UMMAUMMA

Jurnal EboniJurnal Eboni

Community Forestry adalah skema Perhutanan Sosial yang dirancang untuk memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dengan memberikan akses legal kepada pengelolaan hutan negara yang berkelanjutan. Kelompok Petani Hutan Assamaturu termasuk salah satu penerima izin perhutanan sosial dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2022, sebagaimana tercantum dalam SK.10330/MENLHK‑PSKL/PKPS/PSL.0/12/2022 tanggal 27 Desember 2022, yang mencakup wilayah seluas 110 hektar. Saat ini dua kelompok usaha perhutanan sosial sedang dikembangkan, yaitu agroforestry dan pariwisata. Kawasan tersebut memiliki potensi sumber daya alam yang signifikan, yang menjadi aset utama bagi pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi jasa lingkungan yang terdapat pada kawasan Hutan Kemasyarakatan Assamaturu di Desa Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Pendekatan deskriptif kualitatif diterapkan dengan menggunakan observasi lapangan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hutan Kemasyarakatan (HKm) Assamaturu mencakup empat kategori utama jasa lingkungan berdasarkan klasifikasi MEA (2005), yaitu: (1) jasa penyediaan, meliputi air bersih, air irigasi pertanian, dan hasil hutan bukan kayu; (2) jasa pengaturan, seperti regulasi iklim mikro dan pengelolaan air; (3) jasa budaya, meliputi peluang ekowisata seperti wisata air terjun, area camping, wahana bermain air, jalur sepeda gunung, aktivitas flying fox, serta nilai spiritual budaya; dan (4) jasa penunjang berupa keanekaragaman hayati. Potensi penuh dari jasa‑jasa tersebut belum terealisasi karena terbatasnya modal usaha untuk pengembangan infrastruktur. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi pengelolaan dan pemanfaatan jasa lingkungan di kawasan Hutan Kemasyarakatan Assamaturu, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mempertahankan fungsi ekologi kawasan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Assamaturu memiliki potensi jasa lingkungan yang beragam dan bernilai tinggi, meliputi jasa penyediaan (air bersih, irigasi, dan hasil hutan bukan kayu), jasa pengaturan (iklim mikro dan tata air), jasa budaya (wisata alam serta nilai spiritual lokal), dan jasa penunjang (keanekaragaman hayati).Meskipun demikian, pemanfaatannya belum optimal akibat keterbatasan permodalan dan infrastruktur.Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa potensi jasa lingkungan di HKm Assamaturu sangat layak untuk dikembangkan secara sistematis dan kolaboratif sebagai model pengelolaan berbasis masyarakat yang mampu mendukung konservasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Penelitian lanjutan dapat diarahkan pada tiga aspek utama. Pertama, bagaimana skema mikro‑finansial dapat meningkatkan akses modal bagi pengembangan infrastruktur jasa lingkungan di HKm Assamaturu? Penelitian ini dapat menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei pada anggota kelompok tani dan analisis dampak finansial. Kedua, sejauh mana partisipasi masyarakat dalam pemantauan biodiversitas dan jasa ekosistem dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan? Studi ini dapat mengembangkan dan menguji alat pemantauan berbasis komunitas serta mengevaluasi keakuratan data dibandingkan dengan metode konvensional. Ketiga, bagaimana nilai ekonomi jasa wisata budaya (seperti air terjun, camping ground, flying‑fox) berubah di bawah skenario pengelolaan yang berbeda? Dengan membangun model ekonometrik yang mengintegrasikan data kunjungan, pendapatan, dan biaya operasional, penelitian dapat memberikan rekomendasi kebijakan bagi pengelolaan berkelanjutan. Ketiga arah penelitian ini diharapkan memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai faktor‑faktor yang mempengaruhi keberlanjutan ekonomi dan sosial di kawasan Hutan Kemasyarakatan Assamaturu.

Read online
File size547.22 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test