UNNESUNNES

Indonesian Journal of Agrarian LawIndonesian Journal of Agrarian Law

Keterlambatan penerbitan Sertifikat Hak Milik Satuan Rumah Susun (SHMSRS) oleh pengembang apartemen di Surabaya telah menjadi masalah kronis yang merugikan konsumen. Studi ini menganalisis kewajiban pengembang berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Bangunan Apartemen dan remedy hukum yang tersedia bagi pemilik apartemen. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan studi kasus pada proyek apartemen di Surabaya yang mengalami keterlambatan SHMSRS. Temuan menunjukkan bahwa pengembang wajib menerbitkan SHMSRS setelah pembangunan selesai dan pembayaran lengkap, tetapi penegakan hukum tetap lemah karena hambatan birokrasi, keterbatasan keuangan pengembang, dan kurangnya pengawasan. Pemilik apartemen dapat mengambil tindakan hukum (gugatan perdata atau tuntutan kelas) atau jalur non-litigasi (melalui BPSK, OJK, atau lembaga terkait).

Keterlambatan penerbitan SHMSRS di Surabaya melanggar hak konsumen apartemen.Meskipun ada kewajiban hukum, penegakan hukum tetap lemah karena masalah keuangan dan hambatan birokrasi.Diperlukan langkah komprehensif untuk melindungi konsumen dan meningkatkan industri properti.

1. Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak penerapan teknologi digital dalam mempercepat penerbitan SHMSRS. 2. Analisis perbandingan mekanisme penegakan hukum antara Surabaya dengan kota-kota lain di Indonesia. 3. Studi tentang peran organisasi konsumen dalam memfasilitasi penyelesaian sengketa SHMSRS melalui mediasi dan advokasi.

Read online
File size3.17 MB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test