IAINGAWIIAINGAWI

Al-Mabsut : Jurnal Studi Islam dan SosialAl-Mabsut : Jurnal Studi Islam dan Sosial

Penelitian ini mengkaji model dialogis Islam-Kristen yang muncul selama Hijra ke Abyssinia (615 M), sebuah peristiwa penting namun kurang diteliti dalam sejarah Islam awal. Meskipun banyak kajian tentang hubungan Muslim‑Kristen pada konteks masa pertengahan dan modern, dialogis khusus pada Hijra ke Abyssinia belum dianalisis secara sistematis. Penelitian ini mengadopsi tipologi dialogis antaragama, khususnya kerangka inklusivis‑pluralistik, terhadap narasi sejarah primer dalam Sirat Rasul Allah Ibn Hisham dan Al‑Rahiq al‑Makhtum. Metodologi kualitatif dengan pendekatan hermeneutik sejarah dilakukan melalui empat tahap: pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan sejarah. Hasilnya menunjukkan bahwa pertemuan antara Jafar ibn Abi Talib dengan Raja Negus berlangsung dalam tiga fase: konfrontasi, klarifikasi teologis, dan pengakuan bersama. Menurut penulis, fase ini membentuk model dialogis yang mencerminkan kerangka inklusivis‑pluralistik dan dapat menjadi precedent historis yang berharga bagi inisiatif dialogis Muslim‑Kristen kontemporer.

Studi ini menunjukkan bahwa Hijra hinweg Abyssinia pada 615 M bukan sekadar episode migrasi, melainkan respons strategis dan teologis terhadap penganiayaan masyarakat Muslim di Mekah.Keputusan Nabi Muhammad untuk mengarahkan umatnya ke Abyssinia dipengaruhi oleh komitmen Quranik, reputasi Raja Negus sebagai penguasa adil, hubungan dagang yang sudah mapan, dan kemiripan budaya-geografis antara dunia Arab dan Abyssinia.Selain itu, dialogis antara Jafar ibn Abi Talib dan Raja Negus menampilkan model dialogis Islam‑Kristen yang berlandaskan kejujuran teologis, empati, kebiasaan kultural, dan pengakuan nilai-nilai Abrahamik bersama.Model ini menunjukkan bahwa dialogis otentik Islam‑Kristen ini terkandung dalam sejarah dasar Islam dan relevan untuk hubungan antaragama di era kontemporer.Penelitian ini terbatas pada sumber-sumber utama Islam dan hanya membahas satu peristiwa.penelitian selanjutnya seharusnya menggabungkan sumber Geez Ethiopia, membandingkan pertemuan-pertemuan awal lain, dan menerapkan perspektif teoretis yang lebih luas seperti teori postkolonial atau trauma.

Mengingat keterbatasan penelitian ini yang hanya mengandalkan sumber Islam, peneliti selanjutnya dapat memperluas kajian dengan memanfaatkan teks Geez Eropa Abyssinia untuk memperoleh perspektif kebudayaan dan teologi lokal yang lebih mendalam. Selain itu, studi komparatif antara Hijra ke Abyssinia dengan peristiwa awal dialogis Muslim‑Kristen lainnya—seperti pertemuan di wilayah Nubia atau wilayah Irak Abbasiyah—akan membantu mengevaluasi kesamaan dan perbedaan dalam pola dialogis, sehingga dapat menghasilkan kerangka teoritis yang lebih bersifat universal. Akhirnya, menerapkan teori postkolonial atau trauma dalam analisis dialogis akan memperkaya pemahaman tentang dinamika kekuasaan, persepsi identitas, dan proses penyembuhan kolektif yang muncul setelah konflik awal, yang pada gilirannya dapat menghasilkan rekomendasi praktis bagi dialogis kontemporer yang ingin mengatasi dampak psikologis konflik religius.

  1. The Model of Muslim-Christian Dialogue in the Hijra to Abyssinia | Al-Mabsut : Jurnal Studi Islam dan... doi.org/10.56997/almabsut.v20i1.2973The Model of Muslim Christian Dialogue in the Hijra to Abyssinia Al Mabsut Jurnal Studi Islam dan doi 10 56997 almabsut v20i1 2973
Read online
File size293.33 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test