UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Penelitian ini bertujuan mengkaji pergeseran orientasi tradisi Khatam Al-Quran di Minangkabau dari ritus keagamaan menuju seremoni sosial yang bersifat performatif, serta menelaah kemungkinan revitalisasinya melalui perspektif tafsir sosial. Berakar pada falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Khatam Al-Quran pada mulanya berfungsi sebagai penanda religius atas selesainya pembelajaran membaca Al-Quran sekaligus sarana internalisasi nilai-nilai keislaman. Dalam praktik kontemporer, tradisi ini semakin bergeser menjadi ajang representasi prestise sosial—sering kali dikritik dengan istilah Katam Ayam—yang memunculkan kekhawatiran atas menurunnya dimensi spiritual dalam ritual komunal. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dan pendekatan Tafsir Adabi Ijtimai, artikel ini menempatkan Khatam Al-Quran dalam perdebatan yang lebih luas mengenai ketegangan antara spiritualitas dan performativitas budaya dalam masyarakat Muslim. Analisis menunjukkan bahwa tradisi ini merefleksikan sekaligus kesinambungan dan keterputusan dalam negosiasi makna keagamaan. Artikel ini berargumen bahwa upaya revitalisasi perlu mengarahkan kembali Khatam Al-Quran pada praktik tadabbur Al-Quran, sejalan dengan prinsip al-muhafazah ala al-qadimi al-shalih wal-akhḏu bil-jadīd al-aṣlaḥ, sehingga tradisi ini dapat dipulihkan sebagai wahana literasi Al-Quran, pendidikan moral, dan ketahanan budaya yang selaras dengan visi etis universal Al-Quran.

Penelitian ini menyatakan bahwa pergeseran orientasi tradisi Khatam Al-Quran dari dimensi keagamaan ke seremoni sosial mencerminkan krisis makna dalam praktik keagamaan masyarakat kontemporer.Fenomena seperti Katam Ayam di Minangkabau menggambarkan bagaimana tradisi yang awalnya berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai Al-Quran semakin berkurang menjadi pameran sosial-ekonomi.Hal ini menimbulkan tantangan serius bagi keberlanjutan tradisi Islam dalam mempertahankan keterhubungannya dengan esensi wahyu.Untuk mengatasi masalah ini, integrasi tafsir sosial melalui prinsip tadabbur seperti yang ditekankan dalam Q.29 menjadi pendekatan penting dalam revitalisasi tradisi Khatam Al-Quran.Tadabbur tidak hanya dipahami sebagai refleksi spiritual tetapi juga sebagai praxis sosial yang menghubungkan teks wahyu dengan realitas kehidupan.Dengan demikian, Khatam Al-Quran tidak hanya menjadi tanda teknis selesainya membaca Al-Quran, tetapi bertransformasi menjadi momen reflektif dan transformatif yang memperkuat otentisitas wahyu sekaligus menghadapi tantangan sosial kontemporer.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak media digital terhadap transformasi makna Khatam Al-Quran di generasi muda Minangkabau, mengingat penggunaan teknologi saat ini sering memengaruhi cara masyarakat memahami dan merayakan tradisi. Selain itu, perlu dilakukan studi komparatif tentang pendekatan revitalisasi Khatam Al-Quran di berbagai wilayah Indonesia, dengan fokus pada peran tokoh adat dan ulama dalam menjaga nilai-nilai keagamaan. Terakhir, penelitian dapat mengevaluasi efektivitas pendekatan tadabbur dalam meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai Al-Quran, khususnya dalam konteks pendidikan moral dan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Read online
File size365.88 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test