UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Artikel ini mengkaji kebijakan hari libur nasional dan cuti bersama di Indonesia sebagai praktik politik waktu yang merefleksikan hubungan antara negara, agama, dan pembentukan memori kolektif. Melalui analisis isi tematik terhadap Keputusan Bersama Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama periode 2020–2025, artikel ini menunjukkan bahwa pengaturan waktu publik tidak semata-mata merupakan instrumen administratif, tetapi juga menjadi arena hegemonisasi simbolik yang merepresentasikan dominasi agama mayoritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis dokumen dengan teknik Thematic Content Analysis terhadap kebijakan hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2020–2025 untuk mengungkap pola representasi, hierarki simbolik, dan konstruksi waktu religius oleh negara. Dengan menggunakan perspektif memori kolektif Maurice Halbwachs, politik simbolik Murray Edelman, dan kritik terhadap netralitas negara dalam representasi agama William E. Connolly, studi ini menganalisis bagaimana kalender nasional berfungsi sebagai artefak temporal yang menentukan peristiwa mana yang dilembagakan sebagai memori bersama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa distribusi hari libur nasional dan cuti bersama memperlihatkan pola dominasi waktu religius, terutama melalui representasi yang lebih besar terhadap perayaan agama mayoritas. Artikel ini berkontribusi pada kajian relasi negara dan agama dengan memperluas pemahaman tentang hegemoni sebagai bentuk penguasaan temporal, yaitu bagaimana negara membangun legitimasi dan identitas kolektif melalui pengaturan waktu sosial. Studi ini menegaskan bahwa kalender nasional bukan sekadar daftar administratif, melainkan ruang politik yang merefleksikan proses inklusi, eksklusi, dan negosiasi representasi keagamaan dalam masyarakat plural.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan hari libur nasional dan cuti bersama di Indonesia berfungsi sebagai mekanisme untuk membangun memori kolektif dan mengatur waktu publik.Temuan utama menunjukkan pola dominasi waktu religius, khususnya terkait dengan Islam, di mana kalender negara mereproduksi hierarki simbolik tertentu.Meskipun revisi tahun 2025 memperkenalkan pengakuan tambahan terhadap hari-hari keagamaan dan nasional lainnya, struktur dominasi yang mendasarinya tetap tidak berubah secara signifikan.Secara teoritis, penelitian ini memperluas studi tentang hegemoni melalui konsep hegemoni temporal, menunjukkan bagaimana negara menggunakan regulasi waktu untuk membangun identitas, legitimasi, dan konsensus sosial.Dengan menggabungkan teori memori kolektif, politik simbolik, dan netralitas negara, studi ini menunjukkan bahwa kalender nasional adalah arena politik yang dibentuk oleh hubungan kekuasaan dan inklusi simbolik.Namun, penelitian ini terbatas pada dokumen resmi dan data media sosial yang terbatas, tanpa wawasan empiris yang lebih luas tentang proses pembuatan kebijakan atau pengalaman minoritas.Penelitian masa depan harus mengadopsi pendekatan multi-metode, termasuk wawancara, analisis historis, survei publik, dan studi dampak sosial-ekonomi, untuk memahami lebih baik bagaimana waktu publik dinegosiasikan dalam masyarakat plural dan bagaimana kebijakan yang lebih inklusif dapat dikembangkan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan analisis komparatif terhadap kebijakan hari libur nasional di negara-negara lain dengan keragaman agama yang serupa dengan Indonesia. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana negara-negara tersebut mengelola waktu publik dan memfasilitasi inklusi dan pengakuan terhadap berbagai tradisi keagamaan. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk menyelidiki dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan hari libur nasional dan cuti bersama, terutama dalam hal mobilitas sosial, konsumsi, dan distribusi manfaat ekonomi di berbagai wilayah. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi lebih lanjut terhadap pemahaman tentang bagaimana negara dapat mengembangkan kebijakan yang lebih inklusif dan adil dalam mengatur waktu publik di masyarakat yang plural.

  1. Pour une théorie du discours social : problématique d'une... persee.fr/doc/litt_0047-4800_1988_num_70_2_2283Pour une thyEAEyCAorie du discours social problyEAEyCAmatique dune persee fr doc litt 0047 4800 1988 num 70 2 2283
  2. On Collective Form | Docomomo Journal. collective form docomomo journal authors fumihiko maki downloads... doi.org/10.52200/53.a.c4gwdaq3On Collective Form Docomomo Journal collective form docomomo journal authors fumihiko maki downloads doi 10 52200 53 a c4gwdaq3
  3. Holiday Effect in The Indonesian Stock Market | Atlantis Press. holiday effect indonesian stock market... doi.org/10.2991/icoi-17.2017.23Holiday Effect in The Indonesian Stock Market Atlantis Press holiday effect indonesian stock market doi 10 2991 icoi 17 2017 23
Read online
File size412.95 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test