IAINU KEBUMENIAINU KEBUMEN

Ar-Rihlah: Jurnal Inovasi Pengembangan Pendidikan IslamAr-Rihlah: Jurnal Inovasi Pengembangan Pendidikan Islam

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Pendidikan kontemporer dituntut menghasilkan manusia yang memiliki kompetensi intelektual, profesionalitas, kemampuan adaptasi, dan karakter yang kuat. Namun, dominasi orientasi kognitif dan instrumental dalam pendidikan berpotensi menyebabkan dimensi spiritual dan pembentukan kepribadian memperoleh perhatian yang tidak proporsional. Dalam konteks tersebut, pendidikan sufistik dapat menjadi salah satu perspektif yang relevan untuk memperkuat dimensi batin, moral, dan spiritual pendidikan Islam. Tulisan ini bertujuan menganalisis pemikiran sufistik Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan merekonstruksi relevansinya bagi pembentukan akhlak dalam pendidikan Islam kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutik-filosofis dan analisis isi tematik. Sumber primer berupa karya yang dinisbatkan kepada Abdul Qadir al-Jilani, sedangkan sumber sekunder berasal dari buku akademik dan artikel jurnal yang dapat diverifikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa gagasan al-Jilani dapat dibaca sebagai proses pendidikan spiritual yang berorientasi pada transformasi manusia melalui taubat, zuhud, takwa, tawakal, sabar, syukur, ridha, ikhlas, mahabbah, dan marifah. Nilai-nilai tersebut mempunyai relevansi dengan pembentukan kesadaran diri, pengendalian hawa nafsu, integritas, ketahanan menghadapi persoalan hidup, dan tanggung jawab sosial. Artikel ini menawarkan model konseptual pendidikan sufistik yang bergerak dari kesadaran spiritual menuju tazkiyat al-nafs, internalisasi nilai, mujahadah, pembiasaan, transformasi kepribadian, dan aktualisasi akhlak.

Pemikiran sufistik Syekh Abdul Qadir al-Jilani mempunyai relevansi yang signifikan bagi pengembangan pendidikan akhlak apabila direkonstruksi melalui pendekatan akademik yang kritis.Nilai-nilai seperti taubat, zuhud, takwa, tawakal, sabar, syukur, ridha, ikhlas, mahabbah, dan marifah dapat dibaca sebagai proses pembentukan manusia yang bergerak dari kesadaran batin menuju perubahan perilaku.Pendidikan sufistik tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai penambahan mata pelajaran tasawuf dalam kurikulum.Orientasi yang lebih substantif adalah menjadikan nilai spiritual sebagai mekanisme transformasi kepribadian.Sehingga ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu kesadaran spiritual → tazkiyat al-nafs → internalisasi nilai → mujahadah → pembiasaan → transformasi kepribadian → akhlak individual → akhlak sosial.

Pertama, penelitian lanjutan dapat mengkaji integrasi nilai-nilai sufistik dalam pendidikan digital, seperti pengembangan kesadaran etis dalam penggunaan teknologi berbasis muraqabah. Kedua, perlu dilakukan studi tentang dampak pendidikan sufistik terhadap integritas akademik, khususnya dalam konteks penelitian dan publikasi ilmiah. Ketiga, peneliti dapat mengeksplorasi potensi pendidikan sufistik dalam meningkatkan resiliensi psikologis peserta didik melalui praktik taubat dan tawakal, terutama dalam menghadapi tantangan akademik dan sosial di era modern.

Read online
File size442.3 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test