UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Perkembangan tafsir Al-Quran di Sumatra menunjukkan kesinambungan antara periode klasik, transisional, dan modern dalam tradisi keilmuan Islam. Studi ini mengkaji tiga tokoh—Abdurrauf al-Sinkili, Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)—untuk melihat: (1) konteks biografis dan intelektual mereka; (2) latar sosial-historis lahirnya tafsir; dan (3) karakteristik utama karya mereka. Melalui penelitian kepustakaan deskriptif-analitis dengan pendekatan historis, ditemukan bahwa Abdurrauf, melalui Tafsir Tarjuman al-Mustafid (Aceh abad ke-17), menyederhanakan ajaran Al-Quran bagi masyarakat Melayu dengan corak sufistik. HAKA, melalui Tafsir al-Burhan, merespons kebutuhan pendidikan dan teologis masyarakat Minangkabau. Sementara itu, HAMKA melalui Tafsir al-Azharnya menawarkan penafsiran modern dan komprehensif terhadap dinamika sosial-politik zamannya. Secara metodologis, Abdurrauf menggunakan pendekatan ijmālī, sementara HAKA dan HAMKA menerapkan metode taḥlīlī dengan penekanan rasional dan sosial. Kontinuitas ini menunjukkan bahwa tafsir di Sumatra berkembang sebagai tradisi ilmiah sekaligus dakwah yang berinteraksi dengan pemikiran Islam global. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemahaman bahwa tafsir Nusantara bukan sekadar respons lokal, melainkan model dialogis yang memperlihatkan negosiasi diskursif antara teks, konteks, dan struktur sosial-politik, selaras dengan gagasan Islam sebagai tradisi diskursif menurut Talal Asad dan John Bowen.

Studi ini menyoroti kesinambungan tafsir Al-Quran di Sumatra melalui analisis biografi, konteks penulisan, dan karakteristik penafsiran Abdurrauf al-Sinkili, HAKA, serta HAMKA.Hasilnya menunjukkan bahwa karya-karya tafsir ini secara adaptif merefleksikan kebutuhan sosial dan agama komunitasnya, mulai dari aksesibilitas bagi audiens Melayu hingga respons terhadap dinamika reformasi dan sosial-politik pascakemerdekaan.Secara metodologis, ditemukan evolusi dari pendekatan ijmālī bercorak sufistik ke taḥlīlī yang rasional-sosial, serta integrasi matsūr dan ray yang bersifat kosmopolitan, menegaskan kekayaan tradisi penafsiran lokal dan interaksinya dengan wacana Islam global.

Penelitian ini telah berhasil menyoroti kesinambungan tradisi tafsir di Sumatra, namun masih banyak ruang untuk eksplorasi lebih lanjut guna memperkaya pemahaman kita. Pertama, studi ke depan dapat memperdalam analisis komparatif metodologis terhadap ketiga mufasir dengan fokus pada tema-tema Al-Quran tertentu, seperti penafsiran ayat-ayat tentang keadilan sosial, peran perempuan, atau etika lingkungan. Bagaimana Abdurrauf, HAKA, dan HAMKA mengartikulasikan isu-isu ini dalam konteks lokal dan global mereka, dan sejauh mana perbedaan pendekatan mereka membentuk pemahaman agama di masyarakat? Pendekatan ini akan memberikan gambaran yang lebih nuansa tentang adaptasi tafsir terhadap tantangan zaman. Kedua, menarik untuk dilakukan studi perbandingan dengan tradisi tafsir dari wilayah lain di Nusantara, seperti Jawa atau Kalimantan, untuk mengidentifikasi pola umum dan keunikan dalam proses lokalisasi dan kontekstualisasi Al-Quran di seluruh kepulauan. Hal ini dapat mengungkapkan apakah ada gaya Nusantara yang koheren atau justru keragaman regional yang signifikan. Ketiga, dengan kemajuan teknologi, penerapan metode digital humanities bisa menjadi arah baru yang menjanjikan. Analisis teks komputasional terhadap karya-karya tafsir ini dapat mengungkap pola linguistik, frekuensi penggunaan konsep kunci, atau jejaring referensi yang tidak mudah terlihat melalui studi kualitatif konvensional, sehingga menghasilkan wawasan baru mengenai evolusi diskursif tafsir dari abad ke-17 hingga ke-20. Saran-saran ini diharapkan dapat memperkuat kajian tafsir Nusantara secara holistik dan interdisipliner.

  1. Sejarah Tafsir Indonesia dalam Perspektif History of Idea | Al-I’jaz: Jurnal Studi Al-Qur’an,... jurnal.stiqsi.ac.id/index.php/AlIJaz/article/view/30Sejarah Tafsir Indonesia dalam Perspektif History of Idea Al IAojaz Jurnal Studi Al QurAoan jurnal stiqsi ac index php AlIJaz article view 30
  2. PERKEMBANGAN TAFSIR DI INDONESIA ( PRA KEMERDEKAAN 1900-1945) | Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al- Qur'an... doi.org/10.15575/al-bayan.v2i1.1806PERKEMBANGAN TAFSIR DI INDONESIA PRA KEMERDEKAAN 1900 1945 Al Bayan Jurnal Studi Ilmu Al Quran doi 10 15575 al bayan v2i1 1806
  3. TAFSIR TARJUMN AL-MUSTAFÎD KARYA ‘ABD AL-RAUF AL-FANSHURI: Diskursus Biografi, Kontestasi... doi.org/10.30821/miqot.v42i1.419TAFSIR TARJUMN AL MUSTAFyaD KARYA AoABD AL RAUF AL FANSHURI Diskursus Biografi Kontestasi doi 10 30821 miqot v42i1 419
  4. Tajdid: Jurnal Ilmu Ushuluddin. scientific cum sufistic said nursi kulliyyat rasail al nur tajdid jurnal... doi.org/10.30631/tjd.v23i2.472Tajdid Jurnal Ilmu Ushuluddin scientific cum sufistic said nursi kulliyyat rasail al nur tajdid jurnal doi 10 30631 tjd v23i2 472
Read online
File size514.61 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test