CHEM UPRCHEM UPR

Jurnal Ilmiah Kanderang TingangJurnal Ilmiah Kanderang Tingang

Tradisi kematian dalam masyarakat Dayak Maanyan tidak hanya merepresentasikan peristiwa duka, tetapi juga menjadi ruang ekspresi nilai sosial dan budaya melalui praktik pangandrau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, makna, dan keberlanjutan perilaku pangandrau dalam kegiatan kematian di Desa Sei Paken, Kabupaten Barito Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh adat, keluarga duka, dan masyarakat yang terlibat langsung, yang dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangandrau diwujudkan dalam berbagai bentuk partisipasi kolektif, seperti bantuan tenaga, materi, waktu, dan dukungan emosional. Praktik ini tidak hanya berfungsi sebagai bantuan praktis, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan solidaritas sosial, pewarisan nilai budaya, serta pembentukan identitas kolektif masyarakat. Meskipun menghadapi perubahan sosial, praktik ini tetap bertahan melalui proses adaptasi tanpa kehilangan nilai dasarnya. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian tentang praktik budaya lokal dengan menempatkan pangandrau sebagai perilaku sosial yang dinamis dan relevan dalam konteks masyarakat modern.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pangandrau merupakan praktik sosial yang memiliki dimensi kultural, sosial, dan moral yang kuat dalam kehidupan masyarakat Dayak Maanyan, khususnya dalam konteks kegiatan kematian.Praktik ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk bantuan tenaga dan materi, tetapi juga dalam dukungan emosional yang memperkuat hubungan sosial antaranggota masyarakat.Secara teoretis, temuan penelitian ini menegaskan bahwa pangandrau dapat dipahami sebagai bentuk tindakan sosial yang berorientasi nilai sebagaimana dikemukakan oleh Max Weber, sekaligus mencerminkan solidaritas mekanik dalam perspektif Émile Durkheim.Dengan demikian, pangandrau tidak hanya berperan sebagai tradisi budaya, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang menjaga kohesi dan stabilitas komunitas.Di tengah dinamika perubahan sosial, pangandrau menunjukkan kemampuan adaptif melalui penyesuaian dalam pola partisipasi tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya.Hal ini mengindikasikan bahwa praktik budaya lokal memiliki ketahanan yang memungkinkan tetap relevan dalam konteks modern.

Dalam konteks penelitian lanjutan, ada tiga arah studi yang dapat dikembangkan. Pertama, penting untuk memperluas cakupan penelitian ke wilayah lain di Kalimantan Tengah atau daerah Dayak lainnya untuk membandingkan variasi praktik pangandrau dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutannya. Kedua, penelitian dapat fokus pada perspektif generasi muda, terutama bagaimana mereka mempersepsikan dan mengadaptasi pangandrau dalam era modernisasi, termasuk pengaruh media sosial dan perubahan pola interaksi komunitas. Ketiga, studi lanjutan dapat menggabungkan pendekatan antropologi dan sosiologi untuk menganalisis peran pangandrau dalam membangun ketahanan sosial dan identitas budaya di tengah dinamika globalisasi. Semua saran ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana praktik budaya lokal tetap relevan dan berkontribusi pada keberlanjutan komunitas.

Read online
File size258.83 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test