STAIALHIKMAHPARIANGANSTAIALHIKMAHPARIANGAN

Journal International Inspire Education TechnologyJournal International Inspire Education Technology

Kehilangan orang yang dicintai merupakan pengalaman emosional yang mengganggu dan sering mengubah dunia batin seseorang. Novel Sendiri karya Tere Liye menggambarkan gejolak tersebut melalui perjuangan protagonis setelah kematian pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana tokoh utama menavigasi transformasi emosionalnya sepanjang proses berduka. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, analisis menggunakan kutipan naratif dari novel dan menginterpretasikannya melalui lima tahap berduka menurut Elisabeth Kübler‑Ross. Data dikumpulkan melalui teknik membaca dan pencatatan, kemudian dianalisis dengan analisis isi. Temuan menunjukkan bahwa proses berduka protagonis tidak hanya berupa progres linear melalui penolakan, kemarahan, tawar‑menawar, depresi, dan penerimaan, melainkan perjalanan kompleks yang ditandai oleh keraguan, kemunduran emosional, dan rekonstruksi diri secara bertahap. Pergerakan menuju penerimaan mencerminkan tidak hanya pengakuan kehilangan tetapi juga munculnya makna baru serta ketahanan pribadi, menegaskan bahwa berduka dalam novel berfungsi sebagai perjalanan psikologis transformatif, bukan sekadar rangkaian respons emosional.

Berdasarkan hasil penelitian, tokoh utama dalam novel Sendiri karya Tere Liye mengalami proses berduka lengkap melalui lima tahap.Penolakan ditandai oleh keyakinan bahwa istrinya masih hidup, kemarahan muncul sebagai upaya menolak realitas, tawar‑menawar tercermin dalam keinginan mengembalikan situasi sebelumnya, sedangkan depresi terlihat melalui gangguan makan, enggan berbicara, dan hilangnya semangat hidup.Akhirnya, penerimaan realitas membawa tokoh kembali ke kehidupan normal, menunjukkan bahwa setiap individu, tanpa memandang gender, usia, atau profesi, memiliki cara dan waktu masing‑masing untuk mencapai tahap penerimaan sebagai proses pemulihan diri yang penting untuk kembali hidup damai.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi perbedaan persepsi pembaca terhadap tahapan berduka dalam novel Sendiri, khususnya dengan membandingkan respons emosional antara pembaca laki‑laki dan perempuan untuk mengidentifikasi perbedaan gender dalam proses berduka literer; selanjutnya, sebuah studi longitudinal dapat dilakukan untuk menelusuri dampak jangka panjang pembacaan novel yang mengangkat tema berduka terhadap kesehatan mental pembaca, mengukur perubahan tingkat stres, kecemasan, dan rasa empati selama beberapa bulan pasca‑membaca; terakhir, pendekatan interdisipliner yang menggabungkan analisis naratif dengan metode neuro‑sains dapat diterapkan untuk menginvestigasi aktivasi otak saat pembaca mengalami fase penolakan hingga penerimaan, sehingga memperkaya pemahaman tentang hubungan antara proses kognitif dan emosional dalam konteks sastra.

Read online
File size262.5 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test