UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Penelitian ini mengkaji bagaimana audiens YouTube menafsirkan pesan dakwah Islam eskatologis yang disampaikan oleh Ustadz Zulkifli Muhammad Ali dalam ruang publik digital. Dengan menggunakan analisis resepsi kualitatif, penelitian ini menerapkan kerangka encoding/decoding Stuart Hall untuk mengklasifikasikan interpretasi audiens ke dalam kategori pembacaan dominan (preferred), negosiasi (negotiated), dan oposisi (oppositional). Data diperoleh dari komentar pengguna pada video YouTube berjudul “Akhir Zaman Sudah Sangat Dekat dan dianalisis secara sistematis menggunakan perangkat lunak NVivo 12 Plus. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembacaan negosiasi dan oposisi lebih dominan dibandingkan pembacaan dominan, yang mengindikasikan keterlibatan audiens yang kritis dan reflektif. Banyak respons audiens mengekspresikan sikap skeptis, satir, serta penerimaan selektif terhadap pesan eskatologis, seiring dengan upaya mereka mengontekstualisasikan dakwah dalam realitas sosial, pengetahuan keagamaan, dan persoalan kontemporer. Pola ini menunjukkan bahwa audiens dakwah digital tidak berperan sebagai penerima pasif, melainkan sebagai penafsir aktif yang terlibat dalam proses negosiasi makna. Penelitian ini berkontribusi pada kajian dakwah digital dengan menegaskan bahwa makna keagamaan di media sosial terbentuk melalui proses dialogis dan kontestatif, di mana otoritas dan penafsiran keagamaan dinegosiasikan secara terbuka dalam lingkungan media yang dimediasi platform.

Penelitian ini menemukan bahwa dakwah eskatologis di YouTube, khususnya ceramah Ustadz Zulkifli Muhammad Ali, ditafsirkan secara beragam oleh audiens, menunjukkan bahwa pesan agama di ruang digital tidak diterima secara seragam.Pembacaan negosiasi dan oposisi lebih dominan dibandingkan pembacaan dominan, merefleksikan keterlibatan kritis audiens, kehati-hatian doktrinal, serta penolakan terhadap gaya komunikasi atau klaim tertentu.Hal ini menegaskan bahwa dakwah digital berfungsi sebagai arena interpretasi yang dialogis dan kontestatif, di mana makna dan otoritas keagamaan terus dinegosiasikan melalui proses dekode aktif yang melibatkan pengetahuan agama, respons emosional, dan penalaran sosio-kultural.

Penelitian ini telah mengungkap betapa aktifnya audiens YouTube dalam menafsirkan dakwah eskatologis. Untuk memperkaya pemahaman kita, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik dan penting untuk digali. Pertama, akan sangat berharga jika studi ke depan dapat membandingkan pola resepsi audiens terhadap berbagai jenis dakwah digital. Apakah dakwah bertema eskatologi memang secara unik memicu respons negosiasi dan oposisi yang lebih tinggi, atau apakah fenomena ini juga terjadi pada dakwah dengan tema-tema lain seperti sosial, fikih, atau motivasi? Penelitian komparatif dengan melibatkan beragam penceramah dan gaya penyampaian akan membantu mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang membentuk penerimaan audiens, serta bagaimana algoritma platform mungkin memengaruhi visibilitas dan resonansi pesan-pesan tersebut. Selain itu, penting juga untuk menelusuri lebih dalam motivasi dan latar belakang sosio-demografi yang mendasari preferensi audiens terhadap pembacaan dominan, negosiasi, atau oposisi. Studi kualitatif lanjutan melalui wawancara mendalam atau survei kepada audiens akan mampu mengungkap bagaimana literasi media, tingkat pendidikan agama, dan pengalaman pribadi individu memengaruhi proses penafsiran mereka di luar apa yang terungkap dalam komentar publik. Ini akan memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang mengapa audiens tertentu cenderung skeptis atau, sebaliknya, sangat afirmasi terhadap pesan-pesan agama online. Terakhir, dengan mempertimbangkan bahwa otoritas keagamaan terus dinegosiasikan dalam ranah digital, penelitian dapat mengeksplorasi secara spesifik bagaimana fitur-fitur dan desain algoritma platform media sosial membentuk konstruksi dan kontestasi otoritas penceramah. Misalnya, bagaimana mekanisme interaksi seperti fitur suka atau bagikan pada komentar oposisi memengaruhi persepsi publik terhadap kredibilitas seorang ustadz? Investigasi ini akan menjelaskan dinamika kompleks antara teknologi platform, agensi audiens, dan lanskap kepemimpinan agama yang terus berubah di dunia maya.

  1. Reception Analysis Study on Marketing Communication Strategies in Wardah Cosmetic Advertisements ("Shampoo... doi.org/10.55927/fjss.v2i1.2978Reception Analysis Study on Marketing Communication Strategies in Wardah Cosmetic Advertisements Shampoo doi 10 55927 fjss v2i1 2978
Read online
File size4.01 MB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test