HAMZANWADIHAMZANWADI

Jurnal ElemenJurnal Elemen

Meskipun ada peningkatan minat internasional terhadap literasi grafik di kalangan mahasiswa ilmu kesehatan, bukti empiris dari pendidikan tinggi di Indonesia masih langka, terutama mengenai keselarasan antara kompetensi mahasiswa dan kepercayaan diri mereka dalam menafsirkan informasi kesehatan berbasis grafik. Penelitian ini menyelidiki kompetensi literasi grafik di antara mahasiswa sarjana ilmu kesehatan di sebuah universitas negeri di Indonesia, mengkaji hubungan antara kompetensi dan kepercayaan diri, serta mengidentifikasi area kesulitan. Desain *cross-sectional* digunakan dengan 78 mahasiswa sarjana ilmu kesehatan dari Tahun 1 hingga 4. Skala Literasi Grafik 13 item yang telah tervalidasi diberikan bersamaan dengan tugas penilaian kepercayaan diri pada tingkat item. Analisis statistik dan kalibrasi digunakan untuk menguji kinerja, kepercayaan diri, dan keselarasan keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mencapai skor rata-rata 5,31 (SD = 2,19) dari 13, jauh di bawah standar internasional. Analisis kalibrasi mengungkapkan skor kalibrasi rata-rata yang tidak signifikan, menunjukkan kalibrasi metakognitif tingkat kelompok yang memadai. Ditemukan korelasi positif yang lemah hingga sedang antara kompetensi dan kepercayaan diri (r = 0,34, p = 0,002), menunjukkan bahwa mahasiswa yang lebih kompeten cenderung lebih percaya diri. Temuan ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan instruksi literasi grafik secara eksplisit ke dalam kurikulum ilmu kesehatan di Indonesia guna mempersiapkan profesional kesehatan masa depan untuk praktik klinis yang berbasis data.

Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa ilmu kesehatan sarjana di Indonesia memiliki tingkat kompetensi literasi grafik yang sangat rendah, jauh di bawah standar internasional, meskipun secara keseluruhan menunjukkan kalibrasi metakognitif tingkat kelompok yang memadai dengan kecenderungan sedikit kurang percaya diri.Temuan ini menyoroti perlunya integrasi instruksi literasi grafik secara eksplisit dalam kurikulum ilmu kesehatan di Indonesia, termasuk pengembangan keterampilan dasar dan kemampuan mengenali keterbatasan informasi visual.Secara teoritis, studi ini berkontribusi dengan menunjukkan bahwa pengukuran simultan kompetensi dan kalibrasi kepercayaan diri memberikan gambaran literasi kuantitatif yang lebih komprehensif, mengisyaratkan peran faktor budaya dalam membentuk pola kalibrasi dan pentingnya penelitian lanjutan untuk meningkatkan keterampilan ini.

Melihat temuan penelitian ini, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat menjanjikan untuk memperdalam pemahaman kita tentang literasi grafik dan kalibrasi kepercayaan diri di kalangan mahasiswa ilmu kesehatan Indonesia. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan studi kualitatif mendalam yang mengeksplorasi bagaimana faktor-faktor budaya di Indonesia memengaruhi penilaian diri mahasiswa terhadap kemampuan literasi grafik mereka. Penelitian ini bisa menggali lebih jauh mengapa banyak mahasiswa cenderung kurang percaya diri meskipun mungkin memiliki kinerja yang bervariasi, dan apakah norma-norma sosial atau pendidikan tertentu mendorong pola kalibrasi yang unik dibandingkan dengan populasi di Barat. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah: Bagaimana nilai-nilai budaya dan pengalaman pendidikan membentuk pola kalibrasi kepercayaan diri mahasiswa ilmu kesehatan Indonesia dalam tugas-tugas literasi grafik? Kedua, mengingat pentingnya instruksi yang ditargetkan, studi eksperimental terkontrol dapat dirancang untuk menguji efektivitas intervensi kurikulum spesifik yang mencakup pelatihan literasi grafik eksplisit dan mekanisme umpan balik kalibrasi. Hal ini akan memungkinkan peneliti untuk menentukan secara kausal apakah pendekatan pengajaran baru ini dapat secara signifikan meningkatkan baik kompetensi literasi grafik maupun akurasi pemantauan metakognitif mahasiswa. Kita bisa bertanya: Sejauh mana program pelatihan yang dirancang khusus dapat meningkatkan pemahaman grafik dan kemampuan mahasiswa untuk menilai akurasi mereka sendiri? Ketiga, untuk mengatasi keterbatasan desain *cross-sectional*, studi longitudinal akan memberikan wawasan yang tak ternilai tentang bagaimana literasi grafik dan kalibrasi kepercayaan diri berkembang seiring waktu selama masa studi mahasiswa. Dengan mengikuti kohort mahasiswa yang sama dari tahun pertama hingga kelulusan, penelitian semacam itu dapat mengidentifikasi titik-titik krusial dalam perkembangan keterampilan ini dan mengevaluasi dampak jangka panjang dari kurikulum yang ada. Ini akan menjawab pertanyaan: Bagaimana kompetensi literasi grafik dan kalibrasi kepercayaan diri mahasiswa ilmu kesehatan berkembang sepanjang empat tahun studi mereka di berbagai institusi?.

  1. 0. 0 doi.org/10.1037/a00248500 0 doi 10 1037 a0024850
  2. jgme. jgme need enable javascript run app jgme.kglmeridian.com/view/journals/jgme/12/5/article-p532.xmljgme jgme need enable javascript run app jgme kglmeridian view journals jgme 12 5 article p532 xml
  3. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1186/s12909-024-06121-7Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1186 s12909 024 06121 7
  4. 0. 0 doi.org/10.1037/edu00006740 0 doi 10 1037 edu0000674
Read online
File size583.54 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test