UIN ANTASARIUIN ANTASARI

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu KeislamanAl-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman

Radikalisme keagamaan kontemporer sering dikaitkan dengan penafsiran al-Quran yang eksklusif, terutama ketika teks-teks keagamaan dipahami secara terlepas dari konteks historis dan metodologisnya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan epistemologis penting mengenai bagaimana model-model penafsiran al-Quran membentuk orientasi keagamaan dalam masyarakat Muslim kontemporer. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan epistemologis antara tafsīr dan tawīl serta implikasinya terhadap wacana radikalisme dan moderasi beragama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan mengombinasikan analisis isi dan analisis wacana epistemologis terhadap literatur tafsir klasik dan kontemporer. Perhatian khusus diberikan pada penafsiran QS. al-Tawbah [9]:5 sebagai studi kasus representatif untuk menelaah bagaimana paradigma penafsiran yang berbeda menghasilkan konsekuensi keagamaan yang berbeda pula. Analisis difokuskan pada sumber otoritas penafsiran, peran akal, kontekstualisasi, serta orientasi maqāṣid al-syarīah dalam konstruksi makna al-Quran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi radikal maupun moderat tidak muncul secara langsung dari teks al-Quran, melainkan dibentuk oleh kerangka epistemologis yang digunakan dalam proses penafsiran. Pendekatan tekstual yang dilepaskan dari pertimbangan historis dan etis berpotensi melahirkan kecenderungan eksklusif, sedangkan pendekatan kontekstual dan berorientasi maqāṣid membuka ruang yang lebih luas bagi pluralitas makna dan pertimbangan etis. Penelitian ini berargumen bahwa tafsīr dan tawīl sebaiknya dipahami sebagai paradigma yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan, serta menawarkan model epistemologi integratif berbasis interaksi antara riwāyah, dirāyah, dan maqāṣid. Model ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan studi al-Quran kontemporer sekaligus menjadi landasan teoritis bagi penguatan moderasi beragama dalam masyarakat yang plural.

Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara tafsīr, tawīl, radikalisme, dan moderasi beragama adalah masalah epistemologis yang berkaitan dengan cara makna al-Quran diproduksi, diotorisasi, dan diterapkan.5 dan interpretasinya di berbagai tradisi tafsir klasik dan kontemporer, penelitian menemukan bahwa hasil interpretatif yang berbeda muncul bukan hanya dari teks itu sendiri, tetapi dari asumsi epistemologis yang membimbing interpretasi.Temuan ini menantang asumsi sederhana bahwa interpretasi harfiah secara otomatis mengarah pada radikalisme atau bahwa interpretasi kontekstual menghasilkan moderasi.Sebaliknya, orientasi radikal dan moderat dibentuk oleh interaksi antara otoritas teks, kontekstualisasi sejarah, penalaran etis, dan kondisi sosio-politik yang lebih luas.Kontribusi ilmiah utama artikel ini adalah menunjukkan bahwa perdebatan kontemporer tentang ekstremisme keagamaan dan moderasi tidak dapat dipahami secara memadai tanpa memeriksa fondasi epistemologis interpretasi al-Quran.Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi pada studi al-Quran kontemporer dengan merumuskan epistemologi integratif tafsīr-tawīl yang menempatkan riwāyah, dirāyah, dan maqāṣid al-sharīah sebagai dimensi interpretatif yang saling melengkapi.Daripada memperlakukan tafsīr dan tawīl sebagai paradigma yang bersaing, model yang diusulkan memahami mereka sebagai mekanisme dialogis melalui mana kesetiaan teks dan relevansi kontekstual dapat seimbang.Secara metodologis, integrasi penelitian pustaka kualitatif, analisis epistemologis, dan analisis wacana filosofis-hermeneutis memungkinkan rekonstruksi sistematis asumsi interpretatif di berbagai tradisi tafsir.Keunikan penelitian ini terletak tidak hanya pada menghubungkan interpretasi al-Quran dengan orientasi keagamaan, tetapi juga menawarkan kerangka konseptual yang mampu menjelaskan bagaimana paradigma interpretatif mempengaruhi wacana keagamaan kontemporer sambil menghindari biner reduksionis antara tekstualisme dan kontekstualisme.Secara praktis, temuan penelitian menyarankan bahwa upaya untuk memperkuat moderasi beragama harus melampaui kampanye normatif dan mengatasi fondasi epistemologis pemahaman keagamaan.Institusi pendidikan Islam, pesantren, dan pembuat kebijakan agama dapat memperoleh manfaat dari promosi literasi interpretatif yang menggabungkan kompetensi teks, kesadaran kontekstual, dan refleksi etis.Epistemologi integratif tafsīr-tawīl yang diusulkan dalam penelitian ini menyediakan dasar konseptual untuk mengembangkan studi al-Quran yang secara intelektual ketat, responsif secara sosial, dan tahan terhadap eksklusivisme dogmatis dan relativisme interpretatif.

Berdasarkan temuan penelitian, saran penelitian lanjutan dapat difokuskan pada beberapa aspek. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam tentang bagaimana epistemologi interpretasi al-Quran ditransmisikan dan dinegosiasikan dalam institusi pendidikan, platform agama digital, dan komunitas Muslim kontemporer. Penelitian ini dapat membantu memahami bagaimana ide-ide interpretatif disebarkan dan diterima, serta bagaimana mereka mempengaruhi pemahaman dan praktik keagamaan. Kedua, penelitian dapat mengeksplorasi implikasi praktis dari model epistemologi integratif tafsīr-tawīl yang diusulkan dalam penelitian ini. Bagaimana model ini dapat diterapkan dalam pendidikan al-Quran untuk memperkuat literasi interpretatif dan mendorong pemahaman yang lebih komprehensif tentang teks suci? Bagaimana model ini dapat digunakan untuk melawan interpretasi radikal dan mempromosikan moderasi beragama dalam masyarakat yang plural? Ketiga, penelitian dapat menyelidiki lebih lanjut hubungan antara interpretasi al-Quran dan dinamika sosial-politik. Bagaimana interpretasi al-Quran mempengaruhi pembentukan identitas keagamaan dan perilaku sosial? Bagaimana interpretasi kontekstual dan berorientasi maqāṣid dapat digunakan untuk mempromosikan keadilan, perdamaian, dan harmoni sosial dalam masyarakat yang beragam?.

  1. Tafsir Kontekstual Surah Al-Maidah 49-50 Sebagai Anti Tesis Terhadap Ideologi Fundamentalis Di Indonesia:... doi.org/10.53491/porosonim.v3i2.344Tafsir Kontekstual Surah Al Maidah 49 50 Sebagai Anti Tesis Terhadap Ideologi Fundamentalis Di Indonesia doi 10 53491 porosonim v3i2 344
  2. RELEVANSI TAFSIR BIL MA' SUR DALAM KONTEKS MODERN: STUDI KASUS TAFSIR AYAT-AYAT SOSIAL DALAM TAFSIR... doi.org/10.24260/mafatih.v4i2.3758RELEVANSI TAFSIR BIL MA SUR DALAM KONTEKS MODERN STUDI KASUS TAFSIR AYAT AYAT SOSIAL DALAM TAFSIR doi 10 24260 mafatih v4i2 3758
  3. Tafsir Lughawi: Historisitas dan Perdebatannya | Jurnal Iman dan Spiritualitas. tafsir lughawi historisitas... doi.org/10.15575/jis.v3i4.31248Tafsir Lughawi Historisitas dan Perdebatannya Jurnal Iman dan Spiritualitas tafsir lughawi historisitas doi 10 15575 jis v3i4 31248
Read online
File size425.75 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test