IAPIIAPI

Proceeding Auditing and Accounting ConferenceProceeding Auditing and Accounting Conference

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kinerja lingkungan terhadap pengungkapan corporate sosial responsibility dengan ukuran dewan komisaris sebagai variabel moderasi. Pengukuran kinerja lingkungan menggunakan daftar peringkat PROPER, sedangkan pengungkapan corporate sosial responsibility menggunakan pengukuran indeks GRI G4 yang dilihat melalui laporan tahunan perusahaan. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan sektor energi yang terdaftar di PROPER dan Bursa Efek Indonesia tahun 2021-2022. Sampel yang didapat sebanyak 24 perusahaan dengan 2 tahun pengamatan. Jadi, total sampel yang diteliti berjumlah 48. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja lingkungan tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan corporate sosial responsibility. Sementara ukuran dewan komisaris sebagai variabel moderasi, tidak mampu memoderasi hubungan antara kinerja lingkungan terhadap pengungkapan corporate sosial responsibility.

Kinerja lingkungan terbukti tidak mempengaruhi pengungkapan CSR, bahkan perusahaan dengan peringkat PROPER terbaik pun tidak selalu mengungkapkan CSR secara komprehensif.Ini menunjukkan bahwa kinerja lingkungan yang baik tidak secara otomatis mendorong transparansi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.Selain itu, ukuran dewan komisaris juga tidak mampu memoderasi hubungan antara kinerja lingkungan dan pengungkapan CSR, kemungkinan karena kompleksitas tugas dewan yang menghambat pengawasan efektif.

Penelitian mendatang dapat menyelidiki lebih dalam alasan mengapa perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan baik berdasarkan peringkat PROPER, seringkali tidak secara transparan dan lengkap mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mereka. Apakah ada faktor internal seperti budaya organisasi, komitmen manajemen puncak terhadap etika dan keberlanjutan, atau strategi komunikasi perusahaan yang memengaruhi keputusan untuk mengungkapkan informasi CSR secara sukarela? Selain itu, sangat menarik untuk mempelajari peran dewan komisaris tidak hanya dari segi jumlah anggotanya, tetapi juga karakteristik kualitatifnya. Misalnya, bagaimana komposisi dewan komisaris, seperti proporsi komisaris independen, latar belakang keahlian (terutama di bidang lingkungan atau sosial), atau bahkan keragaman gender, bisa memengaruhi efektivitas pengawasan terhadap pengungkapan CSR? Penelitian bisa mengeksplorasi apakah dewan dengan keahlian spesifik atau komposisi yang lebih beragam cenderung mendorong tingkat transparansi yang lebih tinggi. Studi selanjutnya juga bisa memperluas fokus ke sektor industri lain selain energi, untuk melihat apakah temuan serupa berlaku di sektor dengan dampak lingkungan yang berbeda, atau membandingkan praktik pengungkapan CSR antara perusahaan yang diwajibkan oleh regulasi dan yang melakukannya secara proaktif. Terakhir, meneliti variabel moderasi atau mediasi lain yang mungkin lebih kuat dalam menjelaskan hubungan antara kinerja lingkungan dan pengungkapan CSR, seperti tekanan dari kelompok pemangku kepentingan (misalnya LSM lingkungan atau media) atau tingkat inovasi hijau yang dilakukan perusahaan, akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika ini.

Read online
File size220.32 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test