RISETPRESSRISETPRESS

Journal of Business Management and Economic DevelopmentJournal of Business Management and Economic Development

Penelitian ini menyelidiki niat generasi milenial dan generasi Z di Indonesia untuk terlibat dalam digital cash waqf dengan mengintegrasikan penentu penerimaan teknologi dengan religiositas. Studi ini mengadopsi desain penelitian kuantitatif. Data diperoleh dari responden Muslim dalam kelompok milenial dan generasi Z dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk memeriksa hubungan di antara dimensi UTAUT, religiositas, dan niat adopsi. Temuan empiris menunjukkan bahwa harapan kinerja, pengaruh sosial, dan kondisi memfasilitasi mempengaruhi secara positif dan signifikan niat individu untuk mengadopsi digital cash waqf. Sebaliknya, harapan usaha tidak menunjukkan efek yang signifikan secara statistik. Religiositas memiliki dampak langsung dan signifikan pada niat adopsi dan berfungsi sebagai variabel moderasi selektif, memperkuat hubungan antara harapan kinerja dan niat. Dengan mengintegrasikan religiositas sebagai penjelasan dan faktor moderasi, studi ini memperluas kerangka UTAUT dalam konteks filantropi Islam yang berorientasi nilai. Hasilnya menunjukkan bahwa platform waqf digital harus memprioritaskan manfaat nyata, tata kelola yang kuat, dan transparansi, sambil memanfaatkan nilai-nilai agama dan jaringan sosial untuk meningkatkan adopsi di antara generasi Muslim yang lebih muda.

Studi ini menunjukkan bahwa harapan kinerja adalah faktor paling berpengaruh yang membentuk niat milenial dan generasi Z untuk mengadopsi digital cash waqf.Niat adopsi terutama didorong oleh persepsi manfaat nyata, termasuk efisiensi transaksi, memfasilitasi praktik keagamaan, dan dampak sosial jangka panjang.Temuan ini menunjukkan bahwa waqf digital bukan hanya inovasi teknologi, tetapi mekanisme melalui mana utilitas fungsional dan tujuan filantropi terwujud secara bersama-sama.Penelitian sebelumnya tentang adopsi waqf online telah menekankan peran sentral persepsi kegunaan dalam memotivasi partisipasi melalui platform digital.Studi empiris selanjutnya di Indonesia lebih lanjut mengonfirmasi bahwa evaluasi yang berorientasi manfaat tetap lebih menonjol daripada pertimbangan teknis dalam membentuk keterlibatan waqf digital.Bukti terbaru memperkuat pola ini di antara kelompok Muslim muda yang berinteraksi dengan platform filantropi digital.Sebaliknya, harapan usaha tidak secara signifikan mempengaruhi niat adopsi.Hasil ini mencerminkan karakteristik responden, yang umumnya menunjukkan tingkat literasi digital dan familiaritas dengan layanan keuangan digital yang tinggi.Untuk kelompok pengguna seperti itu, kemudahan penggunaan cenderung menjadi persyaratan dasar daripada faktor pembeda dalam niat perilaku.Temuan serupa telah dilaporkan dalam studi adopsi fintech, di mana pertimbangan terkait usaha berkurang seiring dengan peningkatan pengalaman pengguna dan kematangan ekosistem digital.Bukti dari konteks keuangan digital Islam juga menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan menjadi kurang menonjol di antara pengguna yang berpengalaman secara teknologi.Kesimpulan serupa diamati dalam penelitian yang menekankan bahwa kesederhanaan teknis kehilangan kekuatan penjelasnya setelah layanan digital menjadi rutinitas.Secara teoritis, hasil ini mendukung pandangan bahwa harapan usaha tergantung pada konteks daripada berpengaruh secara universal.Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa pengaruh sosial memainkan peran yang berarti dalam membentuk minat dalam mengadopsi digital cash waqf.Dukungan dari anggota keluarga, teman sebaya, jaringan komunitas, dan tokoh agama berkontribusi pada pembentukan niat untuk terlibat dalam perilaku filantropi yang berorientasi nilai.Di masyarakat Muslim kolektivis, keputusan filantropi seringkali tertanam dalam norma bersama dan harapan moral daripada preferensi individu saja.Penelitian sebelumnya tentang filantropi Islam menyoroti pentingnya legitimasi sosial ketika tindakan ekonomi dipahami sebagai aktivitas ibadah dan pro-sosial.Studi yang dilakukan di konteks Indonesia lebih lanjut menunjukkan bahwa validasi sosial meningkatkan partisipasi dalam inisiatif waqf digital.Bukti tambahan menunjukkan bahwa dukungan moral dari aktor sosial yang dipercaya terus membentuk keterlibatan dalam filantropi Islam digital.Kondisi memfasilitasi juga ditemukan memiliki efek positif, meskipun relatif kecil, pada niat adopsi.Ini menunjukkan bahwa dukungan ekosistem, seperti akses ke infrastruktur digital, ketersediaan bantuan teknis, dan kesiapan institusional, memainkan peran pelengkap dalam keputusan adopsi.Meskipun kondisi memfasilitasi mungkin tidak langsung memotivasi partisipasi, mereka membantu mengurangi ketidakpastian dan memperkuat kepercayaan pada kelayakan operasional platform waqf digital.Observasi serupa telah dilaporkan dalam studi layanan keuangan Islam digital, di mana kesiapan sistem berkontribusi pada persepsi keamanan dan keandalan.Penelitian lainnya lebih lanjut menunjukkan bahwa kejelasan regulasi dan jaminan institusional memperkuat kepercayaan pengguna dalam platform keuangan digital.Dalam konteks waqf, kondisi memfasilitasi erat kaitannya dengan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana.Kontribusi utama model yang diperpanjang adalah identifikasi religiositas sebagai penentu langsung niat untuk mengadopsi digital cash waqf.Religiositas berfungsi sebagai kekuatan motivasi intrinsik, mengartikan partisipasi filantropi sebagai tindakan ibadah dan tanggung jawab moral.Studi sebelumnya dalam filantropi Islam secara konsisten menunjukkan bahwa komitmen keagamaan memainkan peran signifikan dalam membentuk keterlibatan dengan waqf dan praktik amal.Penelitian empiris selanjutnya lebih lanjut mengonfirmasi bahwa religiositas tetap berpengaruh dalam konteks digital, terutama dalam perilaku keuangan yang berorientasi nilai.Bukti tambahan dari literatur waqf menyoroti bahwa orientasi keagamaan memperkuat niat untuk berpartisipasi dalam instrumen filantropi Islam.Ketika diperiksa sebagai variabel moderasi, religiositas secara signifikan memperkuat hubungan antara harapan kinerja dan niat adopsi, tetapi tidak menunjukkan efek moderasi pada hubungan yang melibatkan harapan usaha atau pengaruh sosial.Pola moderasi selektif ini menunjukkan bahwa nilai-nilai agama tidak secara seragam memperkuat semua jalur adopsi.Sebaliknya, ia mengintensifkan mekanisme yang erat kaitannya dengan persepsi nilai dan makna, terutama evaluasi yang berorientasi manfaat.Efek moderasi serupa telah diidentifikasi dalam studi yang mengintegrasikan religiositas ke dalam model penerimaan teknologi di konteks Islam.Penelitian terkait lebih lanjut menggambarkan religiositas sebagai penguat konteks daripada penguat universal persepsi teknologi.Secara keseluruhan, adopsi digital cash waqf di antara milenial dan generasi Z dibentuk oleh interaksi antara manfaat yang dirasakan, dukungan ekosistem, pengaruh sosial, dan orientasi nilai, dengan harapan kinerja dan religiositas muncul sebagai faktor yang paling menentukan.Temuan ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi dalam konteks filantropi Islam tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui pertimbangan utiliter saja, tetapi juga harus mempertimbangkan motivasi yang berorientasi nilai dan makna moral.Dengan mengintegrasikan religiositas ke dalam kerangka UTAUT, studi ini memberikan penjelasan yang lebih nuansa tentang perilaku filantropi digital di masyarakat Muslim dan menekankan pentingnya menyelaraskan inovasi teknologi dengan transparansi, akuntabilitas, dan nilai-nilai agama untuk mendorong partisipasi berkelanjutan dan kepercayaan publik.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi longitudinal untuk memeriksa perubahan dalam perilaku adopsi selama waktu, mengintegrasikan variabel psikologis atau institusional tambahan seperti kepercayaan, literasi waqf, atau kualitas tata kelola, dan melakukan studi perbandingan di antara negara atau kelompok demografi untuk meningkatkan generalisasi temuan. Pendekatan kualitatif atau campuran juga dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana nilai-nilai agama diinternalisasi dan diterjemahkan menjadi perilaku filantropi digital.

  1. Integrating Religiosity into the UTAUT Framework: Explaining Muslim Youth’s Intention to Adopt... doi.org/10.59653/jbmed.v4i01.2308Integrating Religiosity into the UTAUT Framework Explaining Muslim YouthAos Intention to Adopt doi 10 59653 jbmed v4i01 2308
Read online
File size430.09 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test