UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Penelitian ini mengkaji pembentukan historis diskursus ekoteologi di Sulawesi Selatan dengan menekankan peran kearifan lokal yang berakar pada relasi antara agama, manusia, dan alam, serta perjumpaannya dengan agama samawi. Oleh karena itu, fokus kajian ini mencakup adat dan dinamika yang menyertainya dalam konteks sejarah, termasuk pemahaman kolonial terhadap agama-agama lokal itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka, yang didukung oleh analisis sejarah untuk menelusuri konsepsi-konsepsi keagamaan mengenai relasi antara manusia dan alam. Hasil kajian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang tertanam dalam sistem kepercayaan lokal atau leluhur memainkan peran penting dalam membentuk relasi etis antara manusia dan alam, yang kemudian berinteraksi dengan kerangka teologis agama-agama samawi (seperti Kristen). Interaksi tersebut melahirkan bentuk-bentuk diskursus yang khas, yang mencerminkan kesinambungan sekaligus adaptasi keagamaan. Pada akhirnya, studi ini menegaskan bahwa ekoteologi di Sulawesi Selatan bukanlah sebuah konstruksi baru, melainkan diskursus yang berakar secara historis dan tetap relevan bagi pengembangan etika lingkungan berbasis tradisi budaya lokal.

Studi ini menyimpulkan bahwa diskursus ekoteologi di Sulawesi Selatan memiliki akar historis yang kuat dalam kearifan lokal komunitas adat, seperti Aluk to Dolo dan Patuntung, yang secara holistik memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam jauh sebelum konsep modern muncul.Nilai-nilai kosmologis, ritual, dan norma adat yang diwariskan leluhur telah membentuk etika ekologis yang menganggap alam sebagai bagian integral dari kehidupan spiritual dan sosial, menegaskan bahwa ekoteologi di wilayah ini adalah kelanjutan pandangan dunia religio-ekologis yang telah lama ada.Perjumpaan antara kearifan lokal dan agama-agama Samawi, meskipun diwarnai paradigma eksploitatif kolonialisme, menghasilkan adaptasi dan sinkretisme yang mempertahankan kesadaran ekologis, sehingga tradisi lokal menjadi landasan kontekstual dan relevan untuk mengatasi krisis ekologis secara berkelanjutan.

Berdasarkan temuan yang menggarisbawahi kuatnya akar historis ekoteologi dalam kearifan lokal Sulawesi Selatan, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat berpotensi. Pertama, studi mendalam dan komparatif antar-komunitas adat spesifik, seperti Toraja dengan Aluk to Dolo-nya dan Kajang dengan Patuntung-nya, perlu dilakukan untuk menggali nuansa prinsip dan praktik ekoteologis mereka. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana perbedaan dalam kosmologi, struktur sosial, atau hierarki keagamaan memengaruhi bentuk-bentuk kearifan lingkungan serta upaya konservasi yang diterapkan di masing-masing kelompok. Misalnya, bagaimana ritual Rambu Tuka dan Rambu Solo di Toraja secara spesifik memanifestasikan etika ekologis dibandingkan dengan Pasang ri Kajang dalam menjaga keseimbangan alam. Kedua, sangat relevan untuk mengkaji resiliensi dan adaptasi ekoteologi tradisional ini dalam menghadapi tantangan lingkungan kontemporer yang masif. Pertanyaan penelitian dapat mencakup bagaimana komunitas adat menanggapi ancaman eksploitasi sumber daya alam skala besar, perubahan iklim, atau dampak pariwisata modern. Analisis ini harus menyoroti mekanisme adaptasi yang mereka kembangkan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian etika ekologis leluhur. Ketiga, perlu dieksplorasi potensi integrasi pemahaman ekoteologi lokal ini ke dalam kerangka pendidikan formal dan informal. Bagaimana kearifan lokal dapat diajarkan kepada generasi muda atau diinternalisasikan dalam kebijakan pemerintah daerah untuk memperkuat kesadaran lingkungan dan mendukung praktik pembangunan berkelanjutan? Penelitian ini dapat mengidentifikasi metode pedagogis yang efektif atau model tata kelola yang responsif terhadap nilai-nilai ekologis tradisional, memastikan bahwa warisan budaya ini tidak hanya terlindungi tetapi juga menjadi fondasi solusi untuk krisis lingkungan di masa depan.

  1. Colonialism and Climate Crisis: The Root of Environmental Changes and the Rise of Environmental Awareness... doi.org/10.14710/ihis.v6i2.16037Colonialism and Climate Crisis The Root of Environmental Changes and the Rise of Environmental Awareness doi 10 14710 ihis v6i2 16037
  2. Ecotheology Islam: Teologi Konstruktif Atasi Krisis Lingkungan | Ulumuna. ecotheology islam teologi konstruktif... ulumuna.or.id/index.php/ujis/article/view/208Ecotheology Islam Teologi Konstruktif Atasi Krisis Lingkungan Ulumuna ecotheology islam teologi konstruktif ulumuna index php ujis article view 208
Read online
File size389.5 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test