POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA

KIAKIA

Stunting tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, terutama di daerah perkotaan seperti Jakarta Utara. Praktik pengasuhan ibu, termasuk perilaku makan, kebersihan, dan pemanfaatan layanan kesehatan, diakui sebagai faktor kunci yang mempengaruhi hasil gizi anak. Namun, di komunitas tertentu seperti Posyandu RW 010, di mana lima bayi stunting telah diidentifikasi, dinamika pengasuhan yang mendasar tetap kurang dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi praktik pengasuhan ibu, termasuk perilaku makan, kebersihan, dan pemanfaatan layanan kesehatan di antara ibu-ibu bayi stunting di Posyandu RW 010, Jakarta Utara, untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kasus stunting yang berkelanjutan. Studi kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi praktik pengasuhan ibu di antara ibu-ibu bayi stunting di RW 010, Desa Tugu Utara, Jakarta Utara, Indonesia. Data dikumpulkan pada Desember 2024 melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan tinjauan dokumen. Peserta termasuk tiga ibu bayi stunting, satu kader Posyandu, dan satu pemimpin komunitas lokal, yang dipilih melalui sampling purposive berdasarkan kriteria inklusi seperti tingkat pendidikan yang rendah, status bayi stunting, dan kesediaan untuk berpartisipasi. Data dianalisis secara tematik menggunakan reduksi data, tampilan, dan penarikan kesimpulan. Triangulasi diterapkan di seluruh sumber data, teknik pengumpulan data, dan informan untuk meningkatkan kredibilitas. Temuan mengungkapkan praktik pengasuhan yang kurang optimal, pemberian ASI eksklusif yang tidak lengkap, makanan pelengkap yang tidak seimbang dan monoton (misalnya, mencuci tangan tanpa sabun), dan pemanfaatan layanan kesehatan yang tidak konsisten, dengan beberapa anak yang melewatkan imunisasi. Meskipun adanya layanan kesehatan dan dukungan suami, bantuan yang terbatas dari keluarga besar dan kesenjangan dalam pengetahuan ibu juga dicatat. Batasan ekonomi dan keyakinan budaya juga mempengaruhi praktik pengasuhan. Studi ini menekankan kompleksitas interaksi antara perilaku ibu, lingkungan rumah tangga, dan dukungan sosial dalam persistensi stunting. Pendekatan kualitatif memungkinkan pemahaman mendalam tentang dinamika pengasuhan lokal yang mungkin tidak tertangkap melalui survei kuantitatif. Penguatan pendidikan kesehatan, terutama yang disesuaikan dengan konteks lokal, dan perluasan keterlibatan keluarga dan komunitas sangat penting untuk meningkatkan upaya pencegahan stunting.

Studi ini menekankan kompleksitas pengasuhan ibu dalam hubungannya dengan stunting pada bayi di lingkungan perkotaan berpenghasilan rendah.Meskipun komitmen ibu yang kuat dan kehadiran rutin di Posyandu, kesenjangan tetap ada dalam praktik pemberian makan pelengkap, perilaku kebersihan, dan pemanfaatan layanan kesehatan.Kebanyakan ibu memberikan perawatan langsung dan menerima dukungan suami, tetapi stunting tetap terjadi, menunjukkan bahwa motivasi saja tidak cukup tanpa pengetahuan yang tepat dan sistem dukungan yang konsisten.Temuan ini menyoroti implikasinya untuk praktik kebidanan dan kesehatan masyarakat.Intervensi harus berfokus pada penguatan konseling di Posyandu dengan demonstrasi praktis tentang pemberian makan yang benar, pengasuhan responsif, dan praktik kebersihan seperti mencuci tangan dengan sabun.Program juga harus melibatkan ayah dan anggota keluarga lainnya, mengintegrasikan pendidikan yang berpusat pada keluarga untuk meningkatkan tanggung jawab bersama dalam pengasuhan.Pada tingkat kebijakan, diperlukan upaya untuk mengstandarkan protokol konseling, mengalokasikan sumber daya untuk kegiatan stimulasi pertumbuhan, dan memastikan layanan komprehensif di Posyandu, termasuk follow-up imunisasi yang fleksibel.Penelitian masa depan harus memeriksa efektivitas intervensi terintegrasi yang menggabungkan pendidikan gizi, promosi kebersihan, dan strategi keterlibatan keluarga.Studi campuran metode dan longitudinal di berbagai pengaturan direkomendasikan untuk memahami lebih baik hambatan struktural dan budaya dan mengevaluasi intervensi yang dapat mengurangi stunting secara berkelanjutan.

Untuk mengurangi stunting, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Pertama, penting untuk memperkuat konseling di Posyandu dengan demonstrasi praktis tentang praktik pemberian makan yang benar, termasuk frekuensi, komposisi, dan manajemen camilan. Konseling juga harus mencakup lingkungan makan yang optimal, seperti mengurangi gangguan saat makan. Kedua, perlu ada upaya untuk meningkatkan keterlibatan keluarga, terutama ayah dan anggota keluarga lainnya. Pendidikan yang berpusat pada keluarga dapat membantu mengintegrasikan semua anggota keluarga dalam pengasuhan dan memastikan tanggung jawab bersama dalam memberikan perawatan yang optimal. Ketiga, penting untuk memastikan bahwa layanan kesehatan yang tersedia di Posyandu, seperti imunisasi dan pemantauan pertumbuhan, dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya layanan ini, serta memastikan bahwa jadwal imunisasi diikuti dengan ketat. Akhirnya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pengasuhan ibu dan dampak mereka pada stunting. Studi longitudinal dan intervensi dapat membantu mengidentifikasi strategi yang efektif dalam mengurangi stunting dan meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan.

Read online
File size521.11 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test