CHEM UPRCHEM UPR

Jurnal Ilmiah Kanderang TingangJurnal Ilmiah Kanderang Tingang

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis penggunaan disfemia dalam bahasa Aceh dan mendeskripsikan fungsi disfemia dalam bahasa Aceh di gampong Paya Kruep Kecamatan Darul Falah Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah tuturan dari interaksi masyarakat di Gampong Paya Kruep Kecamatan Darul Falah Kabupaten Aceh Timur. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, simak, dan teknik rekam. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dari seluruh data ditemukan 39 tuturan yang mengandung unsur disfemisme. Beberapa tuturan berbentuk julukan yang berkaitan dengan ciri fisik nyata, berjumlah lima data. Tujuh data lainnya berupa istilah yang mengandung penghinaan atau ketidakhormatan. Selain itu, terdapat sepuluh data yang menunjukkan perbandingan manusia dengan hewan, yang memperlihatkan kecenderungan masyarakat menggunakan metafora kasar dalam interaksi. Disfemisme juga hadir dalam bentuk istilah tabu sebanyak empat data, sedangkan sembilan data lainnya berupa julukan atau lontaran langsung kepada lawan bicara. Sementara itu, empat data lainnya berbentuk sumpah atau kutukan yang memperlihatkan ekspresi emosional penutur. Fungsi disfemisme yang ditemukan juga beragam sesuai dengan konteks penggunaannya. Dari 39 data, sembilan di antaranya berfungsi untuk menunjukkan kejengkelan penutur, lima data lain digunakan untuk memberikan tekanan pada maksud tertentu, dan sepuluh data berfungsi menegaskan atau menguatkan makna yang ingin disampaikan. Adapun jumlah yang paling dominan, yaitu lima belas data, menunjukkan bahwa disfemisme sering dipakai untuk mengungkapkan kemarahan atau kekesalan.

Berdasarkan hasil analisis penelitian mengenai disfemisme dalam tuturan masyarakat Gampong Paya Kruep, dapat disimpulkan bahwa terdapat beragam jenis serta fungsi penggunaan disfemisme dalam komunikasi sehari-hari.Fungsi disfemisme yang ditemukan juga beragam sesuai dengan konteks penggunaannya.Jumlah yang paling dominan, yaitu lima belas data, menunjukkan bahwa disfemisme sering dipakai untuk mengungkapkan kemarahan atau kekesalan.Dengan demikian, penelitian ini memperlihatkan bahwa disfemisme di Gampong Paya Kruep tidak hanya hadir sebagai bentuk ekspresi bahasa yang kasar atau tabu, tetapi juga memiliki fungsi sosial tertentu, baik untuk mengekspresikan emosi, menegaskan maksud, maupun meneguhkan hubungan interaksi antarpenutur.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada perbandingan penggunaan disfemia di wilayah lain di Aceh untuk memahami variasi budaya dan konteks sosial yang memengaruhi pola komunikasi. Selain itu, studi tentang dampak psikologis dan sosial dari penggunaan disfemia dalam interaksi sehari-hari masyarakat bisa menjadi arah penelitian baru, terutama dalam konteks pendidikan dan pengembangan kesadaran bahasa. Terakhir, penelitian juga dapat mengeksplorasi peran media sosial dalam memperluas atau memodifikasi penggunaan disfemia di kalangan generasi muda, dengan menggabungkan pendekatan linguistik dan analisis konten digital.

  1. Analisis Attention Siswa Sekolah Dasar Dalam Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19 | Jurnal... doi.org/10.31004/basicedu.v5i3.887Analisis Attention Siswa Sekolah Dasar Dalam Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid 19 Jurnal doi 10 31004 basicedu v5i3 887
  2. KAJIAN BAHASA DISFEMIA PADA KOLOM KOMENTAR NETIZEN DI INSTAGRAM | Wacana: Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra... ejournal.unib.ac.id/index.php/jwacana/article/view/14868KAJIAN BAHASA DISFEMIA PADA KOLOM KOMENTAR NETIZEN DI INSTAGRAM Wacana Jurnal Penelitian Bahasa Sastra ejournal unib ac index php jwacana article view 14868
Read online
File size363.04 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test