UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Tradisi Malakok, yang dikenal secara lokal sebagai Mangaku Induak, merupakan mekanisme kekerabatan adat yang memungkinkan individu diintegrasikan ke dalam struktur sosial dan genealogis masyarakat Minangkabau. Selain berfungsi membentuk ikatan dan pengakuan kekerabatan, Malakok juga menyediakan ruang sosial untuk mengelola perbedaan dan membangun relasi antaragama. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses pelaksanaan Malakok serta menganalisis perannya dalam membangun penerimaan sosial, solidaritas kekerabatan, dan toleransi antaragama di Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan pelaku Malakok lintas agama, niniak mamak, pemangku adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat setempat. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Malakok dilaksanakan melalui musyawarah keluarga, persetujuan niniak mamak, dan prosesi adat yang memberikan legitimasi formal terhadap penerimaan individu ke dalam jaringan kekerabatan Minangkabau. Lebih jauh, praktik ini memungkinkan perluasan ikatan kekerabatan melampaui batas agama, sehingga individu Kristen dan Katolik dapat diterima sebagai bagian dari keluarga adat tanpa harus mengubah identitas keagamaannya. Toleransi antaragama kemudian diwujudkan melalui hubungan kekeluargaan, partisipasi dalam kegiatan sosial, saling membantu, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa Malakok tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme integrasi adat, tetapi juga sebagai institusi lokal yang memungkinkan negosiasi perbedaan agama, memperkuat kohesi sosial, dan menopang kehidupan antaragama dalam masyarakat plural.

Malakok berperan sebagai mekanisme integrasi sosial yang memperkuat hubungan antaragama di masyarakat Minangkabau.Praktik ini memungkinkan individu non-Muslim diakui dalam struktur kekerabatan adat tanpa menghilangkan identitas keagamaannya.Studi ini menunjukkan bahwa Malakok tidak hanya menguatkan kohesi sosial, tetapi juga menjadi sarana dialog antaragama yang berkelanjutan.

Penelitian lanjutan dapat membandingkan praktik Malakok di wilayah Minangkabau yang berbeda untuk memahami variasi budaya lokal. Selain itu, perlu dikaji dampak jangka panjang Malakok terhadap dinamika hubungan antaragama dalam masyarakat plural. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi bagaimana Malakok berinteraksi dengan praktik budaya lain untuk memperkuat toleransi antaragama.

  1. Tradisi Mangaku Induak dalam Perkawinan di Nagari Lubuk Malako Kecamatan Sangir Jujuan Kabupaten Solok... jce.ppj.unp.ac.id/index.php/jce/article/view/517Tradisi Mangaku Induak dalam Perkawinan di Nagari Lubuk Malako Kecamatan Sangir Jujuan Kabupaten Solok jce ppj unp ac index php jce article view 517
  2. Malakok: A Model of Ethnic Relations Between Nias and Minangkabau People in Padang City and Padang Pariaman... gemaperencana.id/index.php/JIGP/article/view/163Malakok A Model of Ethnic Relations Between Nias and Minangkabau People in Padang City and Padang Pariaman gemaperencana index php JIGP article view 163
  3. TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA MASYARAKAT PERUMAHAN | Faridah | Komunitas. toleransi antarumat beragama... journal.unnes.ac.id/nju/komunitas/article/view/2368TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA MASYARAKAT PERUMAHAN Faridah Komunitas toleransi antarumat beragama journal unnes ac nju komunitas article view 2368
  4. Navigating Diversity: Exploring Religious Pluralism and Social Harmony in Indonesian Society | European... eu-opensci.org/index.php/theology/article/view/6125Navigating Diversity Exploring Religious Pluralism and Social Harmony in Indonesian Society European eu opensci index php theology article view 6125
Read online
File size424.45 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test