GUBUGJOURNALGUBUGJOURNAL

El Muntashir: Journal of Quranic StudiesEl Muntashir: Journal of Quranic Studies

Media sosial sebagai ruang interaksi digital modern menciptakan tantangan baru dalam mengelola emosi, seperti munculnya kemarahan, kecemasan, serta dorongan balas dendam akibat anonimitas, viralitas, dan budaya cancel. Namun, belum banyak penelitian yang menghubungkan fenomena ini dengan pendekatan spiritual Islam dan teori psikologi resiliensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh karakteristik media sosial terhadap kebutuhan regulasi emosi dalam perspektif QS. Ali Imran: 134 serta teori resiliensi Karen Reivich & Andrew Shatté. Metode penelitiannya adalah studi literatur kualitatif dengan pendekatan penafsiran tematik dan psikologi resiliensi. Hasil menunjukkan ayat tersebut memberikan panduan strategis mengendalikan emosi melalui menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik. Nilai-nilai ini sejalan dengan pilar resiliensi seperti regulasi emosi, kendali impuls, analisis kausal, dan optimisme realistis. Integrasi keduanya menghadirkan kerangka regulasi emosi spiritual-psikologis yang relevan menangani stres emosional di media sosial secara sehat dan produktif.

Ali Imran ayat 134 menekankan tiga ciri utama orang bertakwa.menahan amarah, memaafkan kesalahan, dan berbuat kebaikan.Ketiga sifat itu menunjukkan bahwa pengelolaan emosi dalam Islam merupakan bentuk ibadah dan ketakwaan.Integrasi nilai-nilai tersebut dengan tujuh keterampilan resiliensi Reivich & Shatté menghadirkan kerangka regulasi emosi yang utuh, menggabungkan dimensi spiritual dan psikologis untuk membangun ketahanan emosional generasi muda Muslim di media sosial.

Bisakah penelitian berikutnya merancang program daring interaktif yang menggabungkan latihan psikologi resiliensi dengan tadarus ayat-ayat ketenangan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menghadapi ujaran kebencian? Selanjutnya, bagaimana jika penelitian longitudinal mengukur efek meditasi dzikir berbasis aplikasi seluler dibandingkan teknik mindfulness umum dalam menurunkan aktivasi otak saat membalas komentar provokatif? Terakhir, apakah memungkinkan merumuskan indeks literasi emosi Islami yang dapat dijadikan instrumen skrining awal kerentanan emosi remaja di media sosial, sehingga layanan konseling keagamaan bisa lebih tepat sasaran?.

  1. “Cultural Racism”: Biology and Culture in Racist Thought - Blum - 2023 - Journal... doi.org/10.1111/josp.12370yAAAuCultural RacismyAAAy Biology and Culture in Racist Thought Blum 2023 Journal doi 10 1111 josp 12370
  2. The Online Disinhibition Effect | CyberPsychology & Behavior. effect behavior account openathens... doi.org/10.1089/1094931041291295The Online Disinhibition Effect CyberPsychology Behavior effect behavior account openathens doi 10 1089 1094931041291295
  3. What Makes Online Content Viral? - Jonah Berger, Katherine L. Milkman, 2012. makes content viral jonah... doi.org/10.1509/jmr.10.0353What Makes Online Content Viral Jonah Berger Katherine L Milkman 2012 makes content viral jonah doi 10 1509 jmr 10 0353
  1. #regulasi emosi#regulasi emosi
  2. #emosi remaja#emosi remaja
Read online
File size236.05 KB
Pages13
Short Linkhttps://juris.id/p-25q
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test