JABARPROVJABARPROV

Creative Research JournalCreative Research Journal

Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung merupakan wilayah strategis yang menyumbang lebih dari 20% PDRB Jawa Barat, namun pertumbuhan ekonominya menghadapi tantangan serius berupa risiko ketimpangan spasial antara wilayah inti dan pinggiran. Penelitian ini hadir untuk menganalisis dinamika tersebut guna mengidentifikasi kecenderungan spreading effect dan backwash effect dalam kerangka Teori Growth Pole. Metode penelitian menerapkan pendekatan campuran aspasial dan spasial menggunakan data periode 2018-2024. Analisis aspasial melalui Indeks Williamson dan Entropi Theil mengonfirmasi tren peningkatan ketimpangan yang konsisten, ditandai dengan kenaikan nilai Indeks Williamson dari 0,66 (2018) menjadi 0,70 (2024), serta peningkatan nilai Entropi Theil dari 0,15 (2018) menjadi 0,30 (2024). Sementara itu, analisis spasial menggunakan Kernel Density Estimation (KDE) pada variabel ekonomi, kependudukan, dan aksesibilitas mengungkapkan pola pemusatan yang masif. Hasil studi membuktikan dominasi Kota Bandung sebagai inti memicu backwash effect yang melemahkan wilayah penyangga, khususnya penurunan peringkat ekonomi Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat akibat migrasi sumber daya dan dampak pandemi. Temuan ini mengindikasikan terjadinya monopoli kutub pertumbuhan, sehingga diperlukan strategi pembentukan pusat pertumbuhan sekunder dan pemerataan aksesibilitas regional untuk mendorong distribusi pembangunan yang lebih berimbang.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung mengalami peningkatan ketimpangan antar kabupaten/kota di dalamnya dimana Kota Bandung masih memiliki kecenderungan untuk mendominasi wilayah sekitarnya sehingga fenomena backwash effect lebih dominan terjadi dibandingkan spreading effect.Hal ini juga didukung oleh adanya penurunan ranking dari segi perekonomian yang dialami oleh KBB dan stagnansi yang dialami oleh Kota Cimahi dimana kondisi keduanya diakibatkan oleh migrasi tenaga kerja dan keterbatasan penyerapan sumber daya lokal.Selain itu, berkaitan dengan adanya fenomena pandemi COVID-19, ditunjukkan bahwa wilayah inti (Kota Bandung) mengalami penurunan/pelemahan intensitas dari segi aktivitas ekonominya sedangkan wilayah pinggiran justru mengalami peningkatan/penguatan dari segi aktivitas ekonominya.Namun begitu, setelah melewati periode adaptasi tersebut (2021 hingga 2024), Kota Bandung kembali mendominasi di (2024) dikarenakan dorongan peran kewilayahan sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat.Kesimpulan terakhir tahun terakhir, keberadaan Peraturan Presiden No.45 tahun 2018 yang menjadi landasan hukum Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung belum mampu secara optimal untuk mendorong terjadinya spreading effect meskipun sudah ada perencanaan pusat-pusat pertumbuhan baru.Justru, secara empiris dalam 6 tahun terakhir lebih banyak didominasi terjadinya backwash effect.

Berdasarkan hasil penelitian, diperlukan beberapa rekomendasi baik secara teoritis maupun teknis untuk mengurangi terjadinya backwash effect dan mendorong adanya spreading effect pada Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Pertama, pemangku kepentingan perlu mengembangkan strategi taktis (action plan) untuk mendorong terciptanya secondary growth pole dengan memusatkan sektor unggulan (leading industry) pada wilayah pinggiran (periphery). Kedua, pemangku kepentingan perlu mendorong pemerataan aksesibilitas regional sebagai strategi utama untuk mengintegrasikan wilayah pinggiran (periphery) secara langsung dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Ketiga, pemangku kepentingan perlu fokus pada kecamatan yang paling parah terdampak backwash effect yaitu Kecamatan Cimahi Utara, Cimahi Tengah, dan Ngamprah dengan mengembangkan program-program berorientasi perlindungan tenaga kerja dan peningkatan kinerja UMKM. Keempat, keberadaan Badan Pengelola (BP) Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung harus memainkan peran strategis dalam mengarahkan dan mendistribusikan investasi secara lebih merata di seluruh kawasan metropolitan. Arus investasi cenderung terkonsentrasi di Kota Bandung sebagai wilayah inti, sehingga memperlebar kesenjangan dengan wilayah pinggiran. BP Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung perlu mengembangkan mekanisme insentif, kemudahan perizinan, serta promosi investasi yang secara khusus menargetkan wilayah periphery. Dengan demikian, diperlukan perencanaan investasi berbasis potensi lokal dan keunggulan komparatif masing-masing wilayah agar investor melihat wilayah pinggiran tidak hanya sebagai alternatif lokasi, tetapi sebagai destinasi investasi yang layak dan berkelanjutan. Pendekatan kelembagaan ini diharapkan mampu mendorong keseimbangan struktural pembangunan ekonomi di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung secara jangka panjang.

  1. ANALYSIS OF SPREADING AND BACKWASH EFFECT PATTERNS IN EXPLORING GROWTH POLE THEORY (CASE STUDY: BANDUNG... crjournal.jabarprov.go.id/index.php/crj/article/view/451ANALYSIS OF SPREADING AND BACKWASH EFFECT PATTERNS IN EXPLORING GROWTH POLE THEORY CASE STUDY BANDUNG crjournal jabarprov go index php crj article view 451
  2. Ketimpangan, Pola Spasial, dan Kinerja Pembangunan Wilayah di Provinsi Jawa Timur | Journal of Regional... journal.ipb.ac.id/index.php/p2wd/article/view/26982Ketimpangan Pola Spasial dan Kinerja Pembangunan Wilayah di Provinsi Jawa Timur Journal of Regional journal ipb ac index php p2wd article view 26982
  3. Economic Journal of Emerging Markets. economic growth income inequality regional economy journal emerging... journal.uii.ac.id/JEP/article/view/10677Economic Journal of Emerging Markets economic growth income inequality regional economy journal emerging journal uii ac JEP article view 10677
Read online
File size929.11 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test