CHEM UPRCHEM UPR

Jurnal Ilmiah Kanderang TingangJurnal Ilmiah Kanderang Tingang

Sungai Tukad Unda di Kabupaten Klungkung, Bali, memiliki peran penting dalam sistem irigasi dan ketahanan pangan lokal. Namun, perubahan tata guna lahan serta peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem meningkatkan risiko banjir yang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian dan aksesibilitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan menghasilkan peta spasial kerentanan banjir di DAS Tukad Unda menggunakan model hidrodinamika 2D HEC-RAS yang terintegrasi dengan data GIS. Simulasi dilakukan untuk skenario curah hujan ekstrem dan perubahan tata guna lahan, dengan output berupa tinggi muka air, elevasi muka air, kecepatan aliran, area terdampak, dan sebaran genangan yang tervalidasi melalui data lapangan. Hasil analisis menunjukkan debit banjir rencana periode ulang 50 tahun (Q50) sebesar 82,32 m³/s dan periode ulang 100 tahun (Q100) sebesar 83,44 m³/s. Tutupan lahan didominasi pertanian lahan kering campur semak (39%), sawah (20%), dan pertanian lahan kering (14%). Dari hasil simulasi HEC-RAS, selisih kedalaman dan TMA antara Q50 dan Q100 tergolong kecil (0,1–0,9 m), menunjukkan sistem hidraulik Tukad Unda masih stabil namun sudah mendekati kapasitas maksimum. Oleh karena itu, strategi mitigasi harus diarahkan pada: Konservasi hulu untuk pengendalian debit sumber, Optimalisasi kapasitas sungai di segmen tengah untuk mengurangi genangan dan penguatan sistem proteksi di hilir untuk menghadapi kombinasi debit sungai dan pasang laut.

Pemodelan daerah genangan banjir dengan debit banjir kala ulang Q50 dan Q100 tahun yaitu Q50 sebesar 82,32 m³/s dan Q100 sebesar 83,44 m³/s.Kedalaman genangan maksimum di bagian hulu sebesar 2,3 meter untuk debit rencana Q50 dan 2,4 meter untuk Q100, sedangkan tinggi muka air (TMA) banjir maksimum di bagian hulu mencapai 109,8 meter untuk periode ulang Q50 dan 109,9 meter untuk Q100.Pada segmen tengah, kedalaman genangan meningkat menjadi 3,6 meter (Q50) dan 3,7 meter (Q100).Pada segmen tengah Tukad Unda, TMA hasil simulasi menunjukkan penurunan nilai dari 49,8 meter (Q50) menjadi 49,7 meter (Q100).Pada Segmen hilir menunjukkan kedalaman genangan tertinggi, yaitu 3,7 meter (Q50) dan 3,8 meter (Q100).Pada bagian hilir, hasil simulasi menunjukkan TMA sebesar 5,9 meter (Q50) dan 5,8 meter (Q100).Dari hasil simulasi HEC-RAS, selisih kedalaman dan TMA antara Q50 dan Q100 tergolong kecil (0,1–0,9 m), menunjukkan sistem hidraulik Tukad Unda masih stabil namun sudah mendekati kapasitas maksimum.Oleh karena itu, strategi mitigasi harus diarahkan pada.Konservasi hulu untuk pengendalian debit sumber, Optimalisasi kapasitas sungai di segmen tengah untuk mengurangi genangan dan penguatan sistem proteksi di hilir untuk menghadapi kombinasi debit sungai dan pasang laut.

1. Penelitian lanjutan dapat mengintegrasikan proyeksi perubahan iklim ke dalam model HEC-RAS untuk memprediksi dampak jangka panjang terhadap risiko banjir di DAS Tukad Unda. 2. Studi tentang keterkaitan antara perubahan tutupan lahan akibat ekspansi permukiman dengan peningkatan frekuensi banjir, khususnya di segmen tengah dan hilir sungai. 3. Pengembangan strategi mitigasi berbasis komunitas, seperti pembentukan kelompok relawan pemantauan curah hujan dan sistem peringatan dini berbasis teknologi sederhana, untuk meningkatkan respons masyarakat terhadap ancaman banjir. Semua saran ini bertujuan untuk memperkuat kebijakan adaptasi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan produksi pertanian di wilayah rawan banjir.

Read online
File size707.45 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test