URINDOURINDO

Jurnal Bidang Ilmu KesehatanJurnal Bidang Ilmu Kesehatan

Latar Belakang : Penyelenggaraan layanan KB masih belum dilakukan secara maksimal terlihat dari hanya sedikit permasalahan yang teridentifikasi, 1,1 miliar pasangan usia subur, ada 270 juta jiwa yang tidak memakai kontrasepsi yang paling signifikan dalam peserta Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) masih rendah. Pengetahuan bidan yang kurang terkait perlindungan, keterampilan konseling, serta keterampilan menggunakan alat bantu konseling untuk mempermudah dalam memberikan penjelasan kepada klien menjadi salah satu penyebab dekadensi penggunaan konseling KB. Tujuan : Untuk mendeskripsikan perbedaan tingkat pengetahuan tentang alat pengambilan keputusan ber-KB (SKB) dan ABPK pada bidan di Kabupaten Banyumas. Metode : Peneliti menerapkan desain penelitian deskriptif kuantitatif Populasi penelitian ini yaitu seluruh bidan yang melakukan pelayanan KB di wilayah Kabupaten Banyumas.dengan total responden 75 bidan. Teknik sampel yang diterapkan pada penelitian ini adalah purposive sampling Instrumen pengambilan data dengan menggunakan lembar kuesioner pengetahuan Hasil : Berdasarkan analisis karakteristik, sebagian besar bidan usia 31-40 tahun (42.7%), usia 41-50 tahun (34.7%). pengalaman kerja 11-20 tahun (50.7%). Separuh bidan (50.7%) belum pernah mengikuti pelatihan apapun, Pelatihan CTU yang banyak diikuti (33.3%), diikuti oleh ABPK (9.3%).44.0% bidan telah melakukan konseling SKB, sementara hampir semua bidan (98.7%) telah melakukan konseling ABPK . Untuk SKB, 64% cukup, 33.3% kurang, dan hanya 2.7% baik. Untuk ABPK 85.3% baik dan 14.7% cukup. Analisis statistik deskriptif SKB memiliki nilai rata-rata 1.69 dengan std 0.519 ABPK memiliki nilai rata-rata 2.85 dengan std 0.356. Kesimpulan : Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang sangat signifikan antara SKB dan ABPK pada bidan. Pengetahuan kategori baik pada ABPK mencapai 85,3%, sedangkan pada SKB hanya 2,7%, dengan selisih 82,6%. Rata-rata pengetahuan ABPK (mean 2,85) lebih tinggi satu tingkat dibandingkan SKB (mean 1,69), menunjukkan kesenjangan pemahaman yang sangat nyata.

Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang sangat signifikan antara SKB dan ABPK pada bidan.Pengetahuan kategori baik pada ABPK mencapai 85,3%, sedangkan pada SKB hanya 2,7%, dengan selisih 82,6%.Rata-rata pengetahuan ABPK (mean 2,85) lebih tinggi satu tingkat dibandingkan SKB (mean 1,69), menunjukkan kesenjangan pemahaman yang sangat nyata.

Pertama, perlu dilakukan pelatihan intensif untuk bidan tentang penggunaan Strategi Konseling Berimbang (SKB) agar pengetahuan mereka meningkat dan dapat memberikan pelayanan KB yang lebih efektif. Kedua, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk membandingkan efektivitas SKB dan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) dalam meningkatkan pemahaman klien tentang kontrasepsi. Ketiga, penelitian juga dapat fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi tingkat pengetahuan bidan, seperti pengalaman kerja, akses pelatihan, dan ketersediaan sumber daya pendukung. Dengan mengembangkan pelatihan, memperbandingkan metode konseling, dan menganalisis faktor penentu pengetahuan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan KB secara signifikan. Selain itu, penelitian lanjutan juga bisa mengeksplorasi peran teknologi dalam menyampaikan informasi kontrasepsi kepada bidan dan klien. Studi tentang kepuasan klien terhadap metode konseling yang berbeda juga penting untuk memastikan layanan KB sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan ini, diharapkan tercipta inovasi dalam penyelenggaraan KB yang lebih inklusif dan efektif.

Read online
File size287.28 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test