UEUUEU

NUTRIRE DIAITANUTRIRE DIAITA

Wasting pada anak dan balita menjadi kondisi kesehatan darurat akibat tidak seimbangnya pemberian gizi salah satunya protein hewani telur, daging/ikan selain pemberian asi. Menurut data BPS tahun 2023 dinyatakan bahwa konsumsi telur penduduk Indonesia hanya 10 butir perbulan sedangkan berdasarkan anjuran 1 butir telur dikonsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi dan pendampingan Self efficacy dengan tambahan pemberian telur 1 butir perhari terhadap status gizi balita wasting. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dan uji yang dilakukan adalah uji univariat, bivariat dengan T-Test Independen two tail dan T-Test Dependen. Kedua kelompok ini menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balita wasting, tetapi kenaikan status gizi kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Penurunan angka balita wasting pada kelompok intervensi terlihat sebanyak 10 anak (33,33%), sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 8 anak (26,67%). Terjadi kenaikan status gizi dengan pendampingan self-efficacy dan juga dengan pemberian 1 telur setiap harinya namun kenaikannya tidak signifikan pada kelompok intervensi terhadap kontrol. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan pendampingan setiap minggu dan waktu yang lebih dari 28 hari sehingga akan menghasilkan hasil yang lebih baik.

Edukasi dan pendampingan self‑efficacy ibu dengan tambahan telur harian meningkatkan status gizi balita, terlihat dari kenaikan Z‑score dan penurunan wasting pada kelompok intervensi.namun peningkatan belum signifikan karena durasi intervensi yang singkat.Kelompok kontrol juga mengalami peningkatan gizi, meskipun lebih rendah, dipengaruhi faktor asupan gizi lain dan konsistensi edukasi.Oleh karena itu diperlukan intervensi yang lebih lama dan intensif untuk menghasilkan perubahan yang stabil.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efek memperpanjang durasi intervensi menjadi 60 hari atau lebih untuk melihat dampak jangka panjang pada status gizi balita; selanjutnya, perlu dilakukan perbandingan antara pendampingan self‑efficacy yang diberikan secara mingguan versus dua mingguan bersama dengan suplementasi telur untuk menentukan frekuensi optimal yang memaksimalkan peningkatan gizi; terakhir, penelitian dapat mengevaluasi penggunaan aplikasi digital One Day One Egg dalam meningkatkan kepatuhan ibu terhadap konsumsi telur serta dampaknya pada status gizi balita di berbagai kelompok sosial‑ekonomi, guna mengidentifikasi strategi teknologi yang paling efektif dalam konteks komunitas.

Read online
File size536.01 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test