STIKESNHSTIKESNH
Diagnosis : Jurnal Ilmiah KesehatanDiagnosis : Jurnal Ilmiah KesehatanPasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami komorbiditas hipertensi berisiko tinggi terhadap masalah terkait obat, terutama interaksi antar obat (Drug- drug Interactions/DDI). Interaksi ini dapat mengakibatkan terapi yang kurang efektif dan menimbulkan masalah baru dalam pengobatan. Komplikasi diabetes yang paling umum adalah hipertensi, dengan persentase mencapai 22,7%, yang dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas kardiovaskular hingga 60%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat interaksi obat yang terjadi pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komorbiditas hipertensi. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian observasional dengan menggunakan metode deskriptif dengan desain kohort retrospektif. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder (karakteristik pasien) diabetes melitus tipe 2 dengan komorbiditas hipertensi di RS X Kota Palopo menggunakan aplikasi Lexicomp. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien yang mengalami interaksi obat dengan tingkat keparahan minor yaitu 56% dan golongan obat yang paling banyak berinteraksi Biguanide dan ACEI sebanyak 23 pasien dengan persentase (25%). Tingkat keparahan moderate yaitu 44% golongan obat yang paling banyak berinteraksi yaitu sulfonilurea dan β- blocker yaitu 12 pasien dengan persentase (13,06%). Dengan demikian penelitian ini diharapkan menjadi informasi dalam meminimalkan potensi interaksi obat pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2 dengan komorbisitas hipertensi. Diperlukan evaluasi yang lebih mendalam mengenai kerasionalan pengobatan dan manajemen terapi obat untuk memastikan keselamatan dan efektivitas pengobatan bagi pasien.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komorbiditas hipertensi di RS X Palopo selama periode Januari-Desember 2024 menunjukkan adanya interaksi obat.Interaksi dengan tingkat keparahan minor ditemukan pada 56% pasien, dengan golongan Biguanide dan ACEI sebagai yang paling banyak berinteraksi (25% dari pasien).Sementara itu, interaksi dengan tingkat keparahan moderat terjadi pada 44% pasien, yang paling sering melibatkan golongan Sulfonilurea dan β-blocker (13,06% dari pasien).
Penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi profil potensi interaksi obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi, namun masih banyak ruang untuk pengembangan studi lebih lanjut guna meningkatkan keselamatan dan efektivitas pengobatan. Salah satu arah penelitian yang penting adalah menginvestigasi dampak klinis aktual dari interaksi obat yang telah diidentifikasi secara potensial. Ini dapat dilakukan melalui studi yang menelusuri bagaimana interaksi minor dan moderat tersebut benar-benar memengaruhi parameter kesehatan pasien, seperti kontrol gula darah, tekanan darah, atau tingkat kejadian efek samping yang tidak diinginkan, bukan hanya mengidentifikasi potensi interaksinya saja. Selain itu, penting untuk membandingkan temuan interaksi obat menggunakan Lexicomp dengan basis data interaksi obat lainnya. Perbandingan ini dapat membantu mengevaluasi konsistensi klasifikasi tingkat keparahan interaksi, yang dalam diskusi disebutkan adanya perbedaan pandangan dengan studi lain, sehingga kita dapat mengetahui alat mana yang paling akurat dan relevan untuk praktik klinis. Ide penelitian selanjutnya adalah melakukan studi kohort prospektif. Pendekatan ini akan memungkinkan peneliti untuk memantau pasien secara real-time sejak awal terapi atau saat terjadi perubahan regimen obat, sehingga dapat mengidentifikasi faktor-faktor risiko spesifik yang lebih mendalam, di luar usia dan jenis kelamin, yang berkontribusi terhadap terjadinya interaksi obat yang signifikan secara klinis. Dengan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor risiko ini, kita dapat mengembangkan model prediksi interaksi obat yang lebih akurat. Terakhir, penelitian lanjutan dapat berfokus pada pengembangan dan evaluasi protokol manajemen terapi obat yang dipersonalisasi. Ini dapat berupa intervensi yang melibatkan peran farmasi klinis dalam mengoptimalkan regimen obat, memberikan edukasi mendalam kepada pasien, dan menerapkan pemantauan proaktif untuk meminimalkan risiko interaksi obat yang merugikan. Pengujian efektivitas protokol ini melalui uji klinis akan sangat berharga untuk memastikan pasien menerima pengobatan yang paling aman dan efektif.
| File size | 465.54 KB |
| Pages | 8 |
| DMCA | Report |
Related /
PTTIPTTI Program layanan ini bertujuan untuk membantu meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan hipertensi pada lansia. Kegiatan ini mencakup konseling tentangProgram layanan ini bertujuan untuk membantu meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan hipertensi pada lansia. Kegiatan ini mencakup konseling tentang
HTPHTP Hasil regresi logistik ganda menunjukan hubungan lingkar pinggang, jenis kelamin dan umur dengan kejadian hiperkolesterolemia setelah dikontrol oleh aktifitasHasil regresi logistik ganda menunjukan hubungan lingkar pinggang, jenis kelamin dan umur dengan kejadian hiperkolesterolemia setelah dikontrol oleh aktifitas
UnwahasUnwahas Jenis kelamin, usia, pendidikan, jenis pekerjaan, lama waktu menderita hipertensi, dan jumlah obat tidak memiliki hubungan signifikan terhadap tingkatJenis kelamin, usia, pendidikan, jenis pekerjaan, lama waktu menderita hipertensi, dan jumlah obat tidak memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat
HTPHTP Pendahuluan: Prevalensi DM terus meningkat, dengan 90-95% kasus merupakan DMT2 yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi.Pendahuluan: Prevalensi DM terus meningkat, dengan 90-95% kasus merupakan DMT2 yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi.
POLTEKKES MKSPOLTEKKES MKS Penelitian ini mengidentifikasi adanya anggota keluarga yang merokok sebagai faktor risiko signifikan. Peningkatan edukasi dan kesadaran mengenai faktorPenelitian ini mengidentifikasi adanya anggota keluarga yang merokok sebagai faktor risiko signifikan. Peningkatan edukasi dan kesadaran mengenai faktor
IIKNUTUBANIIKNUTUBAN Hasil kegiatan diperoleh tekanan darah lansia sebelum dan sesudah senam. Kegiatan ini diikuti oleh lansia yang sangat antusias dalam mengikuti senam. SetelahHasil kegiatan diperoleh tekanan darah lansia sebelum dan sesudah senam. Kegiatan ini diikuti oleh lansia yang sangat antusias dalam mengikuti senam. Setelah
JURNALEMPATHYJURNALEMPATHY Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang hipertensi emergensi, sehingga dapat mencegah terjadinya peristiwa tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang hipertensi emergensi, sehingga dapat mencegah terjadinya peristiwa tersebut.
UNIVMEDUNIVMED Total sampel subjek adalah 2. 741.297 dari 33 provinsi di Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengukuran tekanan darah, dan antropometri. HasilTotal sampel subjek adalah 2. 741.297 dari 33 provinsi di Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengukuran tekanan darah, dan antropometri. Hasil
Useful /
IISTRIISTR Kekerasan dalam rumah tangga (DV) memiliki konsekuensi kesehatan mental yang signifikan, termasuk depresi. Dukungan sosial memainkan peran kritis dalamKekerasan dalam rumah tangga (DV) memiliki konsekuensi kesehatan mental yang signifikan, termasuk depresi. Dukungan sosial memainkan peran kritis dalam
UNIVMEDUNIVMED Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan tekanan darah dan kadar lipid serum dengan ketebalan intima-media karotis (CIMT) pada subjek berusiaTujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan tekanan darah dan kadar lipid serum dengan ketebalan intima-media karotis (CIMT) pada subjek berusia
UNIVMEDUNIVMED Penurunan tingkat magnesium dan potensial membran dapat memperburuk keadaan glaukoma. Penurunan tingkat magnesium dan potensial membran pada pasien glaukomaPenurunan tingkat magnesium dan potensial membran dapat memperburuk keadaan glaukoma. Penurunan tingkat magnesium dan potensial membran pada pasien glaukoma
UNIVMEDUNIVMED Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan penyakit kardiovaskular. Banyak tumbuhan/rempah memilikiLatar Belakang: Hipertensi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan penyakit kardiovaskular. Banyak tumbuhan/rempah memiliki