UMKUMK

KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan SastraKREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra

Penelitian ini mengkaji tindak tutur ekspresif yang digunakan warganet dalam kolom komentar Instagram @pkucity terkait kasus Abdul Wahid. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana untuk menyampaikan pendapat, perasaan, dan respons terhadap berbagai isu sosial. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam komentar warganet. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Data penelitian berupa komentar tertulis pada unggahan Instagram @pkucity yang berkaitan dengan kasus Abdul Wahid dan memperoleh banyak interaksi. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, baca, dan catat. Analisis data dilakukan melalui tahap pengodean, pengelompokan, interpretasi, dan penyusunan laporan. Keabsahan data diuji melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tindak tutur ekspresif yang paling dominan adalah mengecam sebanyak 56 data dan mengkritik sebanyak 40 data. Selain itu, ditemukan bentuk mengeluh sebanyak 20 data, sedih sebanyak 17 data, dan menyalahkan sebanyak 10 data. Bentuk memuji dan mengucapkan selamat masing-masing ditemukan sebanyak 2 data, sedangkan bentuk mengucapkan terima kasih, memberi maaf, dan belasungkawa tidak ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi di media sosial didominasi oleh ekspresi negatif yang mencerminkan kekecewaan, kritik, dan respons emosional masyarakat terhadap suatu isu sosial.

Berdasarkan analisis 149 data komentar, bentuk tindak tutur ekspresif yang paling dominan adalah mengecam (56 data), diikuti mengkritik (40 data), mengeluh (20 data), sedih (17 data), menyalahkan (10 data), memuji (2 data), dan mengucapkan selamat (2 data).Sementara itu, bentuk tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih, memberi maaf, dan belasungkawa tidak ditemukan dalam data penelitian.Dominasi bentuk mengecam dan mengkritik menunjukkan bahwa pengguna media sosial terutama memanfaatkan kolom komentar untuk mengekspresikan evaluasi negatif, ketidakpuasan, dan respons emosional terhadap isu yang dibahas.Temuan ini mengindikasikan bahwa media sosial berfungsi sebagai platform terbuka bagi masyarakat untuk bebas berkomunikasi dan menyampaikan pendapat, terutama mengenai isu-isu sosial dan politik.Frekuensi yang relatif tinggi dari bentuk mengeluh dan sedih juga menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya mengkritik tetapi juga mengekspresikan kekecewaan, keprihatinan, dan ketidakpuasan terhadap situasi tertentu.Sebaliknya, bentuk menyalahkan mencerminkan kecenderungan untuk menanggungkan tanggung jawab kepada individu atau kelompok tertentu.Meskipun bentuk memuji dan mengucapkan selamat ditemukan, kehadirannya yang terbatas menunjukkan bahwa ekspresi positif ada tetapi tidak mendominasi diskusi.Secara teoritis, penelitian ini memperkuat relevansi teori pragmatik, khususnya teori tindak tutur ekspresif, dalam memahami komunikasi di lingkungan digital.Temuan menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif tetap signifikan dalam interaksi online, di mana bahasa seringkali spontan, emosional, dan tergantung pada konteks.Selain itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa beberapa tindak tutur ekspresif dapat mengalami pergeseran makna, seperti ekspresi selamat yang digunakan secara sarkastis untuk menyampaikan kritik.Secara praktis, temuan penelitian memberikan wawasan bagi pendidik, peneliti, dan pembuat kebijakan dalam memahami persepsi publik dan penggunaan bahasa di media sosial.Hasil penelitian dapat berkontribusi pada pengembangan program literasi digital dengan mendorong pengguna untuk berkomunikasi secara lebih kritis dan bertanggung jawab di ruang online.Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pembelajaran bahasa dengan menyediakan contoh autentik penggunaan bahasa dalam komunikasi digital kontemporer.Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya memahami hubungan antara bahasa, emosi, dan konteks sosial dalam komunikasi digital.Temuan menunjukkan bahwa media sosial berfungsi tidak hanya sebagai media pertukaran informasi tetapi juga sebagai ruang untuk evaluasi publik dan ekspresi emosional.Dampak penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap studi pragmatik dan penelitian komunikasi digital, khususnya dengan memberikan bukti empiris tentang bagaimana tindak tutur ekspresif mencerminkan sikap publik dan realitas sosial dalam interaksi online.Keunikan penelitian ini terletak pada pengungkapannya bahwa tindak tutur ekspresif di media sosial tidak hanya mewakili emosi tetapi juga dapat menyampaikan makna tersirat melalui strategi seperti ironi dan sarkasme.

Berdasarkan temuan penelitian ini, berikut adalah beberapa saran untuk penelitian lanjutan:. . 1. Melakukan studi komparatif antara tindak tutur ekspresif dalam kolom komentar Instagram dengan platform media sosial lainnya, seperti Twitter atau Facebook, untuk memahami perbedaan dan kesamaan dalam penggunaan bahasa ekspresif di berbagai platform.. . 2. Menganalisis lebih lanjut dampak tindak tutur ekspresif dalam kolom komentar Instagram terhadap opini publik dan pembentukan narasi sosial. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana ekspresi negatif, seperti mengecam dan mengkritik, mempengaruhi persepsi publik terhadap isu-isu sosial dan politik.. . 3. Menjelajahi peran emosi dalam tindak tutur ekspresif dan bagaimana emosi tersebut mempengaruhi makna dan interpretasi pesan yang disampaikan. Penelitian ini dapat mengkaji penggunaan strategi seperti ironi dan sarkasme dalam konteks media sosial dan dampaknya terhadap komunikasi dan interaksi online.. . Dengan melakukan penelitian lanjutan ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang dinamika komunikasi dan ekspresi emosional dalam lingkungan digital, serta kontribusi bahasa dalam membentuk opini publik dan narasi sosial di era media sosial.

Read online
File size516.1 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test