UnnasUnnas

SARGA: Journal of Architecture and UrbanismSARGA: Journal of Architecture and Urbanism

Wayang Thengul merupakan salah satu kesenian tradisional dari Kabupaten Bojonegoro yang sudah diakui oleh Hak Kekayaan Intelektual dan diperkenalkan oleh pemerintah sebagai seni pertunjukan khas Bojonegoro. Akibat pengaruh modernisasi, kesenian ini sudah mulai luntur dan dilupakan karena berkurangnya minat dan motivasi generasi muda untuk melestarikannya. Apalagi di Bojonegoro sendiri sangat minim akan fasilitas yang mampu mewadahi seluruh aktivitas yang berkaitan dengan kesenian Wayang Thengul baik sebagai pelatihan hingga pertunjukan. Kebanyakan fasilitasnya hanya sebatas rumah sang dalang yang digunakan juga sebagai sanggar pelatihan. Untuk mempertahankan nilai-nilai dari kearifan lokal tersebut diperlukan upaya sebuah fasilitas yang berperan sebagai wadah wisata edukasi budaya kepada masyarakat dengan menerapkan tema Extending Tradition sebagai pendekatan arsitekturnya. Tema ini diterapkan agar masyarakat dapat mempelajari ilmu budaya yang ada sehingga tertanam suatu kebanggaan terhadap budaya di daerahnya. Metode pendekatan desain ini menggunakan tradisi lokal sebagai ide dasar desain dan memodifikasinya agar sesuai dengan masyarakat modern. Konsep desainnya meliputi pada bagian pertapakan, perangkaan, peratapan, persungkupan dan persolekan.

Fasilitas kesenian Wayang Thengul dirancang dengan pendekatan Extending Tradition, menggabungkan nilai-nilai tradisi lokal Bojonegoro dan rumah Jawa dengan unsur modern untuk memenuhi kebutuhan kontemporer.Konsep desain ini mencakup lima aspek arsitektur, yaitu pertapakan, perangkaan, peratapan, persungkupan, dan persolekan, di mana setiap elemen tradisional diadaptasi sesuai perspektif dan kebutuhan masa kini.Pendekatan ini terbukti efektif untuk pelestarian budaya yang hampir terlupakan, sehingga masyarakat dapat mempelajari dan menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah mereka.

Penelitian ini telah berhasil merancang konsep fasilitas kesenian Wayang Thengul dengan pendekatan Extending Tradition, namun ada beberapa arah studi lanjutan yang dapat memperkaya pemahaman dan keberlanjutan proyek ini. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan studi mendalam mengenai bagaimana desain fasilitas ini, setelah dibangun dan dioperasikan, benar-benar memengaruhi minat dan partisipasi generasi muda dalam melestarikan Wayang Thengul, serta efektivitasnya dalam menarik wisatawan edukasi budaya. Penelitian dapat menganalisis apakah konsep arsitektur yang menggabungkan tradisi dan modernitas ini benar-benar mampu menciptakan rasa kebanggaan budaya yang diharapkan, melalui survei langsung kepada pengunjung dan komunitas lokal. Kedua, penting untuk mengeksplorasi potensi pengembangan konsep Extending Tradition ini lebih lanjut pada kesenian tradisional Bojonegoro lainnya yang juga terancam punah, atau bahkan pada skala regional di Indonesia. Ini bisa melibatkan studi komparatif untuk melihat bagaimana prinsip desain yang sama dapat diadaptasi secara kontekstual untuk jenis seni dan budaya yang berbeda, sambil tetap mempertahankan identitas lokal masing-masing. Terakhir, untuk memastikan keberlanjutan fasilitas jangka panjang, diperlukan penelitian tentang model bisnis dan strategi pengelolaan yang inovatif. Studi ini bisa mencakup analisis kelayakan ekonomi, potensi kemitraan dengan sektor pariwisata atau pendidikan, serta mekanisme pendanaan berkelanjutan agar fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian, tetapi juga dapat mandiri secara finansial dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat Bojonegoro.

Read online
File size1.24 MB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test