IAINIAIN

Journal Of Biology EducationJournal Of Biology Education

Penurunan produksi kedelai dalam negeri telah meningkatkan ketergantungan Indonesia terhadap impor, sehingga perlu dieksplorasi bahan baku lokal non-kedelai untuk mendukung keamanan pangan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan menganalisis tempeh non-kedelai sebagai alternatif tempeh kedelai dan untuk memeriksa potensinya sebagai sumber belajar kontekstual dalam pendidikan sains tentang gizi, sambil mempertimbangkan konsep halalan thayyiban. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: formulasi tempeh non-kedelai, analisis proximate tempeh biji pohon hujan, dan tinjauan pustaka tentang kandungan gizi berbagai jenis tempeh non-kedelai dan potensinya sebagai sumber belajar sains yang selaras dengan prinsip-prinsip halalan thayyiban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis tempeh non-kedelai memiliki karakteristik gizi yang berbeda dan potensial sebagai alternatif makanan fermentasi kaya protein pengganti tempeh kedelai. Dari perspektif halalan thayyiban, proses produksi menekankan nilai gizi, kebersihan, keamanan, dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip makanan halal. Penggunaan bahan baku lokal juga mempromosikan kemandirian dan memperkuat keamanan pangan. Kesimpulannya, tempeh non-kedelai adalah makanan yang bergizi dan sesuai dengan halalan thayyiban yang memiliki potensi sebagai sumber belajar kontekstual dalam pendidikan sains.

Penelitian ini berhasil merumuskan tempeh non-kedelai menggunakan lima jenis legum lokal biji pohon hujan, leucaena, biji nangka, kacang hijau, dan kacang tanah sebagai alternatif yang layak bagi tempeh kedelai.Analisis proximate dan data gizi pendukung menunjukkan bahwa setiap jenis tempeh non-kedelai memiliki karakteristik gizi yang berbeda.tempeh leucaena mengandung protein tertinggi, tempeh kacang tanah memiliki lemak dan energi tertinggi, sedangkan tempeh biji pohon hujan menawarkan protein sedang dengan kandungan karbohidrat rendah.Temuan ini menunjukkan bahwa legum non-kedelai memiliki potensi sebagai alternatif makanan fermentasi kaya protein.Selain itu, tempeh non-kedelai dapat diterapkan sebagai sumber belajar kontekstual dalam pendidikan sains tingkat sekolah menengah pertama, khususnya pada topik gizi, dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip halalan thayyiban untuk memastikan bahwa produk tersebut bergizi, aman, higienis, dan selaras dengan nilai-nilai diet Islam.

Berdasarkan temuan dan keterbatasan penelitian ini, beberapa rekomendasi dapat diberikan. Penelitian selanjutnya harus melakukan analisis proximate lengkap pada semua jenis tempeh non-kedelai untuk memperoleh data gizi di bawah kondisi laboratorium yang sama. Selain itu, evaluasi keamanan makanan, termasuk pengujian alergenisitas, diperlukan, terutama untuk legum seperti kacang tanah dan leucaena yang memiliki potensi alergenis yang lebih tinggi. Penelitian tentang ketersediaan bahan baku dan studi kelayakan untuk produksi berskala besar juga diperlukan, mengingat beberapa legum yang digunakan dalam penelitian ini mungkin musiman. Untuk implementasi pendidikan, studi lebih lanjut harus menerapkan proyek tempeh non-kedelai dalam pengaturan kelas nyata menggunakan lembar observasi, penilaian kinerja, atau perbandingan dengan kelas kontrol untuk mengukur dampaknya pada keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif siswa. Akhirnya, peneliti dan pendidik didorong untuk mengembangkan bahan instruksional atau modul pembelajaran berdasarkan produksi tempeh non-kedelai untuk mendukung pembelajaran sains kontekstual dan berbasis inquiry dalam topik gizi.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1186/s42779-024-00263-1Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1186 s42779 024 00263 1
  2. Theoretical model and quantitative assessment of scientific thinking and reasoning | Phys. Rev. Phys.... doi.org/10.1103/PhysRevPhysEducRes.18.010115Theoretical model and quantitative assessment of scientific thinking and reasoning Phys Rev Phys doi 10 1103 PhysRevPhysEducRes 18 010115
  3. Healthy Living in Islam: The Principle of Halal and Its Implications for Health | ENDLESS: INTERNATIONAL... endless-journal.com/index.php/endless/article/view/324Healthy Living in Islam The Principle of Halal and Its Implications for Health ENDLESS INTERNATIONAL endless journal index php endless article view 324
  4. Journal Pedagogical Almanac. journal pedagogical almanac st cyril methodius university veliko tarnovo doi.org/10.54664/bvwv5882Journal Pedagogical Almanac journal pedagogical almanac st cyril methodius university veliko tarnovo doi 10 54664 bvwv5882
Read online
File size367.25 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test