UIN WALISONGOUIN WALISONGO

Psikohumaniora: Jurnal Penelitian PsikologiPsikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi

Non-suicidal self-injury (NSSI) adalah masalah kesehatan mental yang umum di kalangan remaja, dengan kesulitan dalam regulasi emosional diidentifikasi sebagai prediktor signifikan dari perilaku tersebut. Serangkaian keterampilan neurokognitif yang dikenal sebagai fungsi eksekutif (EF) juga terkait dengan NSSI. Penelitian ini menginvestigasi hubungan antara masalah fungsi eksekutif dan perilaku NSSI, secara eksplisit menguji peran mediasi dari disregulasi emosional. Partisipan dipilih menggunakan teknik non-probability purposive sampling, dengan sampel akhir terdiri dari 211 remaja Indonesia berusia antara 12 dan 18 tahun (M = 14.57, SD = 1.42). Instrumen pengukuran meliputi Teenage Executive Function Inventory (TEXI), Cognitive Flexibility Scale (CFS), Difficulties in Emotion Regulation Scale Short Form (DERS-SF), dan Deliberate Self-Harm Inventory (DSHI). Analisis mediasi menggunakan PROCESS macro untuk SPSS (model 4), mengungkapkan bahwa disregulasi emosi secara signifikan memediasi hubungan antara masalah EF dan NSSI. Efek tidak langsung dari masalah EF dan NSSI melalui disregulasi emosi adalah signifikan secara statistik (B = 0.203, 95% CI [0.0805, 0.3741]). Remaja dengan EF yang lebih rendah lebih rentan terhadap kesulitan emosional, sehingga meningkatkan risiko NSSI. Studi ini memberikan implikasi yang membantu menjelaskan dinamika fenomena NSSI di kalangan remaja. Lebih lanjut, temuan ini menyoroti perlunya intervensi yang menargetkan keterampilan kognitif dan regulasi emosional untuk mengurangi NSSI pada remaja dan meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa disregulasi emosi berperan sebagai mediator signifikan dalam hubungan antara masalah fungsi eksekutif dan perilaku NSSI pada remaja.Secara spesifik, individu dengan kemampuan neurokognitif yang terganggu cenderung mengalami kesulitan dalam regulasi emosional, yang kemudian meningkatkan kerentanan mereka terhadap NSSI.Peran mediasi disregulasi emosi menyoroti mekanisme kritis di mana defisit dalam fungsi eksekutif terkait dengan perilaku NSSI.Studi ini memberikan fondasi teoretis untuk mengembangkan strategi intervensi yang menargetkan baik fungsi eksekutif maupun regulasi emosi, yang berpotensi menjadi pendekatan yang menjanjikan untuk mengurangi risiko NSSI.

Penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam mengenai efektivitas intervensi yang berfokus pada peningkatan fungsi eksekutif dan regulasi emosi secara bersamaan, terutama dalam konteks pencegahan NSSI pada remaja. Studi dapat dirancang untuk membandingkan efektivitas berbagai jenis intervensi, seperti pelatihan kognitif, terapi perilaku dialektis, atau program mindfulness, dalam mengurangi perilaku NSSI dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Selain itu, penting untuk meneliti bagaimana faktor-faktor seperti pola asuh orang tua, dukungan sosial, dan paparan media sosial memengaruhi hubungan antara fungsi eksekutif, regulasi emosi, dan NSSI. Apakah ada perbedaan signifikan dalam mekanisme ini antara remaja di perkotaan dan pedesaan, atau antar kelompok sosioekonomi yang berbeda? Dengan memahami peran konteks sosial dan budaya, intervensi yang lebih tepat sasaran dan efektif dapat dikembangkan.

  1. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi. pathway linking executive function problems suicidal self... doi.org/10.21580/pjpp.v10i1.23353Psikohumaniora Jurnal Penelitian Psikologi pathway linking executive function problems suicidal self doi 10 21580 pjpp v10i1 23353
  1. #ahmad dahlan#ahmad dahlan
  2. #mental remaja#mental remaja
Read online
File size613.14 KB
Pages16
Short Linkhttps://juris.id/p-Wq
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test