UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Artikel ini mengkaji dinamika rumit interaksi historis antara warga negara pribumi dan keturunan Tionghoa di Indonesia, dengan fokus pada dimensi ekonomi dan politik dari hubungan tersebut. Secara khusus, makalah ini menyelidiki kontribusi signifikan KH. Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, dalam memperjuangkan hak-hak warga negara Tionghoa Indonesia melalui sudut pandang kemanusiaan dan pluralisme. Dengan menggunakan metodologi kualitatif, terutama berdasarkan penelitian pustaka, penelitian ini mengungkap bahwa selama Orde Baru, kebijakan diskriminatif—terutama Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto—memberlakukan pembatasan berat terhadap praktik budaya dan keagamaan warga negara Tionghoa Indonesia. Sebaliknya, Gus Dur muncul sebagai pendukung utama demokrasi, keadilan, dan hak asasi manusia, memperjuangkan kebebasan berekspresi dan hak untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Perspektif pluralistik dan kemanusiaannya memainkan peran penting dalam membela hak-hak warga negara Tionghoa di Indonesia. Pada akhirnya, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya warisan Gus Dur dalam perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan dan hak asasi manusia dalam konteks populasi Indonesia yang beragam.

Berdasarkan tulisan artikel ini, dapat disimpulkan bahwa KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah figur penting dengan pandangan yang luas, universal, global, dan penuh wawasan.sehingga figur seperti Gus Dur juga dikenal sebagai figur Islam Neo-Modernis kosmopolitan.Dari perspektif Islam dan pemikiran Gus Dur, kita diingatkan akan kesadaran keagamaan akan hal-hal substansial yang dapat melintasi batas-batas perbedaan agama itu sendiri dan memahami substansi dari keragaman, yaitu tentang kemanusiaan.Semua penganut agama sama dalam keyakinannya bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan segala kompetensinya dan Gus Dur menekankan dan mengingatkan kita akan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri melalui tindakannya yang konkret dalam membela ketidakadilan, diskriminasi, dan kelompok tertindas tanpa memandang agama, etnis, dan ras.Pemahaman kemanusiaan menegakkan martabat, kehormatan, dan sikap saling menghormati manusia.Oleh karena itu, ideologi pluralisme Gus Dur mendorong semua orang untuk memahami dan menerima keragaman dengan hati yang terbuka, karena itu adalah kenyataan hidup yang tidak dapat disangkal, juga dikenal sebagai sunnatullah dalam Islam.Langkah-langkah kebijakan Gus Dur saat menjadi Presiden dengan mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang melarang komunitas Tionghoa beribadah dan melaksanakan tradisi budaya mereka, bukan hanya pembelaan terhadap warga negara Tionghoa Indonesia, tetapi juga pembelaan terhadap hak asasi manusia untuk kebebasan setiap orang dan kelompok, sebagaimana dinyatakan dalam konsensus HAM PBB, dan juga sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam tentang al-insaniah (kemanusiaan).

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide berikut: Pertama, menyelidiki lebih lanjut bagaimana pemikiran Gus Dur tentang kemanusiaan dan pluralisme dapat diterapkan dalam konteks sosial dan politik Indonesia saat ini, terutama dalam upaya mempromosikan kesetaraan dan toleransi. Kedua, menganalisis dampak kebijakan Gus Dur dalam membela hak-hak warga negara Tionghoa Indonesia dan bagaimana hal itu mempengaruhi hubungan antar-etnis di Indonesia. Ketiga, mengeksplorasi bagaimana pemikiran Gus Dur tentang pluralisme dapat diterapkan dalam pendidikan multikultural, dan bagaimana pendidikan tersebut dapat membantu membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis.

  1. Gus Dur's Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community... ejournal.uinbukittinggi.ac.id/fuaduna/article/view/8520Gus Durs Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community ejournal uinbukittinggi ac fuaduna article view 8520
  2. The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma | Jurnal Fuaduna : Jurnal... ejournal.uinbukittinggi.ac.id/fuaduna/article/view/8507The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok Public Services and Negative Stigma Jurnal Fuaduna Jurnal ejournal uinbukittinggi ac fuaduna article view 8507
Read online
File size283.63 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test