JURNALFARMASIDANKESEHATANJURNALFARMASIDANKESEHATAN

MEDFARM: Jurnal Farmasi dan KesehatanMEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan

Latar belakangInfus sesudah pakai adalahsisa infus yang telah dipakai oleh pasien dengan cara memasukkan suatu cairan atau obat ke dalam tubuh melalui rute intravena dengan laju konstan selama periode waktu tertentu. Selain itu pengelolaan infus sesudah pakai yang kurang tepat dapat menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme yang berbahaya bagi kesehatan pasien dan pegawai lainnya. Tujuan: Untuk mengetahui adanya cemaran mikroba dan jumlah cemaran mikroba pada infus sesudah pakai di rumah sakit “Y di Ponorogo. Metode: Sampel infus bekas pakai yang diambil di rumah sakit “Y di Ponorogo secara purposive sampling. Pengujian mikroba menggunakan Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Kapang Khamir (AKK) sedangkan Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik Standart Deviasi.Hasil Berdasarkan hasil penelitian, Nilai Angka Lempeng Total pada infus sesudah pakai adalah 2,25 x 102koloni/ml atau 225 koloni/ml dan Nilai Angka Kapang Khamir 1,5 x 101koloni/ml atau 15 koloni/ml. Simpulan dan saran : Infus sesudah pakai yang digunakan pada penelitian ini mengalami pencemaran mikroba dan jamur dan diharapkan harus lebih diperhatikan cara penanganan limbah medis lebih lanjut agar tidak membahayakan petugas, penderita, pengunjung maupun bagi masyarakat di sekitar rumah sakit.

Dari hasil penelitian dapat ditarik simpulan, Infus sesudah pakai yang digunakan pada penelitian ini mengalami pencemaran mikroba bakteri dan jamur dengan jumlah Angka Lempeng Total pada infus dextrosa sesudah pakai adalah 2,25 x 102 koloni/ml atau 225 koloni/ml, sedangkan Angka Kapang Khamir pada infus sesudah pakai adalah 1,5 x 101 koloni/ml atau 15 koloni/ml.

Penelitian ini menunjukkan adanya cemaran mikroba pada infus sesudah pakai, namun cakupannya terbatas pada lima sampel dari satu rumah sakit dan satu jenis infus. Untuk memperkaya pemahaman dan memberikan rekomendasi yang lebih komprehensif, beberapa arah penelitian lanjutan dapat dieksplorasi. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi komparatif yang lebih luas, membandingkan tingkat cemaran mikroba pada infus sesudah pakai di berbagai jenis fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit pemerintah, swasta, atau klinik, di beberapa wilayah geografis. Pendekatan ini akan membantu mengidentifikasi variasi pola kontaminasi dan faktor lingkungan atau operasional yang mungkin berkontribusi terhadap perbedaan tersebut, memberikan wawasan yang lebih dalam tentang praktik pengelolaan limbah yang efektif. Kedua, mengingat hanya total koloni bakteri dan jamur yang diukur, penelitian di masa depan sebaiknya fokus pada identifikasi spesifik jenis mikroorganisme yang ditemukan pada limbah infus. Dengan menggunakan teknik mikrobiologi molekuler, seperti sekuensing gen 16S rRNA untuk bakteri atau ITS untuk jamur, kita dapat menentukan apakah mikroba yang ada merupakan patogen nosokomial potensial atau organisme lingkungan biasa, yang akan sangat krusial untuk penilaian risiko dan pengembangan intervensi. Ketiga, mengingat adanya saran untuk perbaikan penanganan limbah medis, penelitian dapat dirancang untuk secara langsung mengevaluasi efektivitas metode pengelolaan limbah yang berbeda. Ini bisa mencakup penilaian dampak dari praktik pengumpulan, penyimpanan, dan pra-pemrosesan limbah infus terhadap reduksi cemaran mikroba, sehingga dapat dirumuskan pedoman praktik terbaik yang terbukti secara ilmiah untuk meminimalkan risiko kontaminasi dan penularan penyakit di lingkungan rumah sakit. Pendekatan multi-aspek ini akan secara signifikan meningkatkan basis pengetahuan mengenai keamanan limbah medis.

Read online
File size185.82 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test