IAINU KEBUMENIAINU KEBUMEN

El-Mu'Jam. Jurnal Kajian Al Qur'an dan Al-HadisEl-Mu'Jam. Jurnal Kajian Al Qur'an dan Al-Hadis

Artikel ini mengkaji hubungan antara kekuasaan dan penafsiran Al-Quran dengan menelaah tafsir Elmalılı Hamdi Yazır terhadap ayat-ayat poligami dalam konteks Turki. Artikel ini berpendapat bahwa penafsiran tidak semata-mata bersifat intelektual, melainkan sering kali bersinggungan dengan otoritas politik, sehingga berfungsi sebagai alat legitimasi bagi kebijakan negara. Dinamika ini menjadi sangat jelas selama masa transisi Turki dari Kekhalifahan Utsmaniyah menuju Republik modern, ketika penafsiran agama dimobilisasi untuk mendukung ideologi politik dan identitas nasional yang sedang berkembang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian perpustakaan kualitatif, dengan mengacu pada sumber primer dari karya-karya Elmalılı dan literatur sekunder yang relevan. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis serta historis-kritis-kontekstual, penelitian ini menempatkan penafsirannya dalam transformasi sosio-politik yang lebih luas. Temuan menunjukkan bahwa penafsiran Elmalılı mengenai poligami mencerminkan tingkat kemandirian intelektual yang tinggi dan tidak dibentuk oleh intervensi langsung negara. Ia menekankan keadilan sebagai syarat utama poligami, dengan membingkainya dalam pertimbangan etis, sosial, dan kemanusiaan. Alih-alih melarang praktik tersebut secara langsung, ia menekankan bahwa praktik tersebut harus mematuhi prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan umum. Bagi Elmalılı, poligami bukanlah hak tanpa batas, melainkan praktik bersyarat yang terikat oleh tanggung jawab moral dan konteks historis wahyu.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran Al-Quran oleh Elmalılı Hamdi Yazır merupakan hasil negosiasi dinamis antara otoritas keilmuan ulama dan pengaruh kekuasaan negara.Kekuasaan tidak sepenuhnya menentukan isi tafsir, namun berperan dalam membentuk konteks, bahasa, bentuk, serta arah produksinya.Di tengah perubahan politik besar dari Kekhalifahan Ottoman menuju Republik Turki yang sekuler, Elmalılı tetap menunjukkan keteguhan dalam menjaga integritas metodologis sebagai ulama tradisional.Hasil penelitian menegaskan bahwa Elmalılı konsisten berpegang pada prinsip-prinsip penafsiran klasik dan tidak tunduk pada tekanan politik, meskipun hidup dalam sistem pemerintahan sekuler.Sebagai pendukung konstitusionalisme, ia memandang Revolusi Turki Muda sebagai peluang untuk menegakkan hukum ilahi dalam kerangka konstitusi, berbeda dengan pandangannya terhadap rezim Sultan Abdulhamid yang dianggap despotik dan merusak kehidupan keagamaan.Dalam isu gender, Elmalılı tetap mempertahankan pandangan tradisional, sehingga berseberangan dengan penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Swiss oleh rezim Kemalis tahun 1926 yang berupaya meningkatkan posisi perempuan.Penelitian ini merekomendasikan kajian lanjutan terkait perkembangan tafsir pada masa Ottoman dan awal Republik, perbandingan dengan tafsir modernis di Mesir, serta penelusuran jaringan intelektual para mufasir Turki pada masa transisi tersebut.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan kajian lebih mendalam tentang pengaruh kekuasaan negara terhadap penafsiran agama, khususnya dalam konteks Turki. Selain itu, penelitian dapat fokus pada perbandingan antara tafsir klasik dan modernis, serta bagaimana keduanya berinteraksi dan berevolusi dalam konteks sosial-politik yang berubah. Kajian tentang jaringan intelektual para mufasir Turki pada masa transisi juga dapat memberikan wawasan tentang dinamika dan pengaruh pemikiran keagamaan dalam masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam memahami hubungan antara agama, negara, dan masyarakat dalam konteks Turki, serta implikasinya terhadap isu-isu kontemporer seperti gender dan hak-hak perempuan.

Read online
File size800.81 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test