IAINGAWIIAINGAWI

Al-Mabsut : Jurnal Studi Islam dan SosialAl-Mabsut : Jurnal Studi Islam dan Sosial

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur nafi (penolakan) dan isbat (pengakuan) dalam naskah Suluk Rasul sebagai kerangka pembentukan kesadaran etis, dan mengartikulasikan relevansinya dalam mengatasi krisis etika kontemporer dan pembangunan berkelanjutan. Tujuan ini sangat penting karena krisis etika bukan hanya masalah regulasi atau kelemahan institusional, tetapi secara mendasar merupakan masalah kesadaran yang membutuhkan etika yang berakar pada pembersihan kesadaran batin. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif berbasis teks yang menggabungkan filologi modern, hermeneutika reflektif, dan analisis konseptual komparatif, penelitian ini menganalisis naskah Suluk Rasul, yang dianggap sebagai bab utama dari kompilasi Saerad. Sumber data primer adalah naskah itu sendiri, yang diproses melalui studi dokumen yang melibatkan transliterasi dari aksara Jawa ke Latin, verifikasi terminologi, dan pemetaan struktur bait. Analisis data dilakukan melalui empat tahap sistematis: (1) transliterasi, (2) pembacaan cermat untuk mengidentifikasi konsep kunci, (3) hermeneutika reflektif untuk menafsirkan makna teks dalam dialog dengan krisis etika kontemporer, dan (4) dialog teoritis melalui analisis konseptual komparatif dengan teknologi diri dan perawatan diri Foucault. Keabsahan interpretasi dijamin melalui triangulasi teoritis (dengan menggunakan kerangka etika normatif dan SDG 4 & SDG 16) dan prinsip kesetiaan teks. Temuan mengungkapkan bahwa nafi berfungsi sebagai penolakan ego dan larangan paworing karsa (campuran kehendak), sedangkan isbat berfungsi sebagai pengakuan tentang Keesaan Ilahi, yang ditemukan dalam bait ketiga dan keempat Dhandhanggula. Selain itu, empat kualitas batin - antêp (keteguhan), ikhlas (kesungguhan), têtêp titining tékat (keteguhan tekad), dan sampurna kang pêsthi (kesempurnaan takdir) - berfungsi sebagai indikator stabilitas emosional dan membentuk fondasi etika, yang ditemukan dalam bait ketujuh Dhandhanggula. Frasa wruha bedaning tunggal dalam bait kesepuluh Sinom mengartikulasikan kesadaran diferensial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nafi dan isbat dapat dipahami sebagai teknologi kesadaran yang membentuk subjek etis dalam hubungan kekuasaan, menawarkan kontribusi konseptual untuk pengembangan etika publik yang berbasis pada pembersihan kesadaran, pendidikan karakter, penguatan institusi, dan pembangunan berkelanjutan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Suluk Rasul berfungsi sebagai kerangka ontologis dan epistemologis untuk pembentukan kesadaran etis melalui struktur nafi dan isbat, yang dipahami bukan hanya sebagai rumus teologis tetapi sebagai mekanisme pembersihan kesadaran yang bergerak dari penolakan ego menuju pengakuan tentang Keesaan Ilahi.Empat kualitas batin antêp (keteguhan), ikhlas (lepas dari kepentingan diri), têtêp titining tékat (orientasi yang tidak goyah), dan sampurna kang pêsthi (kepastian eksistensial) berfungsi sebagai indikator stabilitas emosional yang membentuk fondasi etika, di mana kematangan moral ditandai oleh stabilitas afektif daripada hanya pengetahuan normatif.Dalam dialog dengan teori perawatan diri Foucault, nafi dan isbat dapat dipahami sebagai teknologi kesadaran yang membentuk subjek etis dalam hubungan kekuasaan, sekaligus menawarkan kerangka konseptual untuk pengembangan etika publik, pendidikan karakter, dan penguatan institusi yang didorong oleh integritas yang relevan dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDG 4 dan SDG 16).

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melakukan analisis kritis terhadap naskah Suluk Rasul dengan membandingkan berbagai versi naskah dari koleksi yang berbeda. Kedua, penelitian empiris diperlukan untuk menguji model nafi dan isbat dalam program pelatihan anti-korupsi atau pendidikan karakter di institusi publik. Ketiga, studi komparatif lintas tradisi Sufisme Nusantara dapat dilakukan untuk memperkuat validitas dan generalisasi temuan, serta mengevaluasi efektivitas penerapan kerangka etika kesadaran yang diusulkan.

  1. Javanese Sufism Transformed: Sunan Bonang's Influence on Contemporary Spiritual Practices | Al Yazidiy... doi.org/10.55606/ay.v7i2.1732Javanese Sufism Transformed Sunan Bonangs Influence on Contemporary Spiritual Practices Al Yazidiy doi 10 55606 ay v7i2 1732
  2. Nafi-Isbat and the Prophet’s Path as a Framework for Contemporary Ethical Consciousness | Al-Mabsut... ejournal.iaingawi.ac.id/index.php/almabsut/article/view/2955Nafi Isbat and the ProphetAos Path as a Framework for Contemporary Ethical Consciousness Al Mabsut ejournal iaingawi ac index php almabsut article view 2955
Read online
File size718.22 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test