UnwahasUnwahas

TAWASUTTAWASUT

Pada era milenial, peserta didik saat ini mencari pengetahuan, pemahaman dan referensi tentang agama di media sosial dengan mengabaikan peran guru dan referensi buku, karena terlalu mudah memperoleh pengetahuan agama di media sosial tanpa bantuan ahli. Ada kebutuhan untuk menanamkan pada peserta didik untuk menciptakan karakter yang karismatik dengan kembali mengeksplorasi ajaran dari buku klasik yang telah terbukti sejauh ini mampu membuat peserta didik, terutama di kalangan peserta didik, memiliki perilaku yang lebih baik, salah satunya melalui pengajaran nilai ayng tengdung dalam Puisi di Buku. Ngudi Susila Bab Ing Pamulangan memiliki bahasa dan bentuk yang mudah dipahami oleh peserta didik milenial, sehingga pembentukan karakter peserta didik milenial akan dengan mudah diterima dan dalam proses selanjutnya nilai-nilai yang terkandung dalam buku akan diterapkan oleh peserta didik.

1) Masalah belajar di kalangan peserta didik milenial timbul karena mereka lebih percaya pada informasi interaktif daripada informasi satu arah, lebih menyukai telepon seluler, milenial harus memiliki media sosial, tidak suka membaca secara konvensional, milenial lebih tahu tentang teknologi daripada orang tua mereka, kecenderungan minat terhadap belajar serius mulai menurun drastis cenderung berperilaku pragmatis dan instan, sementara belajar lebih fokus pada peningkatan kecerdasan peserta didik dan tidak mengarah pada peningkatan moral peserta didik sehingga mereka dengan mudah jatuh ke dalam kemerosotan moral.2) Konsep pendidikan karakter dalam Buku Ngudi Susila Bab Ing Pamulangan oleh KH.Bisri Mustofa diwujudkan dalam bentuk puisi pegon Arab yang mengajarkan peserta didik tentang disiplin, kesiapan belajar dan kembali pulang dari belajar, etika belajar untuk peserta didik dan orang tua, qonaah, perhatian dan aktif dalam belajar, membuat teman yang baik dan tadzim kepada guru.Bisri Mustofa dalam buku Ngudi Susila Bab Ing Pamulangan terhadap pendidikan karakter dalam pendidikan modern terletak pada pengajaran yang memprioritaskan moralitas dengan membangun akhlakul karimah dengan menekankan penanaman disiplin, kesiapan belajar dan kembali pulang dari belajar, etika belajar untuk peserta didik dan orang tua, qonaah, perhatian dan aktif dalam belajar, membuat teman yang baik dan tadzim kepada guru sehingga akan berdampak pada pembentukan karakter peserta didik modern untuk mengembangkan pengetahuan mereka di atas dasar intelektual dan moral, sehingga pendidikan karakter bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi yang penting adalah transfer nilai yang memprioritaskan moral.karimah, sehingga kemerosotan moral yang merajalela dalam karakter peserta didik modern dapat dikurangi dan mengembangkan kepribadian peserta didik modern menjadi individu dengan karakter yang karismatik yang pada akhirnya membangun masyarakat yang etis.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, bagaimana cara mengimplementasikan nilai-nilai karakter dalam buku Ngudi Susila ke dalam kurikulum pendidikan modern agar dapat diterapkan secara efektif. Kedua, bagaimana peran guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter ini, dan apakah ada perbedaan antara guru di sekolah modern dengan guru di pesantren dalam hal ini. Ketiga, apakah ada perbedaan signifikan dalam pembentukan karakter antara peserta didik yang belajar melalui media sosial dengan peserta didik yang belajar melalui buku klasik, dan bagaimana cara mengoptimalkan manfaat dari kedua sumber belajar tersebut.

Read online
File size354.74 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test