UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI
Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanDi tengah meningkatnya polarisasi keagamaan dan rigiditas ideologi yang kian merebak, moderasi dalam Islam menjadi kebutuhan mendesak secara teologis dan moral. Studi ini mengkaji bagaimana konsep moderasi beragama (wasatiyyah) dipahami dalam pemikiran Islam kontemporer, dengan menelusuri keragaman tradisi intelektual dan konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan metode deskriptif-analitis. Data diambil dari pemikiran sebelas tokoh: Quraish Shihab, Yusuf al-Qaradawi, Muchlis Hanafi, Dainawi, Husain Thabathabai, Abdurrahman Wahid, Musthofa Bisri, Joachim Wach, Djamaluddin Ahmad, dan Afifuddin Muhajir. Gagasan para tokoh tentang moderasi beragama ditelusuri melalui artikel ilmiah yang tersebar di portal Moraref dan jurnal-jurnal yang terafiliasi dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN). Analisis dilakukan secara tematik terhadap pemikiran tokoh, seperti toleransi, keseimbangan, keadilan, kerendahan hati, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Para pemikir ini tidak memaknai moderasi sebagai sikap pasif atau netral, melainkan sebagai orientasi etis-spiritual yang aktif dan disengaja, berakar pada epistemologi Islam dan kepekaan terhadap keberagaman. Temuan studi ini menunjukkan bahwa, sebagaimana dirumuskan oleh para pemikir Islam kontemporer, moderasi beragama menawarkan kerangka yang berakar pada spiritualitas, terbuka terhadap pemikiran kritis, dan adaptif secara sosial untuk membangun perdamaian melalui pendidikan transformatif, dialog yang inklusif, dan reformasi moral batiniah di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan terglobalisasi.
Dalam pemikiran Islam kontemporer, moderasi beragama muncul sebagai konstruksi multidimensional yang berakar pada pendidikan, dialog budaya, dan etika spiritual.Melalui ajaran para ulama Islam terkemuka, baik klasik maupun modern, moderasi (wasathiyah) muncul sebagai prinsip teologis, etika hidup, dan respons strategis terhadap ekstremisme, intoleransi, dan fragmentasi ideologis di era digital.Studi ini mengidentifikasi tiga kerangka utama dalam membangun perdamaian.(1) kerangka intelektual dan pendidikan yang berfokus pada tafsir kontekstual, pedagogi Islam, dan keseimbangan epistemologis.(2) kerangka dialog sosial-budaya yang menekankan pluralisme, inklusivitas, dan keterlibatan antaragama melalui komunikasi artistik dan simbolis.dan (3) kerangka spiritual-etika yang menarik dari Sufisme dan yurisprudensi berbasis maqashid untuk mendorong perdamaian batin dan harmoni sosial.Meskipun memiliki penekanan yang berbeda, ketiga kerangka ini bersatu dalam visi Islam sebagai sumber kasih sayang, kebijaksanaan, dan koeksistensi.Penting untuk memahami moderasi beragama sebagai dedikasi proaktif terhadap prinsip-prinsip keadilan, harmoni, dan kasih sayang, bukan sebagai sikap pasif atau akomodatif.Kontribusi para ulama ini berfungsi sebagai sumber teoretis dan panduan praktis bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan pemimpin agama untuk membangun masyarakat plural yang damai.Komitmen ini harus terus dibudidayakan, dikontekstualisasikan, dan dikomunikasikan lintas generasi.
Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, bagaimana implementasi moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan formal dan non-formal, terutama dalam konteks Indonesia. Kedua, bagaimana peran media sosial dan teknologi digital dalam mempromosikan atau menghambat moderasi beragama, serta strategi apa yang dapat diterapkan untuk meningkatkan literasi intelektual dan spiritual di era digital. Ketiga, bagaimana moderasi beragama dapat diwujudkan dalam praktik-praktik keagamaan sehari-hari, seperti ibadah, interaksi sosial, dan pengambilan keputusan etis. Penelitian-penelitian ini dapat memberikan kontribusi lebih lanjut dalam memahami dan mempromosikan moderasi beragama sebagai kerangka kerja untuk membangun perdamaian di masyarakat yang semakin beragam dan terfragmentasi.
- Chapter 4 A Neglected Notion: Iqtiá¹£ÃÂd in Pre-modern... doi.org/10.1163/9789004681033_005Chapter 4 A Neglected Notion IqtiyEAyCAyCAyEAEyCAAd in Pre modern doi 10 1163 9789004681033 005
- Interaksionisme Simbolik dalam Moderasi Dakwah KH. Ahmad Mustofa Bisri di Instagram | Bulletin of Indonesian... journal.kurasinstitute.com/index.php/biis/article/view/571Interaksionisme Simbolik dalam Moderasi Dakwah KH Ahmad Mustofa Bisri di Instagram Bulletin of Indonesian journal kurasinstitute index php biis article view 571
- The Potential of Religious Radicalism Movement in Banyumas | Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan.... journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo/article/view/1807The Potential of Religious Radicalism Movement in Banyumas Walisongo Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan journal walisongo ac index php walisongo article view 1807
- Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought | Jurnal... ejournal.uinbukittinggi.ac.id/fuaduna/article/view/9657Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought Jurnal ejournal uinbukittinggi ac fuaduna article view 9657
| File size | 413.34 KB |
| Pages | 12 |
| DMCA | Report |
Related /
IAINU KEBUMENIAINU KEBUMEN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta hambatan dan solusi yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk disiplin shalat berjamaahPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta hambatan dan solusi yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk disiplin shalat berjamaah
IAINU KEBUMENIAINU KEBUMEN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan moderasi beragama di sekolah berbasis budaya bertujuan untuk menjaga dan melestarikanBerdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan moderasi beragama di sekolah berbasis budaya bertujuan untuk menjaga dan melestarikan
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI This study aims to enhance personality development models using religious-based programs and a qawaid al-fiqhiyyah approach, which aligns with addressingThis study aims to enhance personality development models using religious-based programs and a qawaid al-fiqhiyyah approach, which aligns with addressing
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI Secara metodologis, Abdurrauf menggunakan pendekatan ijmālī, sementara HAKA dan HAMKA menerapkan metode taḥlīlī dengan penekanan rasional dan sosial.Secara metodologis, Abdurrauf menggunakan pendekatan ijmālī, sementara HAKA dan HAMKA menerapkan metode taḥlīlī dengan penekanan rasional dan sosial.
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI Produk komoditas seperti stiker, koko, peci, dan bendera Az-Zahir memperkuat hubungan antara religiusitas komoditas dan komodifikasi agama. Kedua domainProduk komoditas seperti stiker, koko, peci, dan bendera Az-Zahir memperkuat hubungan antara religiusitas komoditas dan komodifikasi agama. Kedua domain
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI Jeremy Menchik berpendapat bahwa kekerasan terhadap Ahmadiyah harus dilihat sebagai “intoleransi produktif dan bukan sekedar merusak demokrasi, karenaJeremy Menchik berpendapat bahwa kekerasan terhadap Ahmadiyah harus dilihat sebagai “intoleransi produktif dan bukan sekedar merusak demokrasi, karena
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI Hal ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah keduanya dapat menyatu pada tataran epistemologis. Wacana al-ilm al-ẖudhūri digunakan untuk menjawabHal ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apakah keduanya dapat menyatu pada tataran epistemologis. Wacana al-ilm al-ẖudhūri digunakan untuk menjawab
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif, kajian ini bertujuan untuk mengkaji isu-isu ini secara mendalam, memanfaatkan pendekatan filologisDengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif, kajian ini bertujuan untuk mengkaji isu-isu ini secara mendalam, memanfaatkan pendekatan filologis
Useful /
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI Berlandaskan teori representasi konstruksionis Stuart Hall, penelitian ini menerapkan analisis tekstual kualitatif untuk mengkaji bagaimana makna keagamaan,Berlandaskan teori representasi konstruksionis Stuart Hall, penelitian ini menerapkan analisis tekstual kualitatif untuk mengkaji bagaimana makna keagamaan,
IAINU KEBUMENIAINU KEBUMEN Peran Guru dalam Implementasi Amaliah Aswaja Kepada Peserta Didik Kelas X pada Mata Pelajaran ke-NU-an di SMK Maarif 1 Kebumen. Tujuan Penelitian ini adalah:Peran Guru dalam Implementasi Amaliah Aswaja Kepada Peserta Didik Kelas X pada Mata Pelajaran ke-NU-an di SMK Maarif 1 Kebumen. Tujuan Penelitian ini adalah:
IAINU KEBUMENIAINU KEBUMEN Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara metode klasik dan pendekatan praktis, yang dipadukan dengan suasana belajar spiritual, memperkuat penguasaanPenelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara metode klasik dan pendekatan praktis, yang dipadukan dengan suasana belajar spiritual, memperkuat penguasaan
UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI Berakhirnya siklus menstruasi menempatkan perempuan pascamenopause pada kewajiban ritual yang setara dengan laki-laki, sehingga membentuk pengalaman religiusBerakhirnya siklus menstruasi menempatkan perempuan pascamenopause pada kewajiban ritual yang setara dengan laki-laki, sehingga membentuk pengalaman religius