PUSDIKRA PUBLISHINGPUSDIKRA PUBLISHING

Khazanah : Journal of Islamic StudiesKhazanah : Journal of Islamic Studies

Kurikulum keagamaan di lembaga pendidikan Islam dalam konteks kontemporer dihadapkan pada tantangan eksklusivisme teologis yang berdampak pada munculnya sikap intoleransi di kalangan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dominasi epistemologis dalam kurikulum keagamaan dan merumuskan model rekonstruksi kurikulum yang ramah terhadap nilai-nilai pluralisme. Melalui penelitian kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika kritis-emansipatoris, penelitian ini membedah dokumen kurikulum resmi dan Buku Teks Utama Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Menengah Atas yang diterbitkan oleh Kementerian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur narasi materi keagamaan (Fiqih, Akidah Akhlak, SKI) saat ini masih didominasi secara hegemonik oleh epistemologi bayani yang bersifat tekstual-literal, sehingga melahirkan kurikulum yang tertutup dan bias teologis terhadap kelompok lain. Penelitian ini menawarkan blueprint rekonstruksi Kurikulum Keagamaan dengan memadukan secara harmonis antara nalar teks, nalar kritis-sosiologis, dan nalar empati spiritual-kemanusiaan. Implikasi dari penelitian ini memberikan arah teoretis dan metodologis bagi pengembang kurikulum di Kementerian dalam merevisi buku teks PAI masa depan yang lebih adaptif terhadap realitas pluralisme sosial di Indonesia.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa buku teks Utama Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Menengah Atas yang diterbitkan oleh Kementerian masih didominasi secara hegemonik oleh epistemologi bayani yang bersifat tekstual-literal.Dominasi ini berimplikasi pada lahirnya narasi keagamaan yang monolitik, eksklusif, dan cenderung bias terhadap realitas pluralisme.Melalui kacamata kurikulum tertutup, materi keagamaan (Fiqih, Akidah Akhlak, SKI) ditransmisikan sebagai doktrin masa lalu yang statis tanpa adanya fusi cakrawala dengan konteks kemajemukan kontemporer di Indonesia.Temuan dalam penelitian ini menekankan Rekonstruksi Kurikulum Keagamaan Terintegrasi dengan memadukan tiga pilar epistemologi nalar Islam secara seimbang.nalar tekstual-kontekstual (bayani), nalar kritis-sosiologis (burhani), dan nalar etis-empati kemanusiaan (irfani).Melalui integrasi triadik ini, kurikulum PAI bertransformasi menjadi ruang emansipatoris-transformatif yang mampu meneguhkan akidah Islam siswa secara internal, sekaligus menumbuhkan kesadaran pluralisme yang matang, inklusif, dan aplikatif di ruang publik.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dikembangkan. Pertama, penelitian perlu dilakukan untuk mengeksplorasi dampak integrasi epistemologi kritis-sosiologis (burhani) terhadap pengembangan toleransi dan sikap inklusif peserta didik dalam konteks pluralisme. Kedua, studi lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan empati spiritual-kemanusiaan (irfani) dalam membangun kesadaran pluralisme yang mendalam. Ketiga, penelitian komparatif antara kurikulum tradisional dan kurikulum yang direkonstruksi dapat dilakukan untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan dalam hasil pembelajaran dan pemahaman peserta didik terhadap keragaman agama. Saran-saran ini bertujuan untuk memperkaya kerangka teoretis dan metodologis dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama yang lebih adaptif dan inklusif.

Read online
File size294.18 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test