UPDMUPDM

Jurnal Dinamika Ilmu KomunikasiJurnal Dinamika Ilmu Komunikasi

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus kekerasan dan peristiwa traumatik pada anak di Indonesia yang membentuk luka batin (inner child wound). Fenomena ini berdampak signifikan pada emosi, hubungan interpersonal, dan perilaku seseorang saat dewasa, termasuk potensi depresi. Tujuan penelitian adalah untuk menafsirkan representasi luka batin anak pada karakter Sita dan Adil dalam film Siksa Kubur karya Joko Anwar sebagai media komunikasi audio-visual. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika John Fiske yang mencakup level realitas, representasi, dan ideologi. Penelitian ini juga menerapkan konsep luka batin Carl Jung, yang mencakup abandonment, guilt, trust, dan neglect wounds. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka batin Sita dan Adil termanifestasi melalui sistem tanda visual dan naratif dalam film. Penggambaran luka batin ditemukan dalam berbagai scene dan luka batin tersebut digambarkan melalui dua jenis luka batin yang berbeda, yaitu adanya guilt wound akibat kematian orang tua dan trust wound terhadap agama yang menjadi pendorong utama tindakan destruktif kedua karakter dewasa tersebut. Kesimpulannya, dalam film ini luka batin anak direpresentasikan melalui sikap yang menjadi akumulasi pengalaman traumatis dan kegagalan komunikasi interpersonal di masa kecil. Dimana trauma dan kegagalan terus menetap dan memengaruhi kepribadian seseorang hingga dewasa ketika emosinya tidak terselesaikan secara tuntas.

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul Representasi luka batin anak pada karakter Adil dan Sita dalam film Siksa Kubur karya Joko Anwar mengambil kesimpulan dalam film ini luka batin anak direpresentasikan melalui sikap yang menjadi akumulasi pengalaman traumatis dan kegagalan komunikasi interpersonal di masa kecil.Dimana trauma dan kegagalan terus menetap dan memengaruhi kepribadian seseorang hingga dewasa ketika emosinya tidak terselesaikan secara tuntas.Menggunakan teori semiotika John Fiske (level realitas, Level Representasi, dan Level Ideologi) mendapatkan kesimpulan sebagai berikut.Representasi luka batin anak ditunjukan melalui perbedaan perilaku dan ekspresi yang kontras antara Sita dan Adil sebagai dampak dari peristiwa trauma masa kecil.Sita direpresentasikan sebagai sosok yang lebih sigap, pemberani namun menyimpan kemarahan dan rasa tidak ikhlas yang mendalam.Sementara itu, Adil direpresentasikan melalui sikap yang kaku, pasif, dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial (inrovert) yang terlihat dari ekspresi kosong dan kurangnya perhatian terhadap penampilan diri di masa dewasa.penggunaan teknik kamera seperti dolly zoom dan close-up secara efektif mempertegas emosi ketakutan, kesedihan dan keterpurukan mental para karakter.Pencahayaan yang dramatis (kombinasi kuning dan redup) serta latar tempat yang suram (ruang cuci baju, rusunawa, dan rumah sakit) memperkuat atmosfer ketegangan psikologis yang dialami karakter akibat luka batin yang belum sembuh.penelitian in menemukan adanya pengaruh ideologi Patriaki dalam struktu keluarga di mana peran laki-laki lebih didominasi dalam pengambilan keputusan awal.Selain itu, terdapat ideologi Individualisme yang muncul melalui karakter Sita.ia terjebak dalam keputsasaan masa lalu dan perasaan egois yang muncul sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dari trauma.Film ini berhasil merepresentasikan bahwa luka batin anak (inner child) yang tidak ditangani dengan tuntas akan terus membekas dan mempengaruhi fungsi sosial individu hingga dewasa.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: 1. Menganalisis resepsi penonton terhadap isu luka batin dalam film horor, untuk melihat bagaimana masyarakat memaknai dan merespons tema ini secara langsung. 2. Mengeksplorasi lebih dalam korelasi simbol-simbol dogma keagamaan dalam film horor yang bersinggungan dengan trigger trauma psikologis masyarakat, untuk memahami bagaimana representasi agama dalam film dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku penonton. 3. Meneliti dampak kegagalan komunikasi interpersonal dalam keluarga dan lingkungan terhadap perkembangan kepribadian anak, serta bagaimana hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan sosial individu hingga dewasa. Dengan menggabungkan analisis semiotika, psikologi, dan studi komunikasi massa, penelitian lanjutan ini dapat memberikan kontribusi lebih mendalam dalam memahami representasi luka batin anak dalam media massa dan dampak sosialnya.

  1. (PDF) ANALISIS NARATIF, ANALISIS KONTEN, DAN ANALISIS SEMIOTIK (Penelitian Kualitatif). analisis naratif... researchgate.net/doi/10.13140/RG.2.2.21963.41767PDF ANALISIS NARATIF ANALISIS KONTEN DAN ANALISIS SEMIOTIK Penelitian Kualitatif analisis naratif researchgate doi 10 13140 RG 2 2 21963 41767
  2. REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM RUDY HABIBIE (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE) |... jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/HERITAGE/article/view/1565REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM RUDY HABIBIE STUDI ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE jurnal yudharta ac v2 index php HERITAGE article view 1565
  3. Jurnal Audiens. jurnal audiens main navigation content sidebar open access journal published department... journalaudiens.umy.ac.id/index.php/jaJurnal Audiens jurnal audiens main navigation content sidebar open access journal published department journalaudiens umy ac index php ja
Read online
File size398.84 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test