IAIN MADURAIAIN MADURA

AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata SosialAL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial

Di Singapura, identitas Islam menjadi penting terutama karena Muslim dan Melayu memiliki status konstitusional khusus. Namun, kebijakan negara tampaknya bertentangan dengan status tersebut sementara komunitas masih menghadapi masalah keterbelakangan dalam perkembangan pendidikan dan ekonomi. Artikel ini memeriksa profil dan peran strategis dua organisasi Islam, MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura, Dewan Agama Islam Singapura) dan Pergas (Persatuan Ulama dan Guru-Guru Agama Islam Singapura), dalam mengakomodasi ekspresi dan merekonstruksi identitas Muslim Singapura. Melalui penelitian pustaka yang intensif dan menggunakan pendekatan interdisipliner dari perspektif konstruktivis sosial dan fiqh minoritas, artikel ini menemukan bahwa keduanya telah memainkan peran yang sangat penting dalam ekspresi dan konstruksi identitas Muslim Singapura. Ada dinamika kontestasi dan kerjasama antara kebijakan negara terhadap komunitas Muslim. Namun, efek global dari ekstremisme dan terorisme Islam telah menyatukan mereka dalam hal pemikiran agama, sikap, dan formulasi identitas Muslim Singapura yang ideal. Proses perubahan sikap mereka terhadap kebijakan pemerintah efektif karena fungsi fiqh minoritas dalam mengkontekstualisasikan ajaran Islam dalam konteks Singapura sebagai negara sekuler.

Studi ini telah mengungkapkan bahwa dinamika kontestasi dan kerjasama antara MUIS sebagai organisasi resmi dan Pergas sebagai masyarakat sipil telah menjadi kunci dalam melegitimasi identitas Muslim Singapura.Sementara MUIS memainkan peran ganda dalam menerapkan kebijakan negara yang berkaitan dengan Muslim serta dalam membimbing kehidupan Muslim, Pergas cenderung memihak kepentingan komunitas Muslim dan kritis terhadap MUIS dan negara.Namun, dengan efek global dari ekstremisme dan terorisme Islam pada masyarakat jaringan, MUIS dan Pergas bersatu dalam pandangan agama dan sikap termasuk formulasi identitas Muslim Singapura yang ideal.Pergas bahkan telah menyatakan diri sebagai sekutu pemerintah.Di sini, dengan fungsi fiqh minoritas, proses perubahan konstruksi identitas Islam menjadi efektif karena universalitas dan adaptabilitas ajaran Islam seperti penerimaan sekularisme dan loyalitas penuh terhadap pemerintah sekuler dikontekstualisasikan di Singapura sebagai negara sekuler yang kuat dengan masyarakat modern.Hubungan dialektis antara otoritas agama dan negara mungkin menjadi pelajaran dan model bagi komunitas Muslim minoritas lainnya di Barat atau negara sekuler lainnya.

Berdasarkan temuan penelitian ini, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan:. . 1. Mengkaji lebih lanjut peran organisasi agama dalam membentuk identitas Muslim di negara-negara sekuler lainnya, dengan fokus pada bagaimana mereka menavigasi tantangan dan peluang dalam konteks sosial dan politik yang berbeda.. . 2. Melakukan penelitian komparatif antara MUIS dan Pergas dengan organisasi agama serupa di negara-negara lain, untuk memahami strategi dan pendekatan yang unik dalam membangun identitas Muslim di lingkungan yang beragam.. . 3. Menjelajahi dampak globalisasi dan teknologi pada identitas Muslim, terutama dalam konteks Singapura sebagai negara sekuler dengan masyarakat modern. Bagaimana organisasi agama seperti MUIS dan Pergas menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan budaya yang cepat?.

  1. Constructing Muslim Identity in a Secular State: The Strategic Role of Two Singapore Islamic Organizations... doi.org/10.19105/al-lhkam.v18i1.6002Constructing Muslim Identity in a Secular State The Strategic Role of Two Singapore Islamic Organizations doi 10 19105 al lhkam v18i1 6002
Read online
File size343.58 KB
Pages27
DMCAReport

Related /

ads-block-test