STAIALHIKMAHPARIANGANSTAIALHIKMAHPARIANGAN

Journal International Inspire Education TechnologyJournal International Inspire Education Technology

Peserta didik lambat belajar (Slow Learners), yang didefinisikan sebagai mereka dengan rentang IQ 69-89, merupakan kategori anak berkebutuhan khusus yang memerlukan layanan pendidikan inklusif yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan belajar mereka untuk membantu mengembangkan potensi mereka secara optimal. Penelitian yang ada mengenai layanan bagi peserta didik lambat belajar sebagian besar berfokus pada desain kurikulum, metodologi pengajaran, dan kesiapan guru, sementara penyediaan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik mereka masih belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan sumber belajar yang sesuai di sekolah inklusif bagi peserta didik lambat belajar. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, Diskusi Kelompok Terfokus (FGD), dan observasi di dua sekolah dasar di lima kota: Padang, Tangerang Selatan, Bandung, Yogyakarta, dan Malang, dengan sumber data meliputi kepala sekolah, guru kelas, guru pendidikan khusus, dan sumber belajar yang tersedia di sekolah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: 1) Peserta didik lambat belajar di semua sekolah tidak mudah diidentifikasi melalui observasi fisik; 2) mereka memiliki karakteristik yang memerlukan layanan pendidikan khusus; dan 3) sumber belajar yang sesuai, seperti alat peraga, bahan ajar, buku teks, modul pembelajaran, dan perangkat TIK, tidak tersedia secara universal di semua sekolah. Studi ini merekomendasikan peningkatan keterlibatan pemerintah dan pihak eksternal untuk memperbaiki penyediaan dan pemanfaatan sumber belajar yang lebih baik guna mendukung perkembangan peserta didik lambat belajar di sekolah.

Secara umum, sumber belajar yang dibutuhkan peserta didik lambat belajar untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran masih belum memadai dan tidak selaras dengan kebutuhan spesifik mereka di sebagian besar sekolah inklusif.Peserta didik lambat belajar, meskipun secara fisik mungkin serupa dengan teman sebayanya, memerlukan layanan pendidikan khusus dan sumber belajar yang disesuaikan seperti alat peraga, bahan ajar, buku teks, modul, dan perangkat TIK, yang saat ini hanya tersedia terbatas di beberapa sekolah.Oleh karena itu, direkomendasikan agar sekolah inklusif meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas sumber belajar yang terspesialisasi, serta pemerintah dan pemangku kepentingan perlu berkolaborasi secara proaktif untuk memastikan pengadaan dan pemanfaatan yang optimal guna mendukung pengalaman belajar yang berkualitas bagi peserta didik lambat belajar.

Studi ini mengidentifikasi kesenjangan signifikan dalam ketersediaan dan kesesuaian sumber belajar bagi peserta didik lambat belajar di sekolah inklusif. Berangkat dari temuan tersebut, penelitian lanjutan dapat berfokus pada pengembangan dan evaluasi dampak dari paket sumber belajar inovatif yang disesuaikan secara komprehensif, seperti modul digital interaktif atau alat bantu multi-sensori, untuk meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar peserta didik lambat belajar di sekolah dasar inklusif. Selain itu, penting untuk meneliti model pengembangan profesional guru yang paling efektif, yang dirancang khusus untuk meningkatkan kompetensi guru kelas dan guru pendidikan khusus dalam mendesain, mengadaptasi, serta memanfaatkan sumber belajar yang terdiferensiasi dan teknologi informasi komunikasi (TIK) secara optimal, termasuk mengatasi tantangan integrasi kurikulum. Penelitian lain dapat mengeksplorasi perancangan dan penilaian keberlanjutan kerangka kolaborasi multi-pihak yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, penyedia teknologi, dan orang tua, guna menciptakan ekosistem yang efektif dalam penyediaan, pemeliharaan, dan pembaruan sumber belajar serta teknologi adaptif yang berkualitas tinggi bagi peserta didik lambat belajar pada skala yang lebih luas. Saran penelitian ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan unik peserta didik lambat belajar secara sistematis dan berkelanjutan.

  1. PeerJ Accessible interactive learning of mathematical expressions for school students with visual disabilities.... doi.org/10.7717/PEERJ-CS.2599PeerJ Accessible interactive learning of mathematical expressions for school students with visual disabilities doi 10 7717 PEERJ CS 2599
  2. Analysis of programmes aimed at promoting inclusive education through creative strategies | Revista Complutense... revistas.ucm.es/index.php/RCED/en/article/view/82449Analysis of programmes aimed at promoting inclusive education through creative strategies Revista Complutense revistas ucm es index php RCED en article view 82449
  3. Using the Powtoon Application as A Learning Media in Elementary School | Journal International Inspire... ejournal.staialhikmahpariangan.ac.id/Journal/index.php/JIIET/article/view/38Using the Powtoon Application as A Learning Media in Elementary School Journal International Inspire ejournal staialhikmahpariangan ac Journal index php JIIET article view 38
  4.  . 0 mdpi.com/2227-7102/14/10/1072A 0 mdpi 2227 7102 14 10 1072
  5. DEVELOPING FUNCTIONAL MULTILINGUALISM IN STUDENT AUDIENCES WITH BELARUSIAN MAJORITY: PRACTICAL PROPOSAL... journals.ehu.lt/index.php/topos/article/view/1387DEVELOPING FUNCTIONAL MULTILINGUALISM IN STUDENT AUDIENCES WITH BELARUSIAN MAJORITY PRACTICAL PROPOSAL journals ehu lt index php topos article view 1387
Read online
File size283.31 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test