UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Kekerasan seksual berbasis agama di pesantren merupakan bentuk kekerasan berbasis gender yang serius, terutama ketika otoritas keagamaan dimobilisasi untuk melegitimasi eksploitasi seksual. Serial drama keagamaan Malaysia Bidaah (2025) menggambarkan manipulasi ajaran Islam dan otoritas keagamaan dalam praktik kekerasan seksual terhadap santri perempuan. Penelitian ini mengkaji bagaimana serial tersebut merepresentasikan kekerasan seksual berbasis agama serta merekonstruksi kesadaran kritis dan resistensi perempuan. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan menganalisis dialog antarscena sebagai data primer, yang dilengkapi artikel ilmiah, buku, laporan penelitian, dan sumber berita kredibel sebagai data sekunder. Berlandaskan teori representasi konstruksionis Stuart Hall, penelitian ini menerapkan analisis tekstual kualitatif untuk mengkaji bagaimana makna keagamaan, otoritas, dan kekerasan seksual dikonstruksi secara diskursif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan seksual direpresentasikan melalui rekonstruksi strategis wacana keagamaan, terutama konsep ketaatan, pengabdian religius, istri spiritual, dan pernikahan spiritual, yang menormalisasi otoritas keagamaan dan membingkai ulang kekerasan seksual sebagai bentuk pengabdian religius. Pada saat yang sama, serial ini menggambarkan kesadaran kritis perempuan melalui proses mempertanyakan, melakukan resistensi, dan menafsirkan kembali ajaran agama, yang tercermin dalam ekspresi berulang seperti lapor, bukti, dan ketakutan. Penelitian ini menunjukkan bahwa Bidaah tidak hanya mengungkap bagaimana wacana keagamaan dapat digunakan untuk melegitimasi kekerasan seksual, tetapi juga merepresentasikan resistensi perempuan sebagai proses merebut kembali agensi interpretatif dan menantang penyalahgunaan otoritas keagamaan.

Studi ini menunjukkan bahwa Bidaah merepresentasikan kekerasan seksual berbasis agama dalam pesantren melalui konstruksi makna yang tertanam dalam dialog antara karakter dan narasi keagamaan.Serial ini merekonstruksi dan merekontekstualisasi bahasa keagamaan dengan menggunakan ekspresi seperti ketaatan, khidmah, istri spiritual, dan pernikahan spiritual, serta ritual keagamaan lainnya, sebagai instrumen diskursif untuk memperkuat ketaatan dan melegitimasi penyalahgunaan otoritas keagamaan.Ekspresi linguistik ini berfungsi tidak hanya sebagai terminologi keagamaan, tetapi juga sebagai perangkat representasional yang menyembunyikan kekerasan seksual dengan mengkonstruksinya sebagai tindakan pengabdian dan kepatuhan keagamaan.Selain itu, Bidaah juga merekonstruksi kesadaran kritis perempuan melalui dialog dan representasi naratif yang mengubah keraguan terhadap ajaran keagamaan yang dipromosikan oleh pemimpin keagamaan menjadi perlawanan kolektif terhadap kekerasan seksual berbasis agama.Proses ini dimulai dengan munculnya keraguan terhadap ajaran keagamaan yang dipromosikan oleh pemimpin keagamaan, berkembang melalui kemampuan untuk membedakan ajaran Islam yang autentik dari manipulasi otoritas keagamaan, dan mencapai puncaknya dalam tindakan perlawanan konkret, termasuk mengumpulkan bukti dan melaporkan pemimpin keagamaan yang menyalahgunakan wewenangnya kepada pihak berwenang penegak hukum.Melalui representasi ini, serial ini membangun kesadaran kritis perempuan sebagai bentuk perlawanan aktif terhadap penindasan dan kekerasan seksual berbasis agama.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk memperluas analisis dengan menyelidiki simbolisme visual, teknik sinematik, dan representasi multimodal yang digunakan dalam Bidaah (2025) untuk memahami lebih komprehensif bagaimana makna dibangun. Penelitian selanjutnya juga dianjurkan untuk mengadopsi pendekatan penerimaan audiens untuk menyelidiki bagaimana penonton menafsirkan dan menawar representasi yang disajikan dalam serial tersebut. Studi seperti itu dapat mengeksplorasi respons dan interpretasi audiens, termasuk santri setelah menonton Bidaah, sehingga menawarkan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana teks media diterima, dinegosiasikan, dan dikontekstualisasikan dalam realitas sosial-keagamaan kontemporer.

  1. Spatial Narrative and Critique of Reality in The American Film “Breaking”. spatial narrative... doi.org/10.47191/ijsshr/v7-i05-70Spatial Narrative and Critique of Reality in The American Film AuBreakingAy spatial narrative doi 10 47191 ijsshr v7 i05 70
  2. Dynamics of State Power and Religious Authority in the Formation of Family Law: Case Study of Indonesia... doi.org/10.35719/ijil.v4i1.2058Dynamics of State Power and Religious Authority in the Formation of Family Law Case Study of Indonesia doi 10 35719 ijil v4i1 2058
  3. POSISI KYAI BAGI SENTRALISASI MORAL KEHIDUPAN MASYARAKAT | Amalia | JIEM (Journal of Islamic Education... syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jiem/article/view/2876POSISI KYAI BAGI SENTRALISASI MORAL KEHIDUPAN MASYARAKAT Amalia JIEM Journal of Islamic Education syekhnurjati ac jurnal index php jiem article view 2876
  4. Eksploitasi Religius dan Kekerasan Seksual Studi Krisis terhadap Perlindungan Hukum dan Hak Kesehatan... greenpub.org/JIM/article/view/934Eksploitasi Religius dan Kekerasan Seksual Studi Krisis terhadap Perlindungan Hukum dan Hak Kesehatan greenpub JIM article view 934
  5. Fakta Kekerasan Seksual Di Pesantren Kabupaten Pati | Al-I'timad: Jurnal Dakwah dan Pengembangan... doi.org/10.35878/alitimad.v1i1.724Fakta Kekerasan Seksual Di Pesantren Kabupaten Pati Al Itimad Jurnal Dakwah dan Pengembangan doi 10 35878 alitimad v1i1 724
Read online
File size469.22 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test