HAMZANWADIHAMZANWADI

Jurnal ElemenJurnal Elemen

Meskipun peran sentral geometri dalam kurikulum sekolah menengah atas, siswa terus bergumul dengan konsep abstrak dalam topik lingkaran, sering kali mengandalkan hafalan daripada pemahaman konseptual. Penelitian ini menggunakan desain eksplanatori sekuensial metode campuran yang melibatkan 69 siswa sekolah menengah atas yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan tes geometri Van Hiele untuk mengukur keterampilan berpikir geometris dan tes pemecahan masalah lingkaran berdasarkan tahapan Polya. Data kuantitatif dianalisis menggunakan korelasi produk-momen Pearson, sedangkan data kualitatif diperiksa melalui analisis dokumen dari respons tertulis siswa. Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif yang signifikan secara statistik namun lemah antara keterampilan berpikir geometris dan kemampuan pemecahan masalah matematika (r = 0,277, p = 0,021), dengan berpikir geometris hanya menyumbang 7,7% dari varians (R² = 0,077). Temuan kualitatif menunjukkan ketidaksesuaian yang mencolok: beberapa siswa dengan berpikir geometris rendah mencapai skor pemecahan masalah tinggi melalui pendekatan prosedural, sementara yang lain dengan berpikir geometris tinggi berkinerja buruk karena kesulitan dalam eksekusi dan representasi. Temuan-temuan ini menyiratkan bahwa meningkatkan berpikir geometris saja tidak cukup untuk meningkatkan kinerja pemecahan masalah. Instruksi matematika harus melampaui hafalan dengan mengintegrasikan kegiatan visualisasi dan pelatihan heuristik eksplisit untuk lebih baik menghubungkan pemahaman konseptual dengan strategi pemecahan masalah yang efektif.

Penelitian ini menemukan hubungan positif yang signifikan secara statistik namun lemah (r = 0,277) antara kemampuan berpikir geometris siswa dan keterampilan pemecahan masalah matematika mereka pada topik lingkaran, di mana berpikir geometris hanya menyumbang 7,7% dari varians.Temuan kualitatif menunjukkan kasus-kasus yang berbeda, di mana siswa dengan pemikiran geometris rendah dapat mencapai skor pemecahan masalah tinggi melalui kefasihan prosedural, sementara siswa dengan pemikiran geometris tinggi dapat berkinerja buruk karena kelemahan dalam eksekusi atau regulasi strategis.Oleh karena itu, disarankan agar instruksi matematika mengadopsi pendekatan terpadu yang mengembangkan visualisasi konseptual dan proses pemecahan masalah, serta menyertakan perancah metakognitif dan eksplorasi lebih lanjut terhadap strategi kompensasi dalam penelitian mendatang.

Mengingat temuan bahwa berpikir geometris dan pemecahan masalah tidak selalu berkorelasi kuat, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi beberapa arah baru yang penting. Pertama, akan sangat menarik untuk merancang studi eksperimental yang membandingkan dampak pengajaran geometri yang mengintegrasikan teori Van Hiele dengan pelatihan strategi pemecahan masalah Polya secara eksplisit, terhadap metode pengajaran konvensional. Kita perlu memahami apakah pendekatan terpadu ini dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah lingkaran, terutama bagi mereka yang sebelumnya kesulitan, dan apakah ini juga memupuk pemahaman konseptual yang lebih mendalam, bukan sekadar hafalan. Kedua, untuk kasus-kasus yang tidak terduga, seperti siswa dengan kemampuan berpikir geometris rendah namun berhasil dalam pemecahan masalah, penelitian kualitatif mendalam sangat diperlukan. Kita bisa mencari tahu strategi-strategi spesifik apa yang mereka gunakan—apakah itu kemampuan aljabar yang kuat, pengenalan pola yang cepat, atau ingatan prosedur yang luar biasa—dan apakah strategi ini tetap efektif saat menghadapi masalah yang lebih kompleks. Mengidentifikasi mekanisme kompensasi ini bisa memberi kita cara baru untuk mendukung siswa. Terakhir, untuk melihat bagaimana kemampuan ini berkembang dari waktu ke waktu dan membangun hubungan sebab-akibat, studi longitudinal perlu dilakukan. Dengan mengikuti sekelompok siswa selama beberapa tahun, kita bisa memahami bagaimana perkembangan berpikir geometris mereka secara bertahap memengaruhi keterampilan pemecahan masalah mereka, serta mengidentifikasi titik-titik penting di mana intervensi dapat paling efektif dilakukan. Ketiga arah penelitian ini akan memberikan pemahaman yang lebih kaya dan komprehensif tentang hubungan antara berpikir geometris dan pemecahan masalah, membuka jalan bagi inovasi pedagogis yang lebih tepat sasaran.

  1. Student difficulties in solving geometry problem based on Van Hiele thinking level - IOPscience. student... doi.org/10.1088/1742-6596/1157/4/042118Student difficulties in solving geometry problem based on Van Hiele thinking level IOPscience student doi 10 1088 1742 6596 1157 4 042118
  2. Exploring of Students' Ability to Solve Geometry Problems Based on Van Hiele's Level of Thinking... etdci.org/journal/ijrer/article/view/181Exploring of Students Ability to Solve Geometry Problems Based on Van Hieles Level of Thinking etdci journal ijrer article view 181
  3. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.2307/2290095Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 2307 2290095
  4. HRMARS - The Role of Metacognitive Strategies in Enhancing Learning Outcomes and Educational Efficiency:... doi.org/10.6007/ijarbss/v15-i4/24964HRMARS The Role of Metacognitive Strategies in Enhancing Learning Outcomes and Educational Efficiency doi 10 6007 ijarbss v15 i4 24964
  5. Using activity method to address students’ problem-solving difficulties in circle geometry - Contemporary... conmaths.com/article/using-activity-method-to-address-students-problem-solving-difficulties-in-circle-geometry-13079Using activity method to address studentsAo problem solving difficulties in circle geometry Contemporary conmaths article using activity method to address students problem solving difficulties in circle geometry 13079
Read online
File size836.82 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test