UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan KemasyarakatanJurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan

Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana perempuan Muslim pascamenopause mengekspresikan agensi kesalehan melalui praktik keagamaan yang berkelindan dengan pengalaman tubuh, serta bagaimana mereka membangun narasi kesalehan dalam ruang-ruang sosial-keagamaan. Berakhirnya siklus menstruasi menempatkan perempuan pascamenopause pada kewajiban ritual yang setara dengan laki-laki, sehingga membentuk pengalaman religius yang khas, dipengaruhi oleh usia, perubahan tubuh, dan riwayat reproduksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengombinasikan fenomenologi dan analisis naratif, serta memanfaatkan kerangka teoretik Saba Mahmood tentang agensi dalam politik kesalehan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap praktik keagamaan perempuan pascamenopause, baik di ranah domestik maupun ruang ibadah publik. Temuan menunjukkan bahwa perempuan Muslim pascamenopause memiliki komitmen tinggi terhadap praktik ibadah rutin dan keterlibatan aktif dalam komunitas keagamaan. Kesalehan dimaknai tidak semata sebagai kepatuhan ritual, melainkan sebagai praktik etis yang terus-menerus dibentuk oleh pengalaman tubuh, pendidikan spiritual, dan penerimaan terhadap tubuh pascamenopause. Artikel ini berargumen bahwa kesalehan perempuan dibentuk oleh pertautan antara habitus ritual, pengalaman reproduktif, dan interaksi sosial, yang menempatkan perempuan pascamenopause sebagai subjek moral aktif dalam kehidupan keagamaan.

Menopause menghadirkan pengalaman tubuh yang khas, membuka jalan alternatif menuju kebebasan dan perayaan praktik keagamaan bagi perempuan.Perempuan Muslim pascamenopause secara aktif terlibat dalam menjalankan tradisi keagamaan, baik di ranah domestik maupun ruang ibadah publik, mewujudkan iman dan praktik keagamaan sebagai narasi kesalehan melalui pengalaman tubuh mereka.Komunitas keagamaan yang didukung oleh perempuan Muslim menjadi ruang kesalehan mereka, dengan pengakuan kesalehan di ruang publik terwujud melalui tindakan politik dan budaya sosial keagamaan, meskipun aspek lain masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Mengingat penelitian ini telah mengidentifikasi agensi kesalehan dan pengalaman iman yang unik pada perempuan Muslim pascamenopause, ada beberapa arah menarik untuk penelitian lanjutan agar pemahaman kita semakin mendalam. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan studi dengan cakupan yang lebih luas, melibatkan lebih banyak perempuan dari latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis yang beragam. Penelitian semacam ini dapat membantu kita memahami apakah pola agensi kesalehan yang ditemukan bersifat universal atau justru sangat dipengaruhi oleh konteks budaya lokal yang spesifik. Misalnya, apakah perempuan di perkotaan menunjukkan bentuk kesalehan yang berbeda dengan mereka di pedesaan, atau bagaimana ajaran agama yang berbeda (madzhab) memengaruhi interpretasi mereka terhadap ibadah. Kedua, meskipun penelitian ini menyentuh bagaimana kesalehan dibentuk oleh pengalaman tubuh dan interaksi sosial, studi selanjutnya bisa menggali lebih dalam faktor-faktor spesifik yang membentuk narasi kesalehan ini. Pertanyaan penelitian bisa mencakup: Bagaimana dinamika keluarga, seperti dukungan suami atau anak, secara langsung memengaruhi partisipasi perempuan pascamenopause dalam praktik keagamaan publik? Apakah tingkat pendidikan formal dan akses terhadap informasi kesehatan memiliki dampak signifikan terhadap cara mereka menerima dan menginternalisasi perubahan tubuh sebagai bagian dari perjalanan spiritual? Ketiga, menarik untuk meneliti dampak kehadiran aktif perempuan pascamenopause dalam ruang-ruang keagamaan publik terhadap generasi Muslim yang lebih muda, baik perempuan maupun laki-laki. Penelitian dapat menyelidiki bagaimana teladan kesalehan dan kepemimpinan mereka menginspirasi atau mengubah pandangan tentang peran perempuan dalam agama, serta potensi dampaknya terhadap pola partisipasi keagamaan lintas generasi. Dengan demikian, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang peran vital perempuan pascamenopause dalam membentuk lanskap spiritual dan sosial masyarakat.

  1. The relationship between social support, stressful events, and menopause symptoms | PLOS One. relationship... doi.org/10.1371/journal.pone.0245444The relationship between social support stressful events and menopause symptoms PLOS One relationship doi 10 1371 journal pone 0245444
  2. Dukungan Keluarga, Konsep Diri dan Gaya Hidup berhubungan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Perimenopause... jakartajournals.net/index.php/oajjhs/article/view/91Dukungan Keluarga Konsep Diri dan Gaya Hidup berhubungan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Perimenopause jakartajournals index php oajjhs article view 91
  3. Tingkat Pengetahuan Tentang Menopause dengan Kesiapan Menghadapi Menopause pada Ibu Premenopause | Jurnal... doi.org/10.56186/Jkkb.107Tingkat Pengetahuan Tentang Menopause dengan Kesiapan Menghadapi Menopause pada Ibu Premenopause Jurnal doi 10 56186 Jkkb 107
Read online
File size468.05 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test