IAIKHOZINIAIKHOZIN

Jurnal Studi Islam dan SosialJurnal Studi Islam dan Sosial

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menguatnya eksklusivisme Islam di Indonesia yang tidak hanya bersumber dari perbedaan teologis, tetapi juga dari relasi kekuasaan dalam masyarakat pascakolonial. Kelompok-kelompok tertentu sering diposisikan sebagai subaltern, yakni pihak yang termarginalkan dalam wacana dominan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi eksklusivisme Islam melalui relasi hegemonik serta posisi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan jaringan Tarbiyah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam diskursus keagamaan dan politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima informan, studi literatur, dan analisis wacana keagamaan-politik pascareformasi. Analisis dilakukan dengan perspektif pascakolonial dan konsep subaltern untuk mengidentifikasi pola dominasi dan resistensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksklusivisme Islam merupakan konstruksi relasi kekuasaan hegemonik. LDII termarginalkan melalui stigma sebagai kelompok menyimpang, sedangkan PKS, meskipun kuat secara elektoral, tetap mengalami marginalisasi dalam ranah sosial-kultural akibat label Islam politik. Keduanya melakukan negosiasi identitas untuk memperoleh legitimasi. Temuan ini memberikan pemahaman baru bahwa fenomena eksklusivisme tidak hanya berakar pada persoalan teologis, tetapi juga merupakan hasil dari konstruksi sosial dan politik yang menempatkan kelompok tertentu dalam posisi subaltern.

Penelitian ini menunjukkan bahwa eksklusivisme Islam dalam ruang publik Indonesia merupakan manifestasi dari dinamika kekuasaan pascakolonial yang memelihara struktur hegemoni keagamaan.Melalui analisis terhadap LDII dan gerakan Tarbiyah PKS, dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok ini menempati posisi sebagai subaltern, namun dengan karakteristik marjinalisasi yang berbeda.Pertama, LDII mengalami marginalisasi pada level teologis dan sosiologis, di mana mereka terus diposisikan sebagai kelompok sesat dan menyimpang.Meskipun telah melakukan berbagai upaya adaptasi sosial, suara asli mereka tetap tidak mampu menembus tembok ortodoksi yang dijaga oleh kelompok Islam arus utama.Kedua, gerakan Tarbiyah PKS merepresentasikan subalternitas dalam ranah politik nasional.Walaupun memiliki kekuatan elektoral yang signifikan, mereka tetap terjepit dalam stigma sebagai agen islamisasi transnasional yang dianggap mengancam ideologi negara, sehingga akses mereka terhadap legitimasi sosial yang inklusif tetap terbatas.Secara teoretis, eksklusivisme keagamaan di Indonesia bukan sekadar perbedaan tafsir, melainkan alat kontrol bagi kelompok dominan untuk menetapkan standar ortodoksi.Kelompok mayoritas menggunakan otoritas ini untuk membungkam variasi praktik keagamaan kelompok lain, menjadisikannya subaltern yang suaranya ada namun tidak didengar.Akhirnya, selama agama hanya dipahami dalam kerangka kekuasaan dan standar kebenaran tunggal, ruang bagi kaum marginal akan terus ada, dan keadilan substantif dalam masyarakat beragama di Indonesia akan sulit tercapai.

Berdasarkan temuan penelitian ini, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam tentang bagaimana kelompok-kelompok subaltern seperti LDII dan PKS membangun strategi adaptasi dan negosiasi identitas dalam konteks masyarakat pascakolonial. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana mereka menavigasi antara mempertahankan identitas keagamaan mereka dengan memperoleh legitimasi sosial yang lebih luas. Kedua, penelitian dapat mengeksplorasi bagaimana wacana mayoritas dan praktik sosial-keagamaan mempengaruhi proses marginalisasi dan resistensi dalam komunitas Muslim Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana relasi kekuasaan dan konstruksi sosial membentuk posisi kelompok-kelompok subaltern dalam masyarakat. Ketiga, penelitian lanjutan dapat mengkaji lebih lanjut tentang bagaimana kelompok-kelompok subaltern seperti LDII dan PKS berinteraksi dengan kelompok mayoritas dalam diskursus keagamaan dan politik. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam memahami dinamika kekuasaan dan negosiasi identitas dalam masyarakat yang plural.

  1. PERAN PENYULUH AGAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MARGINAL | Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam. peran penyuluh... doi.org/10.32332/jbpi.v5i2.7914PERAN PENYULUH AGAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MARGINAL Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam peran penyuluh doi 10 32332 jbpi v5i2 7914
  2. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya. method da role political economy jemaah tarbiyah urban... journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/article/view/14591Wawasan Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya method da role political economy jemaah tarbiyah urban journal uinsgd ac index php jw article view 14591
  3. Portal Jurnal LP2M SASBABEL. portal jurnal lp2m sasbabel akses artikel silahkan kunjungi web disini ilmiah... doi.org/10.32923/kjmp.v6i2.3949Portal Jurnal LP2M SASBABEL portal jurnal lp2m sasbabel akses artikel silahkan kunjungi web disini ilmiah doi 10 32923 kjmp v6i2 3949
Read online
File size418.54 KB
Pages28
DMCAReport

Related /

ads-block-test