STAI YPBWISTAI YPBWI

Journal of Early Childhood Education StudiesJournal of Early Childhood Education Studies

Gangguan kecemasan pada anak usia dini sering muncul melalui perilaku penakut berlebih, namun diagnostik dini masih sulit di Indonesia karena kurangnya kesadaran dan sumber daya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator diagnostik dini gangguan kecemasan pada anak prasekolah yang menunjukkan ketakutan persisten, mengembangkan alat skrining yang disesuaikan secara budaya untuk konteks Indonesia, dan mengevaluasi efektivitasnya melalui analisis kasus. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif berbasis analisis data sekunder dan sintesis literatur dari rekam klinis serta laporan psikologis yang ada di Indonesia. Data diperoleh dari kasus terdokumentasi anak usia tiga hingga enam tahun, dianalisis melalui wawancara orang tua dan guru yang tersimpan di basis data kesehatan, menggunakan Preschool Anxiety Scale versi Indonesia, serta penilaian klinis ahli. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola perilaku tanpa terjun ke lapangan. Hasil menunjukkan anak penakut umumnya menampilkan gejala inti seperti kecemasan pemisahan, penghindaran situasi baru, dan keluhan somatik seperti sakit perut. Penanda diagnostik dini mencakup tangisan berkepanjangan di lingkungan baru dan gangguan pola tidur. Alat skrining yang disesuaikan terbukti andal dan efektif membedakan kasus kecemasan dari ketakutan normal. Intervensi seperti terapi bermain secara nyata mengurangi gejala pada kasus follow-up terdokumentasi. Temuan ini menekankan perlunya skrining rutin di pendidikan anak usia dini Indonesia untuk memungkinkan intervensi tepat waktu dan mengurangi risiko kesehatan mental jangka panjang.

Penelitian ini berhasil mengidentifikasi tiga indikator diagnostik dini utama gangguan kecemasan pada anak usia dini di Indonesia, yaitu kecemasan pemisahan persisten, penghindaran situasi baru, dan keluhan somatik tanpa dasar medis.Kerangka skrining empat tingkat risiko yang dikembangkan berbasis PAS-ID terbukti efektif membedakan kecemasan patologis dari ketakutan normal melalui analisis data sekunder arsip klinis.Penelitian lanjutan disarankan untuk melakukan validasi longitudinal kerangka ini pada sampel yang lebih luas dengan variasi geografis serta pengembangan platform digital nasional untuk skrining massal berbasis bukti di lembaga PAUD Indonesia.

Penelitian lanjutan perlu mengembangkan studi longitudinal untuk memvalidasi efektivitas kerangka skrining empat tingkat pada sampel yang lebih luas dan beragam secara geografis. Selain itu, perlu dilakukan pengembangan platform digital nasional berbasis bukti untuk skrining massal di lembaga pendidikan anak usia dini, terutama di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan mental. Selanjutnya, penelitian juga dapat mengeksplorasi integrasi teknologi informasi dengan metode tradisional untuk meningkatkan akurasi deteksi dini gangguan kecemasan, serta mengevaluasi dampak intervensi berbasis teknologi terhadap perkembangan emosional anak dalam jangka panjang.

  1. Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar | Scholaria: Jurnal Pendidikan... ejournal.uksw.edu/scholaria/article/view/6511Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar Scholaria Jurnal Pendidikan ejournal uksw edu scholaria article view 6511
Read online
File size284.83 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test