ISKIISKI

Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi IndonesiaJurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Di era modern ini, hijab tidak lagi menjadi eksklusifitas dari kelompok tertentu. Makna hijab telah berkembang dan diterima luas di masyarakat. Meskipun hijab merupakan kewajiban bagi wanita muslim, hijab juga menjadi pernyataan mode. Penerimaan hijab yang semakin luas telah melahirkan brand hijab lokal. Artikel ini meneliti penggunaan media sosial, khususnya Instagram, untuk mempelajari komunikasi antara kelompok pengguna hijab, dengan fokus pada pelanggan dari brand hijab tertentu, yaitu Vanilla Hijab. Pengamatan terhadap perilaku kelompok ini menggunakan fantasi, yang menekankan bagaimana individu mencapai realitas bersama melalui komunikasi. Individu dalam kelompok melakukan perilaku melihat realitas bersama yang dipandu oleh cerita yang merefleksikan bagaimana realitas dikonfirmasi. Penguatan realitas bersama diulang melalui prestasi pribadi, kelompok, atau komunitas dan mengambil bentuk cerita atau dongeng. Dalam meneliti tema fantasi kelompok pelanggan hijab, peneliti menggunakan metode penelitian studi kasus kualitatif dengan melakukan wawancara dengan pelanggan perempuan Vanilla Hijab. Produsen menggunakan media sosial Instagram tidak hanya untuk menginformasikan kepada publik tentang aktivitas Vanilla Hijab dan memperkenalkan produknya, tetapi juga untuk membangun keterlibatan komunitas dan menerima masukan dari audiens yang tersegmentasi.

Berdasarkan tujuan artikel ini, peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial sangat penting bagi pertumbuhan bisnis Vanilla Hijab dan komunikasi dengan pelanggan potensial dan eksisting.Produsen Vanilla Hijab membentuk pola komunikasi pelanggan melalui media massa dengan audiens target yang aktif dan dapat memilih dan menyesuaikan informasi yang diberikan.Individu melakukan komunikasi baru dengan anggota kelompok komunitas lain yang memiliki tujuan serupa berdasarkan kesamaan tertentu.Keberadaan komunitas ini juga menghasilkan aliran komunikasi bertema fantasi yang konstan antara anggotanya.Setiap anggota komunitas mengetahui dan mengikuti tema yang sedang berlangsung untuk tetap relevan.Dari pengamatan bagaimana individu menggunakan cerita, ritual, simbol, dan aktivitas lainnya untuk menghasilkan dan mereproduksi serangkaian pemahaman yang menciptakan budaya kelompok (Littlejohn, 2017), dapat disimpulkan bahwa budaya kelompok Masyarakat Vanilla Hijab melahirkan konsumerisme dan kompetisi di antara anggotanya, di mana masing-masing berusaha mempertahankan eksistensinya di masyarakat.Kompetisi di antara pelanggan menjawab pertanyaan penelitian tentang pola komunikasi dan tema fantasi yang diciptakan oleh kelompok.Meskipun semua peserta adalah pengguna media sosial dan anggota komunitas Vanilla Hijab, penelitian masa depan dapat memanfaatkan studi ini dan mengeksplorasi perspektif yang berbeda, yang mungkin memberikan solusi bagi berbagai pihak seperti industri, perusahaan, atau akademisi.

Saran penelitian lanjutan dapat mencakup: 1. Menganalisis dampak penggunaan media sosial pada perilaku konsumen, khususnya dalam hal pembentukan identitas dan ekspresi diri. 2. Meneliti strategi komunikasi merek lainnya dalam membangun komunitas online dan mengukur keberhasilannya dalam mencapai tujuan bisnis. 3. Mengeksplorasi peran influencer media sosial dalam mempromosikan produk dan merek, serta pengaruhnya terhadap perilaku konsumen dan keputusan pembelian.

  1. Hijab Fantasy on Instagram: Community Fantasy Theme for Vanilla Hijab Brand | Jurnal Komunikasi Ikatan... doi.org/10.25008/jkiski.v9i1.949Hijab Fantasy on Instagram Community Fantasy Theme for Vanilla Hijab Brand Jurnal Komunikasi Ikatan doi 10 25008 jkiski v9i1 949
Read online
File size433.97 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test