ditinjau dari etika Islam; dan (3) sejauh mana hadis dapat memberikan jawaban bagi persoalan ini pada konteks kekinian. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dengan analisis tematik hadis (mawḍūī). Sumber primer berasal dari kitab hadis otoritatif, sedangkan sumber sekunder mencakup tafsir, syarah hadis, dan literatur psikologi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyum dipandang sebagai ibadah bernilai sedekah yang mensyaratkan keikhlasan. Senyum palsu yang dimaksudkan menjaga keharmonisan sosial masih dapat bernilai positif, namun ekspresi yang digunakan untuk manipulasi atau menutupi kebencian bertentangan dengan prinsip kejujuran (ṣidq) dan dekat dengan sifat nifaq. Rasulullah SAW menampilkan keseimbangan emosional dalam ekspresi, menegaskan pentingnya ketulusan dalam interaksi sosial.

Senyum dalam Islam diposisikan sebagai amal ibadah yang harus tulus.fake smile bisa bernilai positif bila untuk keharmonisan, namun bermasalah bila untuk manipulasi.Rasulullah mencontohkan keseimbangan emosional wajah yang jujur memperkuat kesehatan mental dan ukhuwah sosial.

Bagaimana jika riset berikutnya menelusuri model intervensi religius berbasis hadis untuk mengurangi kelelahan emosional pegawai layanan publik yang terpaksa menampilkan senyum palsu selama bertahun-tahun? Selanjutnya, dapat pula dirancang kuesioner kejujuran emosional versi Islam yang valid secara psikometrik guna menakar tingkat keselarasan hati dan wajah peserta kajian, sehingga menghasilkan skala Sidq al-Iḥsās sebagai instrumen pengukuran baru. Terakhir, menguji eksperimen kecil di kampus: kelompok mahasiswa diberi modul dzikir, latihan tafakur, dan role-play ekspresif hadis selama delapan minggu, lalu diukur penurunan stres serta peningkatan senyum spontan melalui foto wajah dan curhat harian; hasilnya dapat menjadi pilot program kesehatan mental berbasis sunah yang mudah direplikasi di masjid-masjid atau lembaga pendidikan.

  1. Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam meningkatkan Budaya Organisasi Produktif di Madrasah Tsanawiyah Swasta... doi.org/10.61132/jbpai.v3i4.1406Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam meningkatkan Budaya Organisasi Produktif di Madrasah Tsanawiyah Swasta doi 10 61132 jbpai v3i4 1406
  1. #pendidikan agama#pendidikan agama
  2. #peserta didik#peserta didik
Read online
File size603.14 KB
Pages12
Short Linkhttps://juris.id/p-2gg
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test