PUSMEDIAPUSMEDIA

Journal of Education and Teacher Training InnovationJournal of Education and Teacher Training Innovation

Penelitian ini mengkaji pengalaman, harapan, dan persepsi mahasiswa terhadap mata kuliah filsafat yang diajarkan dalam program non-mayor filsafat di Fakultas Bahasa dan Terjemahan, Universitas Zawia, Libya. Dengan menggunakan desain penelitian metode campuran, data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang diberikan kepada 250 mahasiswa sarjana dari departemen bahasa Inggris, Prancis, Arab, dan Italia. Wawasan kualitatif diperoleh dari wawancara semi-terstruktur dengan 20 partisipan. Kuesioner dianalisis menggunakan statistik deskriptif (frekuensi, persentase, rata-rata, dan standar deviasi), sementara transkrip wawancara diperiksa melalui analisis tematik untuk menghasilkan dan triangulasi tema-tema utama. Temuan menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa mengakui filsafat memiliki nilai intelektual dan etis, mereka secara konsisten menganggapnya abstrak, menuntut, dan kurang terhubung dengan spesialisasi akademik mereka dalam studi bahasa dan terjemahan. Muncul kesenjangan yang mencolok antara harapan tinggi mahasiswa, terutama mengenai pemikiran kritis, kesadaran etis, dan relevansi praktis, dengan pengalaman belajar mereka yang sebenarnya. Tantangan terkait kompleksitas konseptual, bahasa filosofis, kecepatan pengajaran, dan metode penilaian dilaporkan secara menonjol. Namun, bukti kualitatif menunjukkan bahwa mahasiswa tetap memiliki pandangan positif terhadap filsafat dan menyatakan keinginan kuat untuk terlibat dengan subjek tersebut ketika hambatan instruksional dikurangi. Studi ini berpendapat bahwa tantangan-tantangan ini terutama berasal dari disintegrasi pedagogis dan kurikuler daripada dari penolakan mahasiswa terhadap filsafat itu sendiri. Makalah ini diakhiri dengan menawarkan implikasi pedagogis yang sensitif konteks untuk pengajaran filsafat kepada non-spesialis di pendidikan tinggi Libya, menekankan kebutuhan akan pendekatan terapan, berpusat pada mahasiswa, dan interdisipliner. Temuan ini menyiratkan bahwa mata kuliah filsafat untuk non-spesialis di pendidikan tinggi Libya harus dirancang ulang melalui integrasi kurikulum yang lebih kuat dengan program bahasa dan terjemahan, pengajaran berpusat pada mahasiswa, dan format penilaian yang menekankan penalaran terapan daripada hafalan.

Penelitian ini menemukan bahwa meskipun mahasiswa non-filsafat di Universitas Zawia menghargai nilai intelektual dan etis filsafat, mereka menganggap mata kuliah ini abstrak dan menantang, dengan kesenjangan signifikan antara harapan dan pengalaman belajar.Kesulitan utama muncul dari kompleksitas konsep, terminologi, kecepatan pengajaran, dan metode penilaian, yang membatasi keterlibatan mahasiswa.Oleh karena itu, studi ini menekankan perlunya adaptasi pedagogis dan kurikuler, termasuk pengajaran yang relevan, terapan, dan dialogis, untuk mengoptimalkan peran transformatif filsafat dalam pendidikan tinggi interdisipliner di Libya.

Untuk memperkaya pemahaman mengenai peran filsafat dalam pendidikan tinggi non-spesialis di Libya, beberapa arah penelitian lanjutan sangat disarankan. Pertama, studi di masa depan dapat memperluas cakupan dengan melakukan investigasi komparatif di berbagai institusi pendidikan tinggi di Libya, tidak hanya di satu universitas, atau di fakultas non-filsafat lainnya seperti ilmu pengetahuan alam atau teknik. Hal ini penting untuk mengidentifikasi apakah tantangan dan persepsi yang ditemukan dalam penelitian ini bersifat universal atau spesifik konteks. Selain itu, penelitian dapat merancang dan mengimplementasikan intervensi pedagogis berbasis bukti, seperti model pembelajaran berbasis masalah yang relevan dengan isu-isu terjemahan atau etika komunikasi. Kemudian, dilakukan studi longitudinal untuk mengukur dampak jangka panjang intervensi ini terhadap motivasi, pemahaman mendalam, dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa dari waktu ke waktu, mengatasi keterbatasan desain cross-sectional. Lebih lanjut, penting untuk mengeksplorasi secara mendalam proses dan efektivitas integrasi kurikulum yang lebih kuat antara departemen filsafat dan studi bahasa/terjemahan. Ini bisa mencakup pengembangan materi ajar yang menggabungkan perspektif filosofis lokal di Libya atau studi kasus yang relevan secara budaya dan sosial. Fokus dapat diberikan pada bagaimana integrasi semacam ini secara eksplisit memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam menganalisis teks, memahami nuansa budaya, dan menerapkan penalaran etis dalam praktik terjemahan. Dengan demikian, kita bisa memahami bagaimana filsafat dapat secara nyata berkontribusi pada pengembangan kompetensi profesional dan pribadi mahasiswa di bidang bahasa dan terjemahan.

  1. Data-Driven Approaches in Islamic Quality Management and Education Technology for Advancing Sustainable... jpp.fkip.unila.ac.id/index.php/jpp/article/view/191Data Driven Approaches in Islamic Quality Management and Education Technology for Advancing Sustainable jpp fkip unila ac index php jpp article view 191
  2. Perceptions of Islamic Studies, Sharia, and Law Students Towards the Use of Artificial Intelligence in... journal.nahnuinisiatif.com/ARJI/article/view/504Perceptions of Islamic Studies Sharia and Law Students Towards the Use of Artificial Intelligence in journal nahnuinisiatif ARJI article view 504
  3. Hadith, Law, And Orientalism: A Critical Study of Joseph Schacht’s Theoretical Contributions |... doi.org/10.61590/jis.v1i1.208Hadith Law And Orientalism A Critical Study of Joseph SchachtAos Theoretical Contributions doi 10 61590 jis v1i1 208
  4. An Ideal Model for The Preparation of Internal Regulations of Universities in Indonesia Based on Meaningful... doi.org/10.26740/jsh.v7n2.p463-487An Ideal Model for The Preparation of Internal Regulations of Universities in Indonesia Based on Meaningful doi 10 26740 jsh v7n2 p463 487
Read online
File size453.36 KB
Pages24
DMCAReport

Related /

ads-block-test