UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana wacana dialogis non-klerikal di ruang digital dapat ditransformasikan menjadi praktik spiritual sehari-hari dalam ekosistem keagamaan daring kontemporer. Dengan berfokus pada segmen “Tiga Fakir di kanal YouTube SAY Inspiratif, studi ini menyoroti celah penting dalam kajian agama digital yang selama ini lebih didominasi oleh pola dakwah satu arah dibandingkan dialog partisipatoris. Menggunakan pendekatan analisis isi tematik, penelitian ini menganalisis transkrip episode “Menjawab Pertanyaan Abadi Dalam Kehidupan yang telah dibersihkan, serta data resepsi audiens yang diperoleh dari kolom komentar YouTube. Hasil analisis mengidentifikasi lima mekanisme konversi dialog menjadi praktik, yaitu: (1) pembingkaian skema “aku satu, aku dua, aku tiga, dan aku empat sebagai kompas praktis dalam pengambilan keputusan sehari-hari; (2) tindak tutur dialogis yang menormalisasi kebingungan dan menggunakan humor untuk menurunkan hambatan partisipasi; (3) etos non-klerikal yang meningkatkan efikasi diri spiritual melalui ajakan untuk memulai dari langkah-langkah kecil; (4) performativitas naratif yang menstabilkan terminologi bersama menjadi mikro-rutinitas yang dapat diulang; dan (5) affordans platform digital yang memungkinkan berlangsungnya hermeneutika partisipatoris di antara audiens. Temuan menunjukkan bahwa komentar audiens tidak berhenti pada resonansi afektif semata, melainkan berfungsi sebagai ruang klarifikasi sejawat dan adopsi eksplisit atas praktik-praktik spiritual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dialog “Tiga Fakir beroperasi sebagai peta operasional spiritualitas digital, yang menerjemahkan kerangka kesadaran yang kompleks ke dalam disiplin-disiplin transformasional dalam kehidupan sehari-hari melalui praktik media dialogis.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa dialog “Tiga Fakir beroperasi sebagai peta operasional spiritualitas digital, yang menerjemahkan kerangka kesadaran yang kompleks ke dalam disiplin-disiplin transformasional dalam kehidupan sehari-hari melalui praktik media dialogis.Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi audiens melalui komentar tidak hanya menciptakan resonansi afektif, tetapi juga menjadi ruang untuk klarifikasi sejawat dan adopsi praktik spiritual.Pendekatan non-klerikal dan dialogis yang digunakan oleh Tiga Fakir berhasil menurunkan hambatan psikologis dalam pengambilan keputusan spiritual, menjadikannya lebih mudah diakses oleh audiens urban yang mencari makna eksistensial.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak platform media sosial lain seperti TikTok atau Instagram terhadap transformasi dialog spiritual menjadi praktik harian. Selain itu, penting untuk mengkaji peran komunitas dalam mempertahankan praktik spiritual berbasis digital, terutama dalam konteks generasi muda yang aktif secara online. Penelitian juga bisa fokus pada perbedaan respons audiens dari latar belakang demografis berbeda terhadap pendekatan non-klerikal dalam dakwah digital. Dengan memperluas wawasan ini, studi masa depan dapat mengembangkan kerangka teoritis yang lebih komprehensif tentang dinamika spiritualitas digital dalam masyarakat modern.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037//0022-006x.70.2.275APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 0022 006x 70 2 275
  2. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1093/clipsy.bpg016APA PsycNet psycnet loading doi 10 1093 clipsy bpg016
Read online
File size283.31 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test